Kisah Pengidap HIV Yang Tetap Tegar Jalani Hidup

Ibarat seorang pendaki yang mendadak terperosok ke dalam lubang hitam yang tak berujung. Seperti itulah ungkapan hati yang dirasakan Unik Sulistyanti (35) saat pertama kali dirinya mendengar dan melihat jika dia telah dinyatakan tervonis mengidap HIV.

Unik sapaan karibnya tak berdaya kala itu. Perasaan ibu yang dikaruniai satu anak ini sontak campur aduk. Dia benar tak menyangka jika almarhum suaminya ternyata semasa hidup telah mengidap HIV. Secara otomatis, sebagai pasangan biologis, Unik praktis tertular penyakit yang merusak sistem kekebalan tubuh ini.

“2008 suami saya meninggal karena AIDS. Ternyata dia sudah lama mengidap HIV. Selama hidup dia tak mau jujur kepada saya jika dia memiliki riwayat penyakit kelamin. Almarhum sakit batuk tak kunjung sembuh hingga badannya kurus,” ungkap Guru honorer SDN Sambirejo 01 Semarang ini, usai acara sosialisasi HIV/AIDS oleh KPAID Kabupaten Semarang, di Ungaran.

Usai suami Unik meninggal, atas saran keluarga dan juga rekan kerja, akhirnya Unik beserta anaknya mengupayakan diri untuk mengecek secara rutin kesehatannya. Vonis dari Dokter menyatakan dia positif HIV pada 2012. Namun tidak dengan Eka Yulia Silviani (10), putri semata wayangnya ini dinyatakan negatif HIV.

“Hidup segan mati tak mau mas itu yang saya rasakan saat itu. Saya langsung drop. Seperti menerima tamparan keras saat mengetahui saya Postif HIV. Ya Alloh apa salah saya hingga harus menanggung kenyataan pahit ini. Saat itu pula saya sempat memutuskan ingin berhenti mengajar. Sudah tak ada semangat untuk hidup,” ujar Unik.

Namun, jelas Unik, semua penyesalan itu berhasil ditepisnya. Dia tersadar jika hidup dalam penyesalan hanya akan menyisakan tambahan masalah baru bagi dirinya. Apalagi, putri satu-satunya itulah yang selalu membuat dirinya kuat untuk terus melangsungkan hidup.

Perlahan, melalui sosialisasi HIV/AIDS yang rutin dia ikuti dan juga dukungan dari semua pihak. Unik akhirnya bangkit dari keterpurukan yang dia alami. Meski, ada sejumlah orang yang memandang dengan sebelah mata terhadapnya. Namun, ini tak jadi soal bagi warga Mranggen, Demak ini. Unik menganggap ini sebagai bagian dari kontroversi hidup yang tentunya harus tetap dia jalani.

Iyaaa… Unik kembali tegar menjalani aktifitasnya sehari-hari dengan normal. Terbersit keinginan dari hati kecil Unik agar pemerintah segera mengangkat statusnya menjadi PNS. Cita-cita ini tak lebih merupakan niatan dirinya untuk memperbaiki strata hidupnya.

Selama ini, gaji yang dia peroleh tak sebanding dengan kebutuhan hidupnya. Unik ingin hidup lebih baik lagi tentunya dengan memperoleh pendapatan yang layak.

” HIV/AIDS bukanlah sebuah masalah besar jika kita mau mempelajari secara gamlang apa itu penyakit ini. Biarlah yang ada orang yang tidak suka dengan saya toh itu hak mereka. Saya hanya ingin hidup normal seperti mahkluk sosial lainnya. Biarlah penyakit ini kami (ODHA) yang alami. Jangan sampai ditularkan kepada orang lain, ” ungkap Unik.

Hari demi hari pun berlalu, Unik yang sebelumnya pesimis tak ingin mencari pendamping hidup lagi, kini semakin tunduk dan percaya akan kebesaran sang kuasa.

Ibu bertubuh kurus ini tak mengira bakal dipertemukan oleh sosok pendamping baru. Image HIV yang selama ini menjadi momok bagi masyarakat cukup terbantahkan. Pada akhir 2013, Unik akhirnya dipinang oleh sesosok pria yang sangat mencintainya, Ahmadi (40). Tak peduli dengan penyakit yang diderita Unik, Warga Mranggen, Demak ini mengaku memutuskan menikahi Unik hanya karena atas dasar cinta.

Unik merupakan pasien dari Ahmadi. Ahmadi berprofesi sebagai seorang terapis klinik pengobatan tradisional.

“Saya terus menangis karena saya terharu ternyata masih ada seorang pria yang mau menerima keadaan saya apa adanya. Ketika saya beritahu akalu saya mengidap HIV, mas Ahmadi tidak kaget dan tidak mempermasalahkannya, ” ujar Unik.

Ahmadi sendiri meyakini bahwa semua manusia pada kodratnya diciptakan sama. Perasaan cinta yang dia miliki tidak dibuat-buat, perlahan tumbuh serta menguat dengan sendirinya tanpa adanya unsur paksaan.

“Sulit untuk mengungkapkannya. Pastinya dari hati yang paling dalam, saya sangat mencintai dik Unik. Tak ada siapapun yang dapat menghalanginya. Dik unik itu Istimewa bagi saya,” tutur Ahmadi.

Sementara, sebagai seorang terapis Ahmadi meyakini bahwa semua penyakit itu pasti ada obatnya. Namun semua itu harus diiringi dengan kesabaran, usaha dan juga doa. “Saya yakin, dik Unik pasti sembuh,” imbuh Ahmadi.

Devisi program KPA Kabupaten Semarang, Taufik Kurniawan, mengatakan, berbagai upaya setidaknya telah dilakukan oleh berbagai pihak guna menekan jumlah angka penderita HIV/AIDS. Legalnya keberadaan lokalisasi di suatu wilayah, serta diikuti kurangnya pemahaman masyarakat tentang HIV/AIDS dinilai menjadi satu diantara faktor penyebab meningkatnya penyebaran penyakit ini.

“Upaya apapun akan terus kami lakukan untuk mengurangi jumlah penderita HIV/AIDS. Kami rutin lakukan sosialisasi melalui relawan-relawan kami yang tersebar di berbagai tempat, ” kata Taufik. (Puthut Dwi Putranto)

Sumber : Tribun Jateng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: