 Rara, Peer Educator Die-J YPI Program pencegahan HIV dan AIDS bagi remaja di sekitar mal Cijantung mulai dikembangkan pada September 2000. Sebelum memulai program tersebut, YPI melakukaan serangkaian survei agar bentuk kegiatan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan lapangan, khususnya remaja yang banyak menghabiskan waktu luang di mal Cijantung.
Berkat dukungan dana dari Terre des Hommes (TdH), sebuah lembaga donor yang berupaya meningkatkan kesejahteraan anak melalui kegiatan pendidikan dan kesehatan, program tersebut akhirnya dapat berjalan hingga saat ini. Base camp YPI yang berlokasi di sebuah rumah tak jauh dari mal Cijantung, populer dinamakan Die-J (singkatan gaul dari Drop-in Centre Cijantung). Menurut Enny Zuliatie, Manajer Program Die-J, tujuan yang ingin dicapai Die-J dalam programnya adalah menurunkan risiko remaja terhadap masalah kesehatan reproduksi, Infeksi Menular Seksual, HIV dan AIDS, penyalahgunaan NAPZA serta memfasilitasi remaja dalam memanfaatkan waktu luangnya. ”Tidak ada kata terlambat bagi remaja yang ingin berusaha dan maju, mereka pasti menjalani prilaku hidup sehat. Cukup beragam kegiatan remaja yang didukung oleh Die-J dan telah menunjukkan prestasi,” ujarnya. Laskar Band Band dengan personil Jainal Abidin pada vokal, Ade pada gitar 1, Uci pada gitar 2, Ibeng pada bass dan Majid pada drum selalu menjadi langganan juara. Hampir setiap tahun Laskar menjuarai berbagai festival musik, bahkan pada tahun 2004 Laskar berkali-kali menjadi juara. Pada bulan Juli lalu Laskar menjadi juara II festival Jamboree Badan Narkotika Nasinal (BNN) yang diadakan di TMII. Apa kelebihan suara Jainal dibandingkan vokalis dari grup band lain? ”Kata orang suara saya melengking, mirip Ariel Paterpan gitu,” aku Jainal. Untuk menjaga suaranya agar tetap baik, Jainal sering melakukan olah raga renang dan lari. Untuk masalah lagu yang dibawakan saat manggung, Jainal mengaku hanya lagu-lagu yang beraliran metal dan progresif, seperti lagu metallica.
Sejak bergabung dengan Die-J, Jainal merasa bakatnya tersalurkan, dirinya pun selalu mendapat pengarahan dari para staf Die-J. Selain itu apa yang dirasakan selalu diekspresikan lewat musik, ketimbang ia nongkrong-nongkrong yang tidak ada hasilnya. Bicara penghasilan, uang yang didapat dari hasil menang lomba oleh Jainal dibelikan kostum dan sisanya untuk traktir teman-teman. Hadiah uang yang didapat bisa mencapai 750 ribu sampai 5 juta rupiah.
Jainal berharap, bukan hanya dirinya saja yang bisa maju, tetapi remaja lain juga bisa. Ia berhadap suatu saat nanti Die-J membuka kursus bagi mereka yang ingin berlatih vokal, gitar atau keyboard, ”Saya siap mengajar, sayang ilmu yang kita punya jika tidak dimanfaatkan,” ujar Jainal yang sedang membuat album Laskar dan akan selesai akhir tahun ini.
Peer Educator
Mempunyai hobi banyak bicara ternyata mendatangkan keberkahan tersendiri bagi Risa Rara Ramuri atau biasa disapa dengan Rara. Alumni SMAN 105 Jakarta Timur ini merasa beruntung dapat ikut pelatihan dan penyuluhan untuk peer educator yang diadakan Die-J. ”Saya jadi lebih berani berbicara di depan umum dan profile saya masuk koran,” ungkapnya dengan bangga.
Sebagai PE di sekolah strategi yang dilakukan adalah mengikuti apa yang teman-temannya lakukan, ”Artinya kalau mereka nongkrong saya ikut, jika waktunya pas baru diajak ngobrol. Yang penting mereka bisa asyik dulu dan bisa menerima keberadaan saya. Memang ngga bisa langsung, step by step lah, karena mereka tahu saya PE jadi ngga ada yang protes. Sudah menjadi kewajiban saya memberikan informasi kepada mereka, pelan-pelan tetapi pasti. Saya ingin teman-teman di sekolah bebas dari narkoba dan alkohol,” tutur Rara tentang pekerjaannya.
Jujur Rara mengakui, ia jadi kaya pengalaman sejak menjadi PE, sering diundang menjadi pembicara terutama mengenai masalah remaja. Pengalaman yang tak terlupakan ketika dirinya memberikan penyuluhan di depan mahasiswa FISIP UI, meskipun awalnya deg deg degan tetapi semua berjalan lancar. ”Obsesiku ingin menurunkan jumlah penderita HIV dan AIDS di Indonesia, pokoknya akan saya lakukan semampunya, apakah itu menjadi penyuluh sampai ke pelosok desa, saya mau,” ujar si Sulung dengan penuh semangat.
Ketika baru bergabung dengan Die-J Rara tidak mendapat restu dari sang ibu, menurutnya Rara masih harus belajar bukan nongkrong-nongkrong, tetapi ketika ada nilai positif yang didapat dari kegiatan PE, ibu mendukungnya 100 persen. ”Ibu tidak perlu repot menasehati, karena saya sudah bisa menjaga diri. Menjadi PE banyak memberikan motivasi, bagi saya dunia remaja adalah dunia pendewasaan yang sangat susah, sekali kita salah melangkah akan menyesal selamanya. Untuk mendewasakan diri sendiri saya harus bekerja keras, apalagi untuk mengubah orang lain,” ungkapnya.
Jadi jika ada masalah, saran Rara, remaja seharusnya terbuka dengan orang lain terutama orang tua, ”Ajak mereka diskusi, jadi mereka tahu apa yang kita rasakan. Saya memang ditakdirkan bawel dan cerewet, namun saya memanfaatkan potensi itu agar berguna bagi banyak orang, caranya dengan jadi PE dan yang terpenting hobi ngomong tersalurkan,” ujarnya sambil tertawa.
Petugas Outreach dan Pemain Teater
 Pelatihan PO Die-J YPI Nongkrong di mal Cijantung menjadi kegiatan Yulius tiga kali dalam seminggu. ”Saya merasa tidak seperti penyuluh, sering saya mendengarkan curhat berbagai masalah anak-anak di mal, bahkan tidak jarang mereka sampai menangis. Setelah diskusi ada yang berubah perilakunya, tetapi banyak juga yang tidak. Saya ngga mau dibilang ngacak-ngacak privasi orang. Biar mereka menentukan jalannya, saya hanya membantu. Saya tidak pernah merasa jenuh sebagai petugas outrech (penjangkau), ini saya anggap sebagai ajang memperbanyak teman,” kata Yulius tentang tugasnya. Selain PO, Yulius juga termasuk pendiri teater Die-J sejak tahun 2004. Personil teater adalah anak sekolah, tema-tema yang dibawakan saat pentas meliputi edukasi penyakit, narkoba, HIV dan AIDS. Teater lebih efektif dibandingkan menyuluhan secara oral, pesan yang disampaikan pun mengenai sasaran karena dibawakan secara komedi. Baginya, media seni paling bagus untuk menyampaikan pesan. Sasaran meningkat Dari tahun ke tahun sasaran program pencegahan HIV dan AIDS bagi remaja di sekitar kawasan mal Cijantung mengalami peningkatan. Pada awal program, September 2000 sampai Agustus 2002, sasaran lebih dikhususkan untuk remaja yang sering berada di mal. Selanjutnya Pebruari 2003 sampai Januari 2005 jangkauan diperluas selain remaja mal juga dijangkau remaja sekitar Drop In Center. Mulai Pebruari 2005 sampai Januari 2008 jangkauan bertambah kepada siswa SLTA di sekitar Drop In Center. Perluasan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa remaja tidak berada pada satu tempat saja, mereka menyebar bahkan sering berpindah tempat. Selain sasaran program yang meningkat, lokasi program juga bertambah, yang semula hanya di Cijantung kemudian berkembang hingga Cimanggis dan Cililitan.
Menurut Nur Akmalia, alumnus Universitas Indonesia, yang pernah mengadakan penelitian dengan judul Gambaram Perubahan Perilaku Remaja Pemakai NAPZA yang Mendapatkan Layanan Drop In Center Cijantung Yayasan Pelita Ilmu (Die-J YPI) pada tahun 2005, keberadaan Die-J membawa pengaruh yang cukup besar bagi perubahan perilaku pengguna NAPZA. Berbagai kegiatan yang difasilitasi Die-J dimanfaatkan oleh remaja untuk mengisi waktu luang, mengembangkan diri dan mendapatkan lingkungan yang memungkinkan mereka terhindar dari narkoba. (Khairina)
|