Asa Di Ujung Senja, Kisah Inspiratif Penyintas ODHA

Asa Di Ujung Senja, kumpulan kisah inspiratif penyintas ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) dalam meraih asa.

Launching Buku “Asa Di Ujung Senja”, bersamaan dengan pertemuan media dalam mensosialisasikan penanggulangan HIV AIDS, di eks gedung DPRD, Jl Kisamaun Kota Tangerang.

Sebuah karya dari Komunitas Penggiat HIV yang diterbitkan melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tangerang, mengkisahkan kehidupan nyata 11 orang penulis yang selama ini dianggap tabu, dan berjuang dengan harapan untuk dapat bangkit dari keterpurukan untuk mengungkap tabir kegelapan.

Buku yang dicetak pada November 2019 dengan 82 halaman tersebut, di launching bersamaan dengan kegiatan peran serta media dalam mensosialisasikan penanggulangan HIV di gedung eks DPRD, Jalan Kisamaun, Kota Tangerang.

Aeni Nasuha, seorang sukarelawan penanggulangan HIV serta penulis karya “Perjuangan Hidup Sehat” yang ada dalam isi buku “Asa Di Ujung Senja” tersebut menceritakan kisah inspiratifnya sebagai seorang transgender yang mengidap HIV.

“Menulis buku ini, banyak hal dari saya seorang transgender, yang mendapatkan diskriminatif dari masyarakat, yang berpositif HIV, dan saya mencoba bergabung dikelompok dukungan, dan disanalah saya mendapatkan banyak teman yang senasib dan seperjuangan untuk sama-sama melawan penyakit,” ungkapnya.

Setelah dirinya ikut sebagai relawan penanggulangan HIV AIDS, Aeni berinisiatif untuk menggeluti kegiatan sosial, dan berharap seorang transgender dapat diterima dimata masyarakat dan dirangkul oleh semua pihak.

“Sebagai relawan penangulangan HIV AIDS, dan Role Model di wilayah, saya dapat mengetahui status saya dan mendapatkan dukungan, juga dari pasangan hidup saya yang terus memberikan suport bahwa penyakit HIV itu bukanlah penyakit yang mematikan,” terangnya.

Selama menggeluti sebagai relawan, Aeni yang lahir pada 11 November 1989 itu pun sering kali menangani kasus-kasus yang serupa dengan dirinya.

Berikut sedikit penggalan kisah nyata Aeni Nasuha “Perjuangan Hidup Sehat”

“Berawal dari minim pengetahuan dalam memaknai arti sebuah kehidupan, gaya hidup aku mudah terpengaruh oleh lingkungan”

“Saat itu, tanpa disadari, aku sudah masuk dalam zona tidak nyaman. Hiruk pikuk dunia globalisasi, membawa aku terjerumus kedalam hal-hal yang negatif”

Bagi Aeni, kisah yang dialami oleh dirinya, jangan sampai dirasakan lagi oleh banyak orang, dan jangan mengidentifikasi bahwa dirinya terjangkit atau positif HIV. Karena HIV itu bukan penyakit yang mematikan, tetapi HIV itu bisa menjadikan dirinya sendiri.

“Terutama orang yang kenal dekat, jangan sampai merasakan apa yang pernah saya rasakan. Terutama jangan sampai kita merasa bahwa kita itu sendiri, setelah mengetahui status kita yang positif HIV,” tandasnya.

Sumber : pelitabanten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: