Harus Ceraikan Istri Tercinta Setelah Positif HIV

Mengundang kesadaran masyarakat luas terhadap bahaya penyakit HIV/AIDS merupakan agenda yang terus dilakukan hingga detik ini oleh pihak-pihak terkait. Akan tetapi, kesadaran akan bahaya penyakit tersebut sayangnya tidak secara langsung membuat pergaulan seks bebas dan penggunaan narkoba lewat injeksi, menurun jumlah pelaku dan kasusnya.

Mengenalkan bahayanya terlibat dalam dua hal tersebut pasalnya tidak membuat masyarakat lebih waspada terhadap risiko HIV/AIDS. Namun, menceritakan kisah hidup salah seorang pengidapnya yang cukup memilukan mungkin akan menumbuhkan kewaspadaan lebih tinggi di kalangan masyarakat.

“Kisah saya bisa menjadi gambaran jelas tentang bagaimana mengerikannya virus ini, nggak memandang siapa pun, bahkan yang tidak terlihat beresiko,” ucap Irwanto, seorang ODHA berusia 42 tahun asal Tangerang.

Ia berpendapat, semakin mengerikan kisahnya terkait dampak penyakit ini, semakin baik lantaran bisa menjadi informasi sekaligus ‘tamparan’ yang kuat bagi masyarakat agar mereka tersadar dan tidak menyepelekan kondisi yang bisa jadi pertanda HIV/AIDS.

Irwanto menerangkan, salah satu dampak negatif yang ia harus rasakan dan lalui akibat penyakit tersebut adalah berpisah dengan istrinya yang sangat ia cintai.

“Saya mengalami perubahan berskala besar saat mengetahui positif HIV, bercerai dengan istri saya, tidak bekerja, badan saya kian menjadi kurus, hidup saya hancur,” ungkapnya.

Irwanto menceritakan, ia menikah pada bulan April tahun 2010 lalu. Namun ia mengaku awalnya tidak terbuka pada istrinya soal dirinya menyalahgunakan narkoba berupa Napza suntik di masa lalunya.

“Saat itu istri saya nggak tahu kalau aku mantan user”, tuturnya.

Masa lalu terus menghantui

Pasalnya, keputusan untuk menutupi masa lalu kelamnya membuat Irwanto menyesal. Ia menyadari bahwa pengguna Napza suntik bagaimana pun memiliki risiko tergolong tinggi mengidap penyakit HIV/AIDS.

Irwanto tahu, suatu hari kelak penyakit tersebut akan datang menghampirinya dan ia tidak bisa bersembunyi dari hal tersebut.

“Seiring berjalannya waktu, di bulan Agustus 2010, saya drop dan didiagnosis positif tuberkulosis,” ujarnya.

Kondisinya yang kian menurun membuat Irwanto tergerak untuk melakukan pengecekan. Dokter pun melakukan konseling sebelum pengecekan, hal yang umumnya dilakukan pada setiap orang yang ingin mengecek, agar kesiapan mentalnya menghadapi hasil tes lebih terjamin.

Dokter kemudian menguji lewat dahak atau melalui sampling BTA. Hasilnya yang menunjukan positif tuberkulosis mendesak sang dokter untuk menyarankan Irwanto melakukan tes HIV sebagai langkah pemastian berikutnya.

“Ternyata hasilnya positif HIV,” kata Irwanto.

Ia menjelaskan betapa bingung dirinya saat mengetahui positif HIV, haruskah terbuka pada sang istri atau tidak? Siapkah diri menghadapi konsekuensi besar ke depannya?

“Ya akhirnya saya buka status kepada istri dua hari setelah melakukan pengecekan,” jelasnya.

Melepaskan sang istri

Irwanto mengaku dirinya dengan berat hati harus menerima dan menanggung beban dari perbuatan yang ia lakukan sebelumnya. Ia pun harus menerima respon apa pun yang diberikan sang istri.

“Sayalah yang mengambil keputusan untuk menceraikan istri saya pada tahun 2011 di pengadilan agama. Saya terpaksa melakukannya karena saya cinta dan tak ingin ia tertular,” pungkasnya.

Irwanto menuturkan, sebelum membulatkan tekadnya untuk melepaskan sang istri demi keselamatan jiwanya, ia sudah mengajak sang istri untuk melakukan tes selama tiga kali dan dibarengi dengan tes viral load.

“Alhamdullilah setelah tes sebanyak 3 kali ditambah dengan tes viral, dokter menyatakan istri negatif HIV,” terangnya.

Namun, hasil tes tersebut tidak membuat hatinya lebih tenang lantaran kemungkinan sang istri mengidapnya suatu hari nanti masih besar. Irwanto pun menyadari dampaknya bisa terjadi secara terus-menerus jika ia punya anak.

Dengan begitu, ia menyimpulkan bahwa penyakit HIV tidak hanya merengut orang-orang tercinta di sekitar saja, tapi juga berpotensi besar menghilangkan kesempatan emas memiliki keturunan yang sehat sebagai penerusnya.

“Saya ingin semua orang sadar, mau mengecek diri mereka agar tahu dan tidak membahayakan hidup orang lain. Jangan sampai seperti saya, menyesal di akhir,” Irwanto menyarankan.

Pria suka jajan, wanita menanggung beban

Irwanto juga menegaskan, pria beristri yang gemar mencari kepuasan seksual dari orang lain, sangat dihimbau untuk melakukan pengecekan sebelum terlambat.

“Ibu rumah tangga yang suaminya suka ‘jajan’ diluar, sang istri tidak tahu kebandelan suami yang mana akhirnya bisa tertular dari wanita-wanita lain yang dikira sehat-sehat saja. Ketika berhubungan intim dengan istri, sedihnya sang istri yang tidak tahu-menahu harus menanggung beban terkena hal yang sama,” jelas Irwanto.

Ini pun akan terus memberikan dampak buruk, hingga mencakup kehamilan yang bisa membahayakan jiwa dan masa depan buah hati.

Irwanto, yang kini mengaku fisiknya perlahan-lahan membaik dengan bantuan terapi dan obat yang dikonsumsi secara rutin, berkata bahwa ia tidak akan pernah lelah menyarankan orang lain untuk melakukan tes sebelum terlambat. Agar tidak berefek ke pihak lain yang tidak bersalah dan tidak seharusnya merasakan dampak dari penyakit HIV.

“Lakukan tes segera. Jangan takut, malu atau pun ragu,” tutupnya.

Sumber : Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: