Belajar dari Pelita Desa

Pelita Desa tempat belajar bagi remaja namun juga saya banyak belajar di sana. Setelah membaca Mentoring Exponentian Abundance saya mencoba apa saja yang dapat saya contoh dari pelaksanaan kaidah-kaidah yang diajarkan pada mentoring tersebut yang telah dikerjakan Pelita Desa dan apa yang dapat dikembangkan lagi di Pelita Desa.

Belajar dari Pelita Desa

Mentoring 1, 2 dan 3 adalah mengenai sikap terhadap diri sendiri apakah kita siap untuk berubah sehingga meyakini bahwa Allah SWT memberikan nikmat kepada makhlukNya hanya kita harus berusaha untuk meraih nikmat tersebut. Tidak perlu serakah dan siap menolong orang lain serta bersikap mental tangan diatas. Saya masih ingat beberapa kali Adi datang ke rumah punya ide macam-macam misalnya membuat akuarium, dll., tapi waktu itu nawaitunya masih mencari uang karena itu belum berhasil. Kegagalan yang berturut tidak menyurutkan niat Pelita Desa dan saya rasa juga ada perubahan dalam kedekatan pada agama (mudah-mudahan). Ibadah semakin teratur, memahami pentingnya sholat subuh berjamaah, dll. Usaha yang terus menerus dan semakin sadar akan kelemahan kita sebagai makhluk dan keyakinan bahwa Allah Maha Pemurah rupanya membuka jalan rezeki Pelita Desa. Edu 1 mulai bertambah pengunjungnya. Pelita Desa mulai menyadari pentingnya usaha yang bermanfaat yang bukan sekedar mencari untung.

Entah dari mana ilhamnya Pelita Desa menerapkan mentoring 11 dan 12, Pelita Desa tak punya pegawai tetap dan mengikut sertakan warga setempat dalam layanan outbound. Pemilihan outbound yang bersifat edukasi untuk siswa TK dan SD mungkin dapat juga dikategorikan strategi blue ocean, mentoring 8?

Dana yang terkumpul dikembalikan ke masyarakat atau untuk memperluas wahana atau meningkatkan layanan. Pelita Desa tak suka menumpuk uang sehingga sering kekurangan uang. Namun Alhamdulillah pada masa-masa terjepit biasanya dapat rezeki yang tak terduga.

Kolaborasi dijalankan juga dengan berbagai pihak sehingga Pelita Desa banyak mempunyai sahabat. Dan sahabat yang paling berharga adalah sahabat yang mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Pelita Desa beruntung mempunyai banyak sahabat dari kalangan pesantren, baik ustadz maupun santrinya. Juga amat menggembirakan pesantren ternyata mempunya kontribusi yang banyak terhadap pengembangan Pelita Desa serta misi Pelita Desa. Para ustadz tak segan-segan turun tangan dan bersusah payah membantu Pelita Desa. Bimbingan dan dukungan ini memperkaya semangat Pelita Desa karena insya Allah usaha Pelita Desa akan kita jaga dalam jalan yang diridhoi Allah SWT.

Belajar dari Pelita Desa

Pelatihan dan bagi pengalaman merupakan kegiatan Pelita Desa sekarang ini. Pelita Desa kemudian mempunyai mitra yang tersebar di berbagai daerah (Sumatera belum nih). Jaringan ini merupakan kekayaan Pelita Desa, kita mempunyai banyak teman dan Jamaah kita semakin kuat untuk memajukan desa di Indonesia. Di samping pelita Desa pesantren akan mempunyai peran yang penting pula. Ustadz atau santri diharapkan dapat menjadi think tank desa serta menjadi panutan warga untuk maju. Jika santri dalam pendidikannya terlibat dalam pembangunan desa bersikap Exponential Abundace maka kita tak akan ragu melepas para santri ke daerah terpencil sekalipun. Mereka insya Allah akan dapat hidup bahkan diharapkan juga dapat mendidik warga desa tempat dia bertugas untuk maju. Santri yang hidup berkecukupan, luas ilmunya, sholeh dan berakhlak mulia. Bayangkan kalau seluruh pesantren di Indonesia (jumlahnya sekitar 30.000) mampu menghasilkan santri idaman tersebut. Pesantren Ruhama, An Nur dan Gunung Sindur dapat menjadi pelopor perubahan cara mendidik ini.

Siang ini saya diminta bicara di Hotel Sofyan berasma Gubernur NTB tentang desa, saya berharap pengalaman Pelita Desa merupakan satu titik air yang akan meyuburkan desa-desa di Indonesia. Amiin.

Samsuridjal Djauzi  | www.pelitadesa.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: