 Dokter Nia Sejak tahun 1996, hingga saat ini Rumah Sakit Ciptomangunkusumo telah merawat lebih dari 200 bayi HIV positif. Sebagian besar status bayi tersebut baru diketahui ketika bayi sudah sakit. Usianya bisa ketika dua bulan, empat bulan bahkan empat tahun baru ada gejalanya.
Bagaimana dapat mengenali bayi yang lahir cenderung HIV positif? “Ketika bayi tersebut sakit umur satu tahun, kita akan periksa ibunya. Umumnya kita belum bisa mengerjakan apa-apa sampai bayi itu ketahuan tertular. Dari yang tertular HIV, sekitar 20 persen meninggal. Namun 20-60 persen masih hidup di usia 1-5 tahun, 10 persen bayi tertular di atas usia satu tahun. Kebanyakan sebelum usia satu tahun bayi tersebut sudah meninggal,” ujar Dr. Nia Kurniati, SpA dari Pokdisus AIDS FKUI/RSCM. Mirip dengan orang dewasa, diagnosa yang dilakukan terhadap bayi harus pasti. Di bawah umur satu tahun atau kurang dari 18 bulan, harus ada pemeriksaan viral load. Sedangkan di atas usia 18 bulan, digunakan pemeriksaan cara ELISA (mengetes antibodi). Pada bayi atau anak-anak, HIV bisa tanpa gejala atau dengan gejala. Biasanya gejala yang terjadi seperti diare, gizi buruk, congengan (OMP), infeksi paru, TBC, atau infeksi oportunistik (IO). Bila anak HIV positif terkena IO, terlebih dahulu diobati infeksinya, jika sudah sembuh baru melangkah ke pengobatan ARV dan tunjangan gizi.
Untuk memberikan ARV bagi bayi dan anak-anak, dokter harus memahami kondisi dan perilaku orang tua si bayi. Sebab, sayang disayangkan jika anak diberi obat selama dua minggu, tetapi orang tua tidak kembali lagi untuk mengambil obat berikutnya. Padahal pengobatan ARV merupakan pengobatan jangka panjang yang tidak boleh terputus.
Belum Ada Obat yang Cocok
Masalah dalam pengobatan HIV untuk anak adalah karena tidak adanya data pasti tentang jumlah dan distribusi anak HIV positif. Menurut Nia, Departemen Kesehatan juga tidak mempunyai alat untuk menghitung jumlah anak-anak yang tertular HIV. Selain itu, sampai saat ini praktis belum ada obat ARV untuk anak positif HIV di Indonesia. Yang diberikan kepada mereka adalah obat ARV dewasa dalam bentuk bubuk, yaitu ARV yang di tumbuk sehingga menjadi puyer dan ukurannya disesuaikan dengan berat badan si anak.
Sebagai dokter yang berada di lapangan dan berhubungan langsung dengan pasien, Nia merasa prihatin dengan kondisi ini. Obat untuk anak jelas berbeda dengan obat orang dewasa. Bagi Nia, ARV dalam bentuk sirup merupakan pengobatan yang cocok bagi anak-anak.
Diakui Nia, ARV kini gratis untuk orang dewasa, namun tidak semua ARV cocok untuk anak. Jika berobat ke Pokdisus AIDS FKUI/RSCM, orang tua pasien harus merogoh koceknya. Di beberapa rumah sakit memang tidak bayar, tetapi itu kebijakan rumah sakit yang bersangkutan bukan pemerintah. “Bisa dibayangkan untuk membuat puyer saja, satu anak bisa habis 180 bungkus sebulan. Orang yang menumbuk ARV menjadi puyer perlu dibayar. Belum lagi kertas untuk membungkusnya. Memang tidak seberapa bagi kita yang memiliki uang, tetapi mereka yang tidak punya, itu terasa sekali. Ditambah jika keluarga pasien tidak punya Gakin,” tutur Nia menjelaskan.
Kesulitan Diagnosa
Selain masalah obat, kesulitan menentukan diagnosa terhadap status kerap timbul. Karena sering kali pemeriksaan harus dibayar sendiri oleh orang tua. Sesuai dengan usianya, kurang dari 18 bulan untuk mengetahui positif atau negatif biayanya mahal sekali. Seringkali orang tua pasien tidak kembali lagi, ketika diberi tahu mahalnya biayanya pemeriksaan viral load tersebut.
Susu Formula VS ASI
Pertentangan pemberian susu formula sebagai pengganti ASI untuk bayi yang lahir dari ibu positif HIV, masih menjadi hal yang ramai dibicarakan. Sebagian dokter berpendapat, hal itu menyalahi program pemerintah untuk memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan.
“Saya melihat dari konteks mana kita memandang,” ujar Nia. “Ibu HIV positif di Indonesia tidak banyak jumlahnya. Kalau saya berbicara dengan mereka, maka saya sarankan untuk menggunakan susu formula. Saya toh tidak mengganggu program nasional. Seharusnya kita melihat ibu-ibu yang HIV negatif, mereka yang menggunakan susu formula itulah yang harus kita tegur. Susu formula bagi ibu HIV positif adalah bentuk pencegahan penularan HIV, jika dilihat jumlahnya sedikit sekali. Dalam hal ini pemerintah harus tegas,” ungkap Nia dengan gamblang.
Tempat Perawatan Anak Yatim HIV Positif
Bertambahnya anak dengan status HIV pada tahun-tahun mendatang, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah. Jika orang tua mereka meninggal terlebih dahulu, siapa yang akan mengurus anak tersebut. Sedangkan pihak keluarga kedua orang tua tidak mau terbebani, terlebih lagi jika mereka berlatar belakang ekonomi lemah.
Di negara Kamboja dan Vietnam, anak-anak yatim piatu dari orang tua HIV positif ditempatkan dalam sebuah shelter. Ada klinik perawatan serta obat-obatan bagi mereka. Satu sampai dua tahun ke depan, Indonesia harus memikirkan penampungan seperti itu. Mereka butuh pengasuhan, sarana untuk tumbuh kembang dan sekolah. Tentunya tidak hanya pemerintah, LSM pun turut membantu memikirkan nasib anak-anak tersebut.(Khairina)
|