 Dion sudah lelah menjadi budak narkoba, dirinya bosan menjalani ritual dan rutinitas semu. Tahun 2000, ia memutuskan berhenti dari semua itu. Pesan almarhum ayah, agar ia meninggalkan barang haram tersebut, selalu terngiang di telinganya.
Semua barang pribadi habis terjual, mulai walkman pemberian ibu, sampai pager yang Dion beli dari uang gajinya. Niat untuk berhenti semakin kuat karena semua keluarga mendukung. Tidak ada seorang pun yang menyuruh Dion meninggalkan ‘kenikmatan’ itu, selama lima hari ia harus berjuang sendiri menahan sakaw. Setelah itu Dion memilih tinggal di rumah nenek selama dua bulan, menjauh dari gerombolannya. Setelah dirasa cukup kuat menahan godaan dari obat-obatan, Dion kembali ke Karawaci, Tangerang, tinggal bersama keluarga. Karena kesehatan Dion belum stabil, ia sering mondar-mandir pergi ke dokter. Oleh dokter ia diberi obat penghilang sakaw, dalam waktu lima hari Dion mengaku badannya tidak merasa sakit, seperti umumnya orang yang sedang sakaw. Ia juga disarankan untuk hidup sehat, banyak olah raga dan selalu ‘makan bersih’. Sejak saat itu Dion rajin ikut fitness, ia pun tidak pernah jajan sembarangan. “Gue berusaha hidup sehat, makan teratur, dan rajin olah raga selama tiga tahun. Banyak kegiatan bikin gue lupa sama yang satu itu,” ungkap Dion penuh semangat.
Lebih dari obat
Status anak kutu buku, pernah singgah pada diri Dion. Sejak di bangku SMP ia memang rajin belajar dan masuk rangking teratas di kelas. Dion pun tidak sulit mendapatkan bangku di SMA negeri. “Tapi gue nggak ambil, karena gue ingin sekolah kejuruan,” ujar Dion yang memilih sekolah di daerah Cikini, Jakarta Pusat.
Ternyata lingkungan sekolah yang dipilih Dion membawa dampak buruk bagi dirinya. Di kelas satu, ia telah berkenalan dengan narkoba mulai dari inex, heroin sampai putaw. Obat-obat tersebut membuatnya sulit tidur, bahkan berkonsentrasi. Rumah, menjadi tempat yang paling aman baginya untuk menggunakan obat-obat tersebut.
Menurut Dion, ia tidak pernah kehabisan ‘barang’ dan setiap hari selalu memakainya. Bahkan frekuensinya melebihi dosis obat biasa. “Bangun tidur pagi gue pake lalu mandi, abis sarapan gue pake lagi. Sampai di sekolah gue nyari barang buat nanti malam. Dan hampir setiap malam gue ke diskotik sama teman-teman. Waktu itu gue sempat berpikir, sampai kapan gue harus pake ini obat. Kalau masalah uang, gue nggak pernah kekurangan. Setiap bulan gue dapat jatah dari abang,” ungkapnya.
Nasehat dari Teman Ayah
Walaupun pengguna obat aktif, Dion berhasil lulus dari sekolah. Ia bahkan sempat kuliah di jurusan sastra Inggris, meski hanya dua semester. Dion pun pernah bekerja di salah satu perusahaan penerbangan, tetapi tanpa sebab ia dikeluarkan dari perusahaan tersebut. Perasaan Dion hancur, keputusan itu terpaksa diterimanya.
Akhir tahun 2005 kaki Dion tiba-tiba sakit dan ia tidak bisa berjalan. Dokter saraf mengatakan, kakinya terkena tokso atau virus. Dion pun menjalani perawatan di rumah sakit. Kepada ibu Dion, dokter sempat menanyakan apakah Dion pengguna, ia pun menyarankan agar Dion melakukan pemeriksaan darah. Dion pun sempat dikonseling, agar tidak terlalu kaget ketika menerima hasilnya. “Waktu itu gue minta, hasil gue yang baca duluan, setelah tahu positif baru gue kabarin nyokap. Ia bilang gue harus menjalani semua. Gue yang melakukan, gue harus bertanggungjawab,” ujar Dion mengenang. Pulang dari rumah sakit Dion mendapat pengawalan ketat. Ia tidak boleh pegang uang sama sekali. Ke mana pun Dion pergi, selalu diikuti oleh abangnya. Sempat juga terpikir oleh Dion ingin kabur dari rumah, tapi bagaimana uang saja ia tak punya.
Pengawalan bagi Dion bukan tanpa alasan, ibunya tidak ingin ia menggunakan narkoba lagi, ditambah ayah Dion adalah ketua masjid, wajar bila sorotan yang diberikan masyarakat sekitar begitu kuat. Bahkan para sesepuh masjid yang merupakan teman ayah Dion, ikut menasehati. Ia pun harus bersumpah di bawah Al-Qur’an untuk tidak memakai narkoba, karena mereka tahu Dion telah menjadi target operasi polisi.
Buka Distro
Kini hidup Dion kembali normal, ia merasa jenuh dengan ritual dan rutinitas semu, yang dulu sering dilakukan. Kegiatannya saat ini bergabung dengan kelompok dukungan sebaya untuk Odha di Tangerang. Dion juga membantu mencari tempat untuk pertemuan bulanan. Biasanya kelompok tersebut ngumpul lesehan di lorong klinik Bougenville rumah sakit Tangerang. Setelah sering bertemu dengan anggota Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) dan Dinkes Kota Tangerang, mereka diberi tempat untuk sekretariat Tangerang Support Group (TSG) di Puskesmas Cibodas Sari. Kegiatan pun berjalan di sana.
“Gue ingin menikah dan punya distro sendiri, sekarang gue masih ngambil barang seperti baju dari temen, terus gue jual lagi. Untungnya nggak besar, tetapi cukuplah. Gue bersyukur dikasih sehat dan panjang umur, padahal teman-teman yang dulu ngobat bareng udah pada mati. Di sisa umur gue sekarang, gue masih ingin ngebantu teman-teman Odha, apapun bentuknya, baik fisik maupun materi,” ujar Dion tentang harapannya.
|