Pelukan Terakhir Ayah saat Tahu Anaknya Positif HIV

Kenakalan remaja yang dekat dengan narkoba mengantar Gim Gim Sofyan (35) menjadi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Hingga akhirnya pada 2005, dia dinyatakan positif tertular HIV setelah memeriksakan diri ke dokter.

Awalnya, sama sekali tidak terlintas dalam pikiran pria yang akrab disapa Bogiem itu akan terinfeksi HIV. Tiba-tiba, seorang sahabat dekatnya meninggal. Tak lama berselang, seorang sahabatnya juga meninggal.

“Sebelum teman kedua meninggal, saya sempat jenguk dia. Dia cerita kena HIV dan nyuruh saya diperiksa ke dokter. Saya waktu itu enggak ngerti apa itu HIV,” ujar Bogiem.

Setelah itu, seorang sahabatnya yang lain dirawat di rumah sakit. Dia juga memberikan arahan agar Bogiem diperiksa untuk memastikan terkena HIV atau tidak. “Saya bingung waktu itu mau tes ke mana, di mana,” ucapnya.

Dia pun akhirnya menemukan tempat untuk memeriksakan diri. Hasilnya pun positif. “Waktu itu enggak parno, karena enggak tahu apa itu HIV. Saya pikir, ah enggak mungkin, itu mah penyakit bule,” tuturnya.

Setelah melewati berbagai proses, Bogiem pun meninggalkan narkoba yang membuatnya tertular HIV. Dia pun akhirnya tahu apa itu HIV. Tapi dia tidak memberi tahu orangtua soal penyakitnya.

Hal itu dipendam selama sekitar empat tahun. Dia mengaku bingung bagaimana menjelaskan penyakitnya pada orangtua. Hingga akhirnya pada 2009, sang ayah masuk ke kamar Bogiem.

Saat itu, sang ayah membaca buku-buku seputar HIV/AIDS di kamar Bogiem. Bogiem yang baru pulang dan masuk ke kamar pun kaget melihat sang ayah membaca buku. Sekira setengah jam, Bogiem keluar-masuk kamar dan tak berani mendekati ayahnya.

Hingga ahirnya sang ayah bertanya saat Bogiem terakhir masuk ke kamar. “Saya ditanya ini buku siapa? Bogiem HIV ya? Di situ saya bingung mau jawab apa, mau bohong juga bagaimana,” katanya.

Di tengah rasa takut dan kegalauan, Bogiem membenarkan bahwa dia terinfeksi HIV. Tanpa diduga, bukan amarah yang diperlihatkan sang ayah. Tapi dia justru mendapat pelukan erat.

“Bapak meluk saya sambil nangis. Dia bilang hampura bapak teu bisa ngurus maneh nu bener (Maaf bapak tidak bisa mengurus kamu dengan benar),” jelasnya.

Padahal, kata Bogiem, sang ayah sudah mendidiknya dengan benar. “Cuma saya saya yang nakal,” cetusnya.

Sang ayah dan Bogiem pun menangis sambil berpelukan. Sang ayah berpesan agar Bogiem sabar. Setelah memberi pesan, sang ayah turun dari kamar Bogiem yang ada di lantai dua rumahnya.

“Jarak satu jam kemudian, bapak saya pingsan di lantai satu,” ungkapnya.

Ayahnya yang punya riwayat penyakit jantung pun koma dan sempat dirawat di rumah sakit. Tak lama berselang, sang ayah menghembuskan napas terakhir. Itu yang kemudian jadi penyesalan terdalam Bogiem.

“Paling menyesal ketika membuka status (terinfeksi HIV) sama bapak. Saya merasa berdosa. Jauh-jauh hari sebetulnya saya mau ngomong. Tapi bingung nyari momen dan cara memberi penjelasan yang pas,” sesalnya.

Setelah ayahnya meninggal, Bogiem mengaku sempat terpuruk dan menyesali langkahnya yang membuatnya terinfeksi HIV. Tapi pelan-pelan dia bangkit.

Dia kini punya motivasi untuk menyuarakan agar jangan ada lagi orang yang terkena HIV. Dia aktif di Rumah Cemara, organisasi berbasis komunitas yang fokus pada edukasi dan penanggulangan HIV/AIDS.

(Oris Riswan/Sindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: