Apakah Pengidap AIDS Lebih Berisiko Tertular Corona?

Seiring dengan percepatan wabah virus corona (Covid-19) yang sudah menggurita secara global muncul persoalan besar yaitu tentang obat dan vaksin. Belakangan ini ada isu global tentang pemakaian obat antiretroviral (ARV) yang jadi obat bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha) untuk menekan penggandaan virus (HIV) di dalam darah dipakai untuk pengobatan Covid-19.

Berikut ini penjelasan Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) :

Apakah Covid-19?

Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang paling baru ditemukan. Virus dan penyakit baru ini tidak diketahui sebelum wabah dimulai di Wuhan, China, pada bulan Desember 2019.

Apakah orang yang hidup dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) berisiko lebih tinggi terinfeksi virus corona yang menyebabkan Covid-19?

Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (Odha) yang belum mencapai penekanan virus melalui pengobatan antiretroviral mungkin memiliki sistem kekebalan yang lemah yang membuat mereka rentan terhadap infeksi oportunistik dan pengembangan penyakit lebih lanjut. Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ada peningkatan risiko infeksi dan peningkatan keparahan penyakit untuk Odha dan saat ini tidak ada kasus infeksi Covid-19 yang dilaporkan di antara Odha, meskipun hal ini dapat dengan cepat berubah ketika virus menyebar. Kita tahu bahwa selama wabah SARS dan MERS hanya ada beberapa laporan kasus penyakit ringan di antara Odha.

Data klinis saat ini menunjukkan faktor risiko kematian utama terkait dengan usia yang lebih tua dan komorbiditas lainnya termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan hipertensi. Beberapa orang yang sangat sehat juga menderita penyakit parah akibat infeksi virus corona.

Odha yang mengetahui status HIV mereka disarankan untuk mengambil tindakan pencegahan yang sama seperti populasi umum (mis. Sering cuci tangan, kebersihan batuk, hindari menyentuh wajah Anda, menjaga jarak sosial, mencari perawatan medis jika bergejala, isolasi diri jika kontak dengan seseorang dengan Covid -19 dan tindakan lain sesuai respon pemerintah). Odha yang menggunakan obat-obatan ARV (antiretroviral) harus memastikan bahwa mereka memiliki setidaknya 30 hari ARV kalau tidak bisa untuk 3 sampai 6 bulan dan memastikan bahwa vaksinasi mereka mutakhir (vaksin influenza dan pneumokokus).

Ini juga merupakan peluang penting untuk memastikan bahwa semua Odha yang belum mulai memakai ART (antiretroviral therapy). Orang yang merasa memiliki risiko HIV disarankan untuk mencari tes untuk melindungi diri terhadap perkembangan penyakit HIV dan komplikasi dari komorbiditas lainnya.

Apakah ARV dapat digunakan untuk mengobati Covid-19?

Beberapa penelitian telah menyarankan bahwa pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, dan infeksi virus corona terkait (SARS-CoV dan MERS-CoV) memiliki hasil klinis yang baik, dengan hampir semua kasus pulih sepenuhnya. Dalam beberapa kasus, pasien diberi obat antiretroviral: lopinavir yang dikuatkan dengan ritonavir (LPV/r). Penelitian ini sebagian besar dilakukan pada orang yang HIV-negatif.

Penting untuk dicatat bahwa penelitian ini menggunakan LPV/r memiliki keterbatasan penting. Penelitiannya kecil, waktu, durasi dan dosis untuk pengobatan bervariasi dan sebagian besar pasien menerima co-intervensi/co-perawatan yang mungkin berkontribusi pada hasil yang dilaporkan.

Sementara bukti manfaat menggunakan ARV untuk mengobati infeksi virus corona adalah kepastian yang sangat rendah, efek samping yang serius jarang terjadi. Di antara Odha, penggunaan rutin LPV/r sebagai pengobatan untuk HIV dikaitkan dengan beberapa efek samping dengan tingkat keparahan yang sedang. Namun, karena durasi pengobatan pada pasien dengan infeksi virus corona umumnya terbatas pada beberapa minggu, kejadian ini dapat diperkirakan rendah atau kurang dari yang dilaporkan dari penggunaan rutin.

Apakah ARV dapat digunakan untuk mencegah infeksi virus penyebab Covid-19?

Dua penelitian telah melaporkan penggunaan LPV/r sebagai profilaksis pasca pajanan untuk SARS-CoV dan MERS-CoV. Salah satu penelitian ini menunjukkan bahwa terjadinya infeksi MERS-CoV lebih rendah di antara petugas kesehatan yang menerima LPV/r dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima obat apa pun; penelitian lain tidak menemukan kasus infeksi SARS-CoV di antara 19 Odha yang dirawat di bangsal yang sama dengan pasien SARS, 11 di antaranya memakai terapi antiretroviral. Sekali lagi, kepastian bukti sangat rendah karena ukuran sampel yang kecil, variabilitas dalam obat yang diberikan, dan ketidakpastian mengenai intensitas paparan.

Sumber : tagar.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: