Hepatitis C, Gampang Menular Tapi Bisa Disembuhkan

Hepatitis C merupakan salah satu penyakit hepatitis yang paling sering dijumpai. Di Indonesia, diperkirakan 6 juta orang terinfeksi virus ini.

Virus hepatitis C mudah sekali menular, antara lain melalui kontak darah dan dari penggunaan jarum suntik yang tidak steril, alat tato, berganti pasangan seksual, serta pemakaian bersama alat-alat perawatan tubuh seperti silet cukur atau sikat gigi.

Meski demikian, orang yang tertular hepatitis C sering tidak menyadarinya karena penyakit ini pada tahap awal tidak menimbulkan gejala. Kondisi ini sebenarnya bisa berbahaya karena orang tersebut bisa menularkan penyakitnya ke orang lain.

“Sekitar 80 persen pasien yang berkonsultasi ke dokter sudah pada tahap lanjut. Padahal sekitar 5 persen dari hepatitis C kronis akan berkembang menjadi kanker hati,” kata Prof.dr.Ali Sulaiman, sp.PD-KGEH, dalam diskusi panel di RS.MRCCC Siloam Semanggi, Jakarta.

Walau mudah menular dan belum ada vaksinnya, sebenarnya hepatitis C bisa disembuhkan. “Jika dibandingkan dengan negara-negara Barat, Asia mempunyai tingkat keberhasilan lebih tinggi. Berbeda dengan Hepatitis B yang hanya bisa ditekan virusnya tapi kalau Hepatitis C itu benar-benar disembuhkan,” kata Prof.Dr. Laurentius A. Lesmana, Sp.PD-KGEH, dalam acara yang sama.

Ia menjelaskan, keberhasilan terapi di Asia yang tinggi disebabkan karena faktor genom bawaan di masyarakat yang mempunyai tipe tertentu dibandingkan dengan di Barat.

Untuk mendeteksi apakah kita terinfeksi hepatitis C atau tidak, ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan. Pertama adalah pemeriksaan antibodi anti-HVC yang menunjukkan adanya virus hepatitis C. Jika hasil tes antibodi anti-HVC positif,  diperlukan tes lanjutan, yaitu tes HCV RNA untuk memastikan adanya infeksi VHC yang masih berlangsung.

Jika terdiagnosis infeksi hepatitis C, maka akan diberikan pengobatan anti-viral dengan tingkat kesembuhan antara 75-100 persen. “Sangat disayangkan jika kita masih menemukan kasus kanker hari karena penanganan medis yang terlambat,” imbuh Dr. Lesmana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: