 Jika bisa berbicara, mungkin mereka tidak ingin terlahir dari ibu HIV positif. Tapi adakah manusia yang bisa memilih takdirnya. Mereka sama seperti anak-anak lain, tetap membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
Seperti Merawat Bayi Sendiri Tidak pernah terbayangkan oleh Martianah, 50 tahun, bahwa dirinya akan mengurus Zahra Aulia dalam waktu yang lama. Awalnya Zahra yang lahir 4 Juli 2006, dititipi hanya seminggu di rumahnya di daerah Kebon Baru, Tebet. Namun seminggu berlalu tidak ada kabar berita dari orang tua Zahra.
Setelah dua bulan Zahra dalam perawatannya, tiba-tiba keluarga Zahra datang dan ingin mengambil kembali. “Jujur saya sedih pada waktu itu. Bahkan suasana di rumah mirip dengan suasana kematian, semua menangis. Saya merasa Zahra sudah menjadi bagian dari keluarga, tetapi saya berusaha ikhlas. Saya tahu ia masih mempunyai keluarga sesungguhnya,” ungkap Martianah yang akrab dipanggil Ibu Upi sambil berlinang air mata.
Ada yang hilang ketika Zahra tidak bersamanya lagi. Namun perasaan tersebut buru-buru ditepisnya. Zahra terlahir dari ibu HIV positif, dokter yang memeriksa darahnya juga menyatakan bahwa ia positif. “Obat Zahra banyak sekali, ada yang seminggu dua kali, ada juga sehari empat kali. Semua obat itu saya berikan sesuai aturannya. Dengan kondisi seperti itu, kalau sampai Zahra tidak terawat kasihan sekali,” ujar Martianah yang sehari-harinya menjadi juru masak di Sanggar Kerja YPI, Kebon Baru, sejak 10 tahun lalu.
Ternyata setelah dibawa pulang oleh orang tuanya, Zahra malah menangis sepanjang malam. Akhirnya ia dibawa kembali ke rumah Martianah. Saat itu kondisi Zahra lemas dan pucat, karena buang-buang air. Martianah pun dengan kasih sayang memberikan perawatan secara tradisional bagi bayi tersebut.
“Memang sempat terjadi tarik ulur soal siapa yang akan mengasuh Zahra, namun lebaran 2006, Zahra kembali ke pangkuan saya. Tidak ada maksud lain, saya merawat Zahra karena rasa kemanusiaan. Usia Zahra kini 1,5 tahun, ia anak yang aktif. Berat badannya naik setengah kilo setiap bulan. Sekilas pertumbuhan Zahra tidak jauh berbeda dengan anak yang sehat. Ia juga anak yang lucu,” tutur Martianah dengan bahagia. Bayi HIV Positif dari Ibu Mantan PSK
Di usia yang masih belia, Maria telah berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) di wilayah Jakarta Pusat. Wanita kelahiran Bandung 39 tahun ini mencoba peruntungan nasibnya di kota Jakarta. Sayang dewi fortuna belum berpihak kepadanya, pekerjaan sulit didapatinya. Karena desakan kebutuhan ekonomi, menjadi PSK pun dilakoninya hingga 15 tahun. Maria tidak sadar risiko penularan HIV yang bisa dialaminya akibat pekerjaannya itu.
Ketika ada penjangkauan di daerah lokalisasi oleh YPI tahun 2005, Maria ikut bersama teman-teman sesama PSK. Setelah dilakukan konseling dan pemeriksaan darah, Maria diketahui positif HIV. Beban pikirannya bertambah ketika ia hamil di usia 36 tahun. Beruntung pihak YPI membantunya dengan memberikan dampingan dan bantuan biaya untuk operasi cesar. Tanggal 26 Oktober 2006, lahirlah anak keempatnya. “Kondisi Rio sangat baik, ia juga lincah. Saya yakin Rio negatif,” kata Maria dengan pasti.
Saat ini kesibukkan Maria hanya membantu suami dan menjaga Rio. “Anak ini sudah cukup menderita sejak di dalam kandungan. Saya ingin ia tumbuh dengan baik,” ungkap Maria penuh harap.
Semua Terjadi dalam Satu Bulan Februari 2007, menjadi catatan tersendiri dalam ingatan Nia, 24 tahun. Di bulan itulah tiga kejadian berarti mengisi hidupnya. Pertama, ketika ia dinyatakan positif HIV, kedua suaminya meninggal karena TB, dan ketiga Nia melahirkan anak pertamanya.
Setelah suaminyanya meninggal, otomatis Nia mengurus sendiri bayinya. Beruntung keluarga Nia masih menerima keberadaannya, walaupun ia HIV positif. Bayi laki-laki itu kini tumbuh sehat. Setelah berkonsultasi dengan dokter, Nia tidak memberikan ASI kepadanya. Sebagai pengganti nutrisi, Nia memberikan susu formula. Nia berharap, bayinya dapat tumbuh sehat seperti anak lainnya. Meskipun kini Nia telah menikah kembali, kasih sayang yang diberikan tidak berkurang sedikit pun.
Si Bayi Meninggal Menyusul Ibunya “Badan Dea kurus sekali, tinggal tulang dan kulit yang menyelimuti tubuhnya. Ia terlalu menderita untuk hidup,” ujar Silvie, sepupu Dea.
Ketika lahir bulan Juli 2007, berat badan Dea hanya 2,4 kilogram. Ia sempat disusui oleh ibunya yang HIV positif. Kondisi kesehatan ibu Dea terus menurun sampai ajal menjemputnya. Dea pun diasuh oleh bibi dan neneknya, tetapi virus HIV begitu kuat untuk dilawan bayi seusianya.
Bulan September 2007, Dea sempat dirawat selama dua minggu, kondisinya drop. Padahal selama 1,5 bulan Dea sempat minum obat. Awal Oktober, Dea kembali lagi masuk rumah sakit. Karena kondisi tubuh yang terus menurun, 26 Oktober 2007 Dea meninggal dunia. Bayi berusia tiga bulan itu telah menyusul ibunya.
Anak Pertama Relawan di Karawang
Ketika menikah, Tina, 25 tahun, tidak tahu bahwa lelaki yang akan hidup bersamanya adalah pengguna narkoba suntik. Ketika ada pemeriksaan darah di YPI Karawang, Tina ikut serta. Hasilnya sudah bisa diduga, ia positif HIV. Sejak itu suaminya berhenti mengkonsumsi narkoba. Tina pun menjalani terapi ARV, terhitung mulai tahun 2005 sampai sekarang.
Meskipun baru dua tahun menjalani terapi, anak pertama Tina yang lahir tahun 2002 tampak sehat dan kuat. Kini kesibukkan Tina adalah relawan di Pantura Plus Karawang, setiap hari dirinya melakukan home visit ke 10 orang Odha. Ini dilakukan untuk memberikan dukungan dan semangat agar Odha mampu berkarya. (Khairina)
|