Dari Hancur Lebur hingga Jadi Penggerak Komunitas Peduli AIDS

Selama belasan tahun, Tommy Rendro Sukmono Hadhe (40), kecanduan narkoba. Dia kerap menggunakan jarum suntik untuk memasukkan barang haram itu ke tubuhnya.

Tidak peduli jarum suntik itu steril atau tidak, dia juga kerap bergantian dengan temannya sesama pemakai narkoba. Sampai akhirnya pada tahun 2006, Tommy divonis positif mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Hatinya hancur lebur. Dia merasa bahaya beragam penyakit sudah mengintai hidupnya, terutama Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

“Belasan tahun saya pakai narkoba dengan jarum suntik yang bergantian sampai akhirnya saya positive HIV, saya hancur saat itu,” ujar Tommy mengawali cerita.

Tak hanya dirinya yang merasa hancur, keluarganya pun sempat tak menerimanya. Namun Tommy kemudian sadar, apa yang terjadi pada dirinya harus berubah.

Dia beruntung bertemu dengan sebuah komunitas peduli HIV/AIDS di Bekasi yang begitu peduli mendampingi dirinya sebagai ODHA.

Keluarga Tommy juga ikut didampingi sampai akhirnya mereka kembali menerima keberadannya dengan kondisi terjangkit virus ‘mematikan’ itu.

“Ketika itu saya merasakan manfaat yang luar biasa dari adanya komunitas itu, saya dirangkul, diberi motivasi sampai saya bisa bangkit menata hidup saya lagi. Saya berhenti pakai narkoba yang sudah belasan tahun ‘menidurkan’ saya,” ujar pria kelahiran Jakarta, 14 Desember 1975 itu.

Tanggung jawab

Dari pengalaman yang didapatnya, Tommy terus belajar menghargai hidup meskipun sebagai ODHA. Dia pun memutuskan menikah dengan wanita pujaan hatinya, Neni Latief, sampai kemudian memiliki anak perempuan yang ia beri nama Kenayu (4).

“Saya memberanikan diri (menikah) karena pernikahan sebagai kontrol bagi diri. Saya harus bertanggung jawab dengan pernikahan saya,” ujar anak ketiga dari lima bersaudara itu.

“Termasuk bertanggung jawab terhadap anak saya. Saya berjuang bagaimana anak saya ini bisa lahir dengan selamat dan sehat. Saya tidak mau gambling, anak saya lahir di RS di Semarang yang memiliki alat lengkap dan anak saya sehat,” lanjutnya.

Pria yang kini tinggal di Dusun Kalitan, Desa Blondo, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, itu lantas berniat untuk membentuk sebuah komunitas yang khusus memberikan dukungan kepada ODHA di wilayah Kabupaten dan Kota Magelang.

Ide itu muncul dari pengalamannya saat tinggal di Bekasi dan pengalaman saat pertama pindah ke Magelang.

Kala itu, ia masih kesulitan mendapatkan obat antiretroviral (ARV). Padahal obat itu wajib diminum ODHA setiap hari seumur hidupnya.

Sekitar tahun 2009, Tommy bersama beberapa temannya sesama ODHA membentuk kelompok yang berbasis dukungan psikososial kepada ODHA di Magelang. Mereka intens mencari data dan menghimpun dukungan, baik dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk mendukung program-programnya.

Sampai pada tahun 2012, kelompok yang kemudian diberi nama Be Positive ini berkembang dari yang awalnya inklusif beranggotakan 5 orang ODHA menjadi eksklusif. Artinya, dari anggota yang semua ODHA kemudian terbuka untuk umum siapa pun yang peduli dan berkomitmen dengan penanggulangan HIV/AIDS boleh bergabung.

“Mau tidak mau harus membuka diri agar pihak lain, masyarakat dan pemerintah, juga dapat memberi kontribusi kepada ODHA. Sekarang ada 20 orang pengurus aktif, baik di Kota maupun Kabupaten Magelang,” paparnya.

Meskipun memang pendampingan sesama ODHA lebih nyaman karena keduanya sama-sama mempunyai pengalaman yang sama.

“Kami sudah mendampingi lebih dari 80 ODHA yang tersebar di Kota dan Kabupaten Magelang. Beberapa diantaranya balita, ibu rumah tangga, pekerja. Ada yang sudah meninggal taoi banyak juga yang tetap sehat dan meningkat kualitas hidupnya,” ungkapnya.

Adapun program yang dijalan Tommy bersama teman-temannya antara lain konseling, pelatihan tentang pengenalan HIV/AIDS hingga keterampilan.

Tommy mengungkapkan bahwa hal yang paling membanggakan selama perjalanan mendampingi ODHA adalah ketika keluarga ODHA yang awalnya menolak kemudian menerima kembali anggota keluarganya yang ODHA. Menurutnya, pendampingan terhadap keluarga ODHA juga lebih berat ketimbang terhadap ODHA sendiri.

“Peran keluarga itu penting karena merekalah yang paham atas kondisi ODHA, jadi keluarga juga butuh dikuatkan,” tandasnya.

Tolak diskriminasi

Meskipun sudah berjalan kurang lebih enam tahun, Tommy dan Be Positive masih merasa ada sistem yang diskriminatif terhadap ODHA, di antaranya ODHA masih kesulitan dalam mendapatkam pekerjaan baik swasta maupun di lingkungan pemerintahan. Lalu, ODHA juga tidak memiliki hak untuk dipilih dalam hal politik, padahal mereka diwajibkan untuk memilih dalam setiap pemilihan umum.

“Kiranya perlu ada perbaikan sistem, hapuslah syarat melamar pekerjaan harus bebas HIV/AIDS. Kami ODHA jiga bisa menyumbang tenaga dan pikiran untuk kemajuan negara dan perusahaan,” ulasnya.

Tommy memaparkan bahwa tantangan ke depan adalah ketersediaan obat ARV di Indonesia karena selama ini Indonesia masih mengandalkan bantuan mitra alias impor.

Tommy berharap ketergantungan Indonesia terhadap negara lain bisa dikurangi, sehingga pemerintah memproduksi obat secara mandiri.

“Kami berharap Indonesia ke depan memiliki komitmen untuk menanggulangi HIV/AIDS secara mandiri, apakah akan terua bergantung dengan mitra asing. Lalu kami juga ingin pemerintah menghapus sistem-sistem yang masih mendiskriminasikan ODHA,” ungkapnya.

(Ika Fitriana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: