 Diskusi Interaktif Dampak mental dan psikis korban pelecehan seksual pada remaja, pada kondisi tertentu mengakibatkan efek trauma yang amat dalam pada korbannya. Banyak remaja yang pada masa kecil mengalami pelecehan seksual, tidak dapat melupakan kejadian di masa lalunya, bahkan terus membayangi hingga korban beranjak dewasa. Pemaparan itulah yang disampaikan Dr Srimpi, Sp.Kj, dalam diskusi interaktif di kecamatan Tebet, Rabu tanggal 19 Desember 2007.
Acara yang digagas Klinik Remaja YPI dihadiri sekitar 100 peserta, terdiri dari para siswa, guru, karang taruna, dan remaja umum. Pada diskusi yang dibuka oleh Kepala Kecamatan Tebet, Bpk. Berihansyah, SH ini, hadir pula sebagai pembicara Dr Fadlina dari Puskesmas kecamatan Tebet, Evie Permata Sari dari Yayasan Mitra Perempuan, dan Fanzy dari remaja Die-J YPI.
Jika Srimpi menyoroti aspek mental dan psikologis, Fadlina lebih menyoroti aspek medis pelecehan seksual. Menurutnya, pelecehan seksual bisa saja dilakukan seseorang atau sejumlah orang. Namun itu tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasarannya. Karena dapat menimbulkan akibat negatif seperti, rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri, dan kehilangan kesucian pada diri korban.
Evie Permata Sari dari Yayasan Mitra Perempuan, menyoroti masalah pencegahan dan perlindungan bagi korban pelecehan seksual. Baginya, anak dan remaja memiliki hak untuk melindungi diri dari semua perbuatan yang tidak menyenangkan. Dalam UU Perlidungan Anak dijelaskan bahwa, "Setiap anak berhak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
 Peserta bertanya Fanzy dari Die J YPI yang mewakili remaja, menceritakan pengalaman selaku remaja dan perannya dalam mendampingi diri dari pelecehan dan kekerasan seksual. Menurutnya, peran peer group atau teman sebaya amat penting, mereka dapat berfungsi sebagai teman dalam mendampingi korban pelecehan seksual. Biasanya remaja lebih nyaman untuk menceritakan berbagai masalahnya pada teman atau peer group.
Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan peserta adalah, bagaimana pengajaran pendidikan seksual dan pencegahan pelecehan pada anak? Srimpi menjawab, bahwa pendidikan seksual pada anak harus dimulai saat mereka telah menyadari fungsi organ seksualnya. Anak juga perlu diajarkan menjaga dan melindungi organ reproduksinya dari orang lain.(Djadjat/Chai2)
|