5 cara gue menghadapi diskriminasi Odha

Gue pernah mengalami yang namanya dibeda-bedakan dan dikucilkan karena gue seorang ODHA, rasanya sangat tidak mengenakkan, dan membuat gue sedih. Awalnya, gue mengira itu adalah hal wajar yang dialami oleh ODHA, karena bukan ternyata beberapa temen gue yang lain juga pernah punya pengalaman yang sama.

Setelah gue pelajari, ternyata pembedaan dan pengucilan itu yang disebut diskriminasi, ketika kita dibeda-bedakan karena status sosial kita, termasuk juga kalau itu karena status kita sebagai ODHA. Permasalahan ini tidak bisa dianggap sepele karena bisa menimbulkan efek yang buruk bagi yang menerimanya.

Gue juga pernah merasakan yang namanya “diceramahin” oleh dokter gue dengan ceramah gue harus tobat dan sebagainya ketika status gue dinyatakan positif, dan gue merasa tidak nyaman. Beberapa teman gue menolak buat datang ke klinik HIV karena merasa didiskriminasi, bahkan karena diskriminasi di lingkungan kerjanya, ada teman gue yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.

But gue, I am done! I got to speak up, gue punya beberapa cara buat gue bisa menghadapi diskriminasi yang gue pelajari dari sekian lama diskriminasi yang gue alami yang mungkin bisa Loe pake juga.

Ketahui dulu

Kadang gue sering gak tau mana yang namanya diskriminasi dan mana yang namanya bercanda. Pun gue juga sering melakukan diskriminasi—dulu. Itu artinya gue perlu tahu mana yang namanya diskriminasi atau bukan. Menurut kamus Merriam-Webster yang gue baca, diskriminasi adalah praktek yang tidak adil terhadap seseorang atau grup dari orang-orang lain. Nah ketika gue merasa diperlakukan tidak adil, itu yang namanya diskriminasi. Serta ketika membuat diri kita tidak nyaman, juga bisa dikatakan sebagai diskriminasi. Misalnya ketika gue akses layanan kesehatan, dokter malah menceramahi tentang orientasi seks atau perilaku seks dengan dalil-dalil agama. Sementara yang lain tidak dilakukan demikian. Gue sudah bisa mendefinisikan, inilah diskriminasi.

Omongin!

Gue adalah tipe orang yang cuek, tapi setelah gue tau bahwa diskriminasi gak boleh didiamkan, I must speak out. Misalnya Gue merasa gak nyaman dengan dokter Gue karena dia nyeramahin. Gue omongin, bahwa hal itu membuat diri gue tidak nyaman. Bisa saja orang yang mendiskriminasi gue ternyata tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah menghina gue. Tapi bukan ngomongin di belakang ya Guys. Ngomongin di belakang tidak akan mengurai masalah, justeru akan menambah masalah. Karena mendiamkan kesalahan adalah sebuah kejahatan (Soe Hok Gie).

Laporkan!

Ketika diskriminasi yang gue rasakan sudah mencapai puncaknya dan bahkan sudah sampai tindakan fisik. Itu artinya gue harus berani melapor pada pihak berwajib. Karena gue hidup di Negara hukum, Negara dimana kita dilindungi oleh hukum. Menurut UUD Pasal 28B: Setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Bagi gue, gue harus melapor. Tapi itu kembali lagi kepada loe, apakah loe siap untuk melaporkan atau tidak. Bagi gue, membalas kejahatan juga bentuk kejahatan jadi gue tidak membalas pukulan dengan pukulan. Sehingga gue memilih untuk melapor kepada pihak yang berwajib.

Break the Chain!

Ketika gue sudah sadar bagaimana diskriminasi bisa berdampak pada seseorang. Nah, gue gak mau kalau gue sendiri jadi orang pelaku diskriminasi. Karena pada dasarnya diskriminasi dilakukan karena tidak sadar, makanya segala sesuatu yang gue lakukan harus berasaskan pada hak-hak manusia. Ketika gue sudah merasakan gak enaknya mendapatkan diskriminasi, gue gak mau orang lain mendapatkan diskriminasi serupa.

Lo gak sendirian!

Faktanya, tidak sedikit ODHA yang mendapatkan diskriminasi, mulai dari di layanan kesehatan hingga di ranah pendidikan. Ini artinya, diskriminasi ini bukan terjadi pada gue saja. Gue gak mau diskriminasi ini terjadi terus menerus, dan melembaga di Negara kita. Sehingga gue memilih untuk speak-out dengan cara gue bergabung dengan organisasi Kelompok Dukungan Sebaya, yang membuat gue merasa tidak sendirian dan bisa membantu menyuarakan nasib gue.

Itu semua pengalaman gue, dan berdasarkan apa yang gue lakukan. Gue selalu percaya, satu kejadian adalah kebetulan, namun kejadian yang berulang adalah sebuah fakta yang tidak bisa didiamkan.

(sumber: guebisa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: