Thursday, 09 September 2010

Advertisement


Visitors by Country
Totals Top 5
 81 % Indonesia
 13 % United States
 2 % Malaysia
 < 1.0 % Unknown
 < 1.0 % Norway
 
Berita arrow Majalah Support arrow Edisi 74 arrow Kenal Lebih Dekat arrow Rasa Takut Menangani Pasien Odha Harus Dihilangkan
 
 
Rasa Takut Menangani Pasien Odha Harus Dihilangkan PDF Cetak E-mail
dr usep
dr. Usep Priatna
Kebiasaan yang sudah lama mendarah daging tidak gampang diubah. Akan lebih mudah jika dilakukan pada diri sendiri, atau kita menjadi contoh bagi yang lain. Prinsip itulah yang diterapkan Usep Priatna Wiraatmaja sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di RSUD Tangerang sejak November 2006.

Dokter spesialis kandungan ini berusaha mentaati semua aturan yang diterapkan oleh pihak rumah sakit, termasuk ketika melakukan tugas operasi. Dari sekian pengalaman yang dialami saat melakukan operasi ceasar bagi ibu yang melahirkan, menangani Odha merupakan tantangan tersendiri bagi dokter kelahiran Tangerang, 1 September 1974 ini.

“Kita tahu pasien tersebut HIV karena telah dites darah sebelumnya. Namun, jika kita membantu sekian banyak persalinan, darimana kita tahu bahwa pasien tersebut HIV positif. Untuk mensiasatinya kita harus melakukan universal precaution dengan baik. Jika hal ini  diterapkan pada semua pasien, dokter tidak perlu takut merawat Odha,” ujar Usep dengan bersemangat.

Setelah mendapat pelatihan program pencegahan penularan dari ibu positif HIV ke bayi (PMTCT), selama lima hari di Jakarta, Usep mendapat banyak pengetahuan baru. Terutama bagaimana universal precaution dilakukan kepada pasien. Ia pun dikenal sebagai dokter yang berani mendobrak kebiasaan lama di lingkungan RSUD Tangerang.  

Ilmu tentang PMTCT yang Usep miliki tidak dikuasainya sendiri, bersama rekan sejawat yang juga mendapatkan pelatihan, mereka mengadakan seminar sehari bagi pejabat teras, perawat jaga, dan perawat ruang bersalin RSUD Tagerang. “Bisa dibayangkan materi yang saya dapat selama lima hari, diringkas dalam satu hari,” kata Usep tersenyum. 
     
Memang setelah seminar tersebut, semua yang hadir mengerti. Tetapi pengertian itu tidak diimbangi dengan perilaku di lapangan. Buktinya, jika ada Odha yang berobat, semua menjadi panik. Apalagi kalau pasien tersebut adalah ibu HIV positif yang akan melahirkan. Untuk mendapat perawat yang akan menemani Usep melakukan operasi, konon kabarnya harus diundi dahulu.

Bagi Usep, memang perlu waktu untuk merubah sikap. Seperti makan dengan tangan kanan, jika hal itu diterapkan dengan tangan kiri, mungkin belum terbiasa bahkan terasa tidak enak.

Sama dengan memulai kebiasaan baru, memakai sepatu bot saat melakukan operasi adalah kebiasaan lama. Banyak dokter hanya memakai sendal saat bertugas, memang steril tetapi bukan untuk dirinya. Karena kebiasaan itu sudah lama ditinggalkan, terkesan aneh saat ada dokter yang melakukannya. 
   
“Saya dikenal selalu menggunakan sepatu bot jika melakukan operasi. Sebenarnya itu hal biasa dan memang harus dilakukan oleh semua dokter,” ujarnya.

Selain sepatu bot, mencuci semua alat sehabis melakukan operasi dengan klorin juga menjadi keharusan. “Jangan diserahkan kepada petugas kebersihan, kita  harus turun tangan. Memang ada dokter yang tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Terkadang sepatu bot saja bisa masuk ke kamar ganti, padahal sepatu itu harus dicelupkan dengan klorin,” ujar Usep menjelaskan
.
Diakuinya, merubah suatu kebiasaan ternyata tidak gampang. Akan lebih mudah dilakukan pada diri sendiri, atau kita menjadi contoh bagi orang lain. “Rasa takut berhadapan dengan Odha harus dihilangkan. Merubah sikap dengan merubah pengetahuan memang jauh berbeda. Jika dalam sehari kepintaran orang dapat bertambah, tidak demikian dengan perubahan sikap atau perilaku,” ujar Usep yang banyak membantu kelancaran program PMTCT YPI di Provinsi Banten.


Buka kamus

Meski telah berpengalaman dalam memberikan resep kepada pasien, khusus untuk Odha, ia harus buka kamus. “Pertama kali membantu persalinan Odha memang agak ribet, karena obat-obatnya banyak. Waktu pasien datang, saya masih nyontek di komputer untuk melihat obat apa yang harus diberikan,” kata dokter berkaca mata yang punya hobi nonton film dan main playstation ini.  

Jika masa PTTnya telah berakhir, Usep akan meninggalkan semua ilmu yang didapatnya. “Saya ingin meninggalkan sebuah Standart Operating System (SOP) bagi rekan-rekan dokter di sini. Sehingga mereka tahu bagaimana cara menangani  pasien Odha,” ujarnya dengan mantap. (Khairina)    
         
    
 
 
Newsflash
Untuk pesan dan saran silahkan isi Buku Tamu
 
Who's Online
Saat ini ada 9 tamu online


Daku


YPIParung


Advertisement




Statistics
OS: Linux s
PHP: 5.2.12
MySQL: 5.0.91-community
Waktu: 16:59
Caching: Enabled
GZIP: Disabled
Anggota: 16
Berita: 68
Pranala: 5
Pengunjung: 247325