Atasi HIV/AIDS, Klinik Pengobatan ARV Jangkau Masyarakat

Demi mengantisipasi penyakit HIV/AIDS, klinik pengobatan Anti Retroviral (ARV) dibangun untuk menjangkau masyarakat. Kemudahan akses merupakan salah satu tujuan agar masyarakat dapat mencegah penyebarannya, sementara bagi pasien dapat dengan segera menjalani pengobatan.

Inilah yang kemudian mendorong Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat kini memiliki layanan pengobatan bagi pasien HIV/AIDS. Ini menjadi klinik pengobatan Anti Retroviral (ARV) pertama di Pangandaran yang ditempatkan di Puskesmas Parigi. Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata mengatakan keberadaan klinik ARV itu sangat penting dalam program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

Jeje menambahkan, pihaknya akan berupaya meningkatkan infrastruktur dan kapasitas para petugas kesehatan dalam melayani warga, terutama di puskesmas. Menurutnya, jumlah tenaga medis seperti dokter juga perlu ditambah.

“Contohnya di Puskesmas Parigi ini. Sekarang baru ada satu dokter yang bertugas. Mungkin ke depan minimal harusnya ada dua lagi dokter yang bertugas di sini,” ujarnya seperti pernyataan yang diterima redaksi CNNIndonesia.com, Senin (8/5).

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pangandaran, drg. Yani Ahmad Marzuki MM.Kes menjelaskan melalui klinik ARV di Puskesmas Parigi, pasien HIV/AIDS di Pangandaran nantinya tidak perlu berangkat jauh ke luar Pangandaran.

Selama ini, pengidap HIV/AIDS dari Pangandaran yang kondisinya sudah memerlukan pengobatan ARV biasanya mengakses pengobatan di RSUD Kota Banjar sebagai layanan yang terdekat.

“Selama ini ada 22 ODHA warga Pangandaran yang berobat di Kota Banjar dan lima di antaranya sudah mulai berobat di sini. Nantinya, kita upayakan agar seluruhnya bisa mendapat pelayanan di Puskesmas Parigi,” ungkapnya.

Yani berharap klinik ARV yang baru dibuka ini membawa manfaat bagi warga Pangandaran, khususnya yang terinfeksi dan terdampak HIV/AIDS. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran menunjukkan secara kumulatif ada 43 kasus HIV/AIDS yang tercatat.

“Saya harapkan, keberadaan klinik ini juga akan menambah semangat bagi ODHA untuk tetap menjaga kesehatannya,” tambahnya.

Klinik ARV

ARV atau Antiretroviral adalah obat yang perlu dikonsumsi ODHA agar virus HIV di dalam tubuhnya tidak berkembang. Konsumsi ARV sejauh ini terbukti efektif dalam memperlambat perkembangan virus HIV, menurunkan angka kesakitan dan kematian ODHA, serta dapat meningkatkan kualitas hidup ODHA.

Pembukaan klinik ARV di Puskesmas Parigi mendapat dukungan AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia yang bekerja sama dengan sejumlah pihak, di antaranya Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kesehatan Kab. Pangandaran serta Yayasan Mata Hati.

AHF sendiri merupakan organisasi HIV/AIDS internasional yang telah bekerja di 38 negara di dunia. Dukungan AHF untuk program HIV/AIDS di Indonesia, dimulai pada 2016 untuk dua provinsi prioritas yaitu DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Dukungan tersebut meliputi sejumlah program prioritas, di antaranya peningkatan akses layanan HIV/AIDS seperti tes HIV dan pengobatannya serta penyediaan layanan HIV/AIDS yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat luas.

Tiga kabupaten di Jawa Barat menjadi wilayah prioritas kerja AHF, yaitu Kabupaten Purwakarta, Indramayu, dan Pangandaran. Selain dengan pemerintah dan rumah sakit, AHF juga bekerja sama dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di ketiga kabupaten tersebut.

AHF menerapkan dua strategi prioritas dalam menjalankan programnya, yaitu program pencegahan dan tes HIV serta program perawatan dan pengobatan penyakit terkait HIV. Kedua strategi itu dijalankan di berbagai negara yang mendapat dukungan AHF dalam membantu penanggulangan HIV/AIDS, termasuk di Indonesia.

Seperti diketahui, data Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, sejak pertama kali dilaporkan tahun 1987 hingga Desember 2016, jumlah kumulatif infeksi HIV di Indonesia sebanyak 232.323 kasus dan jumlah AIDS mencapai 86.780 kasus.

Jumlah infeksi HIV tertinggi terjadi di DKI Jakarta (45.355), Jawa Timur (31.429), Papua (24.725), Jawa Barat (23.145), dan Jawa Tengah (16.867). Sedangkan jumlah kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Timur (16.911), Papua (13.398), DKI Jakarta (8.648), Bali (6.803), Jawa Tengah (6.444), dan Jawa Barat (5.251).

Sumber : CNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: