Menjinakkan HIV Saat Puasa

Virus mematikan itu telah dua tahun mendekam di tubuh Ahmad. Juli 2006, dokter memvonis positif AIDS pada pria berusia 28 tahun itu. Tentu saja itu adalah penyakit yang sama sekali tidak ia inginkan. Dunia pun serasa gelap. Semangat hidupnya anjlok. “Saya butuh waktu satu tahun untuk recovery,” ia berkisah kepada Tempo, seusai buka puasa di salah satu rumah makan di Bekasi, beberapa waktu lalu.

Ketika divonis, jumlah CD4 (cluster of differentiation 4) atau daya tahan tubuhnya 800 alias normal. Tapi dengan kondisi seperti itu ia tidak boleh lelah. Jika menurun, virus tersebut bisa memicu risiko infeksi oportunistik atau penyakit penyerta. Ahmad diduga terjangkit melalui penggunaan jarum suntik narkotik beramai-ramai. Dalam rentang waktu 1997-1999, ia pecandu berat putaw. Bersama teman-temannya sesama pengguna, ia tidak pernah luput menyuntik tangannya. “Minimal satu kali sehari,” katanya sambil mengingat-ingat.

Kini, setelah AIDS menggerogoti tubuhnya, Ahmad baru sadar akan bahayanya. Tapi ia tidak ingin terus-terusan jatuh, apalagi sampai tidak berbuat sesuatu. Memiliki keterampilan di bidang komputer, ia bekerja sebagai programmer lepas dengan penghasilan di atas Rp 2 juta per bulan. Produktivitasnya sama sekali tidak menurun. Bahkan, selama Ramadan, ia tetap menjalankan ibadah puasa. Untuk menyiasati daya tahan tubuh agar tetap stabil, ia mengubah pola kerjanya dari siang hari ke malam hari.

Saban hari, Ahmad baru terjaga setelah pukul satu siang. Sampai petang, ia tidak melakukan apa-apa kecuali menunggu waktu berbuka puasa. Selepas salat tarawih, ia baru memulai aktivitasnya sampai waktu sahur dan tidur setelah salat subuh. Ahmad beruntung, jam kerjanya tidak mengikat sehingga ia bisa bekerja di rumah. Mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV), agar virus AIDS/HIV dalam tubuh tidak berkembang biak, dirasanya belum perlu. Ahmad memilih memperbanyak asupan makanan berprotein tinggi, kemudian buah-buahan, bahkan bisa makan banyak pada malam atau saat sahur.

* * * * *

Seperti Ahmad, Deden, pegawai Dinas Pasar Kota Bekasi, akhirnya harus menemui vonis positif AIDS setelah menjadi pecandu narkotik pada 1996-2002. Dalam rentang tujuh tahun itu, Deden tak pernah lepas dari jarum suntik putaw. “Saya bisa pakai putaw tiga kali sehari,” ujarnya.

Ketika divonis positif AIDS pada 2006, dia pun rutin mengkonsumsi obat antiretroviral. Uji CD4-nya sangat rendah, di bawah 200 sehingga upaya menjinakkan virus mematikan dalam tubuhnya itu harus disokong dengan obat. Saat ditemukan penyakitnya, ia juga terserang tuberkulosis (TB). Organisasi Kesehatan Dunia menetapkan penderita dengan jumlah CD4 di bawah 350 harus mengkonsumsi obat antiretroviral. Fungsinya, untuk menjinakkan virus AIDS di dalam tubuh agar tidak semakin tumbuh subur.

Obat antiretroviral yang dikonsumsi Deden ada dua jenis, neviral dan deviral. Masa aktif obat tersebut maksimum 12 jam sehingga harus dikonsumsi dua kali sehari, dan tidak boleh telat. Pada hari-hari biasa, Deden mengkonsumsi obat tersebut pada pukul 6.00 dan 24.00.

Selama puasa, ia menggeser jadwalnya pada waktu berbuka puasa dan saat sahur. Untuk menunjang staminanya tetap prima, pria berusia 35 tahun itu rutin berolahraga pada malam hari, satu sampai dua jam, minimal tiga kali seminggu. Siang hari, Deden tetap bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Dia masuk kerja pukul 08.00 dan baru pulang pada pukul 15.00. Dia bertekad menjalani hidupnya seperti halnya orang sehat pada umumnya: bekerja dan bermasyarakat dengan baik.

Novan Andri Purwansjah, Program Direktur Mitra Sehati, Bekasi, sebuah lembaga sosial masyarakat untuk informasi dan pendampingan penderita HIV/AIDS, menyatakan penggunaan jarum suntik narkotik paling rentan menularkan virus HIV/AIDS. Dari total 999 kasus HIV/AIDS selama rentang waktu 1998-2008, 72 persen di antaranya tertular melalui jarum suntik. Selebihnya, golongan pekerja seks komersial dan homoseksual. “Yang bisa dilakukan setelah mereka dinyatakan positif adalah memberi dukungan agar tidak menularkan penyakit tersebut ke orang lain,” kata Novian.

Deden maupun Ahmad sama-sama berharap masih ada jalan terang bagi mereka. Di bulan suci Ramadan kali ini, limpahan rahmat dan pintu tobat semoga masih terbuka lebar. Menikah–sekalipun dengan sesama penderita HIV/AIDS–menjadi agenda besar tahun ini.

Sumber : Hamluddin / Tempo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: