Kisah pilu ibu rumah tangga terinfeksi HIV suaminya

Adalah Radiaz Hages Triandha (34), wanita cantik yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan mengalami masa-masa kelam. Hages adalah pengidap HIV Aids atau yang biasa disebut dengan ODHA (Orang Dengan HIV Aids).

Semasa remaja, Hages bukanlah wanita yang pernah terjun di dunia kelam seperti dunia narkotika ataupun seks bebas. Lantas bagaimana Hages bisa terjangkit HIV?

Kisah kelam Hages dimulai tahun 2006 silam. Saat itu, dia diketahui positif terinfeksi HIV. Rupanya, dia tertular dari suami pertamanya, yang meninggal di tahun yang sama saat dia divonis positif HIV.

Awalnya, dia tidak tahu bahwa suaminya positif HIV. Namun, dia tahu bahwa suaminya adalah mantan pengguna narkoba suntik yang berisiko tertular HIV. “Ketika menikah pada tahun 2005, dia sudah lama sekali berhenti. Sudah tidak pakai lagi. Saya juga melihat dia sehat-sehat saja. Memang dia mengaku ada hepatitis,” tuturnya.

Tak lama setelah menikah Hages pun mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun kebahagiaan pengantin baru tersebut tidak berlangsung lama. Ketika putra mereka berusia satu bulan, tiba-tiba suami Hages jatuh sakit dan kondisinya terus menurun. Bahkan sang suami tidak dapat makan karena di mulutnya telah tumbuh jamur.

Ketika hasil lab keluar, jawabannya membuat dunia Hages seakan runtuh seketika. Suaminya tenyata positif terinfeksi HIV. Mengetahui suaminya positif, Hages pun khawatir bahwa dirinya dan putranya juga terjangkit HIV.

Hages berinisiatif menjalani tes yang sama. Ternyata hasilnya negatif. Hal itu membuat dia berpikir, bayinya pasti juga tidak tertular. “Saya lega, itu artinya saya dapat menyusui bayi saya.” katanya

Dengan sabar dan tabah, Hages merawat suami dan bayinya. Kondisi sang suami pun berangsur baik setelah menjalani terapi antiretroviral (ARV). Terapi itu untuk melawan infeksi akibat Human Immuno Deficiency Virus.

Namun, ujian kembali harus dihadapi Hages. Menginjak usia tiga bulan, tiba-tiba bayinya muntah-muntah dan mengalami diare akut, sehingga harus dirawat di rumah sakit. Saat itulah Hages mulai curiga bayinya juga terinfeksi HIV. Dia pun membawa anaknya menjalani tes HIV, dan ternyata hasilnya positif.

Hages pun kemudian segera menjalani tes yang sama. Hasilnya, dia juga terinfeksi. Dia tidak mengira akhirnya positif HIV karena tes sebelumnya negatif. “Kata dokter, sebenarnya itu masa jendela. Jadi, virus sudah ada dalam tubuh, tapi belum menunjukkan dirinya,” terang Hages.

Namun Hages masih menunggu secercah harapan dari dokter. Dokter berkata bahwa sebelum bayi berusia 18 bulan masih meminjam sistem imun ibunya, oleh sebab itu yang terdeteksi adalah sistem imun milik ibunya. Dokter memberi harapan bahwa setelah berusia 18 bulan maka anaknya bisa saja negatif HIV.

Walau begitu Hages masih belum bisa tenang, apalagi setelah keluarga besarnya tahu. Merasa dibohongi oleh pihak suami, keluarga Hages memutuskan untuk merawat Hages dan anaknya sedangkan sang suami diurus oleh keluarganya sendiri.

Depresi yang dirasakan suaminya semakin berat setelah mengetahui Hages dan anaknya terinfeksi. Akibatnya HIV semakin kuat menggerogoti tubuhnya, hingga akhirnya suami Hages meninggal dunia. Kehilangan suami membuat Hages putus asa. Ketika melihat jenazah suaminya di peti, dia berpikir, satu generasi akan habis. Setelah suaminya meninggal, dia dan anaknya juga akan menyusul.

Cobaan bertubi-tubi yang harus dihadapi Huges membuatnya sempat terpuruk. Dengan cemas dia menunggu anaknya berusia 18 bulan.

Berita membahagiakan pun datang ketika putra Hages berusia 18 bulan dan setelah dites dinyatakan negatif HIV. Semangat Hages pun mulai muncul kembali, dia mulai bersemangat menjalani terapi ARV walau dia tahu efek sampingnya sangat menyakitkan.

Masa-masa tersulit bagi seorang ODHA pun harus dilewati oleh Hages. Dia harus berjuang melawan efek samping yang ditimbulkan akibat terapi ARV yang dijalaninya. “Saat itu benar-benar masa tersulit bagi saya. Bayangkan, tiga bulan lamanya saya nggak bisa bangun. Selain itu saya terus muntah, tanpa ada makanan yang bisa masuk,” urainya

Semangat untuk melihat anaknya tumbuh dewasa membuat Hages terus bertahan. Hages pun rajin mengikuti kegiatan bersama ODHA lainnya. Perlahan tapi pasti kebahagiaan mulai menghampiri Hages. Kegiatan tersebut mempertemukannya dengan Samsu Budiman, yang akhirnya menjadi suaminya. Sebagai ODHA mereka berdua kemudian mendirikan LSM yang diberi nama LSM Kuldesak yang bergerak dibidang pencegahan dan penanggulangan HIV Aids.

Sumber : Brilio

Satu tanggapan untuk “Kisah pilu ibu rumah tangga terinfeksi HIV suaminya

  • 14 November 2017 pada 5:57 am
    Permalink

    Kisah mba Hages bgtu menyemangati sy utk pantang menyerah. Karna saat ini sy msh fase jendela, akhir bln nov nanti 3 bln dr pemeriksaan pertama.
    Suami 27 Oktober 2017 baru saja meninggal dunia karna komplikasi infeksi HIV, diabetesnya, pendarahan efek kanker usus(ketahuan saat operasi ambeien internal sblm alm meninggal dunia).

    Bermula dr 21 Juli suami demam panjang yang tdk kunjung sembuh. Hasil awal tes ternyata mengalami typhus yg panjang. Akhirnya dokter meminta sy utk memperbolehkan tes anti HIV & CD4. Awalnya sy sgt marah karena km jauh dr hdp kelam. HIngga tgl 25 Agustus hsl tes pun keluar dg berbagai metode, menyatakan suami reaktif. Sejak saat itu suami sdh tdk memilki semangat hidupnya, berbeda dg sy yg yakin semua penyakit pasti ada obatnya. Makanya sy trus memotivasi beliau, walau km tdk tau dr mana asal virus tsb.

    Dokterpun merujuk k RSCM, di pokdisus disana awal keinginan byk tau suami ttg ini semua & semangat utk sembuh. Saat kesana suami msh dlm kondisi lemah pasca sembuh typhus. Tp beberapa minggu bolak balik k RSCM malah smkn melemahkn sistem imunnya(karna suami tdk diberikan langsg obat ARV). Akhirnya suami mulai terserang batuk panjang yg tdk sembuh & jamur di mulutnya membuat susah utk menelan makanan. Tgl 29 Agustus sy bareng cek anti HIV, suami pengecekan dahak & CD4 karna rs yg awal hsl CD4 blum keluar. Alhamdulillah sy semua nonreaktif, itu rasa syukur kpd Allah. Sy benar2 merasakan nikmat sehat itu. Karna klau km berdua skt siapa yg akan merawat km bgtu jg dg 3 anak-anak km.

    Hsl rontgen suami terdeteksi TB paru bgtu jg hsl tes darah & dahaknya.
    Selama konsumsi obat TB paru suami sgt susah asupan makanan bergizi yg masuk. Hanya susu saja & oatmeal yg bs masuk k tbhnya. Selain itu diare yg tiada henti, menyebabkan suami srg mengalami dehidrasi berat.

    Tepat sbulan konsumsi obat TB paru suami, mengalami sesak nafas & kerusakan pd fungsi hati seluruh tubuhnya kuning. Km melarikan ke rs.Paru cisarua bogor, disana langsung ditangani khusus oleh dokter paru yg biasa menangani TB paru efek infeksi HIV. Lama pengobatan disana 3 minggu tp dg kondisi tubuhnya smkn byk infeksi2 dialaminya. Akhirnya 2 hari mengalami tdk sadarkan diri…hari jum’at jam 10.30 akhirnya suami meninggalkan km semua.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: