Infeksi Bersama Virus Hepatitis dan HIV

“Sewaktu SMA saya dan adik saya menggunakan narkoba suntikan. Sungguh pengalaman pahit yang sukar dilupakan. Kami bersyukur karena berhasil keluar dari ketergantungan pada narkoba. Suatu perjalanan panjang yang amat melelahkan. Untunglah keluarga kami amat mendukung dan pengertian. Sekarang saya selesai kuliah dan sudah bekerja, sedangkan adik saya masih mengerjakan tugas akhirnya. Mudah-mudahan semester depan juga sudah selesai. Kami berdua sudah memeriksakan diri untuk hepatitis dan HIV. Hasilnya saya positif hepatitis C dan HIV, sedangkan adik saya hanya tertular HIV. Saya sudah dua tahun ini menggunakan obat antiretroviral dan CD4 saya sekarang sudah mencapai 300. Sementara CD4 adik saya normal dan sedang menunggu terapi interferon. Ternyata terapi tersebut mahal sekali. Orangtua kami bukanlah orang kaya sehingga kami harus menabung untuk biaya terapi yang mencapai 120 juta setahun…

Bagi orangtua, biaya terapi tersebut amatlah mahal, namun mereka juga tak ingin kami kelak akan menjurus menjadi penderita sirosis hati atau kanker hati. Belajar dari pengalaman terapi antireroviral yang berhasil menjadi murah bahkan gratis, apakah ada kemungkinan terapi hepatitis C juga akan menjadi murah? Adakah alternatif lain selain suntikan interferon yang mahal? Bagaimana pula dengan hepatitis B, apakah terapi hepatitis B juga mahal? Apa beda jika seorang terkena hepatitis C seperti adik saya dibandingkan jika infeksi hepatitis C bersamaan dengan HIV? Apakah virusnya semakin ganas? Mohon penjelasan dokter….”

B di J

Infeksi Bersama Virus Hepatitis dan HIV

Penyakit hepatitis A, B, dan C merupakan penyakit yang sering dijumpai di negeri kita. Penularan hepatitis A berkaitan dengan makanan dan minuman yang tercemar. Namun, penularan hepatitis B dan C melalui cairan tubuh. Pada narkoba suntikan biasanya jarum suntik digunakan bersama sehingga berisiko terjadi penularan virus hepatitis C, B, dan juga HIV.

Pengguna narkoba suntikan yang berobat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sekitar 70 persen tertular hepatitis C, HIV 60 persen, dan hepatitis B 16 persen. Bahkan, ada juga yang sekaligus tertular hepatitis C, hepatitis B, dan HIV. Seperti pernah kita bahas pada ruang konsultasi ini, hepatitis B dan hepatitis C dapat menjadi kronik. Sekitar 5 persen hepatitis B dan 80 persen hepatitis C dapat menjadi kronik sehingga berisiko menjadi sirosis hati atau kanker hati.

Proses menjadi sirosis hati atau kanker hati melalui periode panjang sekitar 20 tahun. Namun, jika terjadi infeksi bersama hepatitis dan HIV, proses menjadi sirosis hati atau kanker hati dapat menjadi lebih cepat. Karena itu, kita perlu peduli pada infeksi bersama ini. Perlu dilakukan pemeriksaan klinis dan tes untuk diagnosis hepatitis kronik serta perlu dilaksanakan terapi. Saat ini terapi hepatitis B kronik dapat dilakukan dengan obat antiretroviral (lamivudin, tenofovir, adefovir, entecavir, dan lain-lain), serta interferon.

Adapun obat hepatitis C kronik pilihan saat ini adalah kombinasi suntikan interferon dan ribavirin. Sebenarnya juga ada obat baru dalam tahap penelitian yang berupa obat tablet untuk hepatitis C, tetapi belum dipasarkan secara luas. Untuk mengendalikan infeksi hepatitis virus, kita harus mencegah penularan dengan gaya hidup bersih dan imunisasi. Sekarang tersedia imunisasi hepatitis A dan B, namun imunisasi untuk hepatitis C masih dalam penelitian.

Terapi antiretroviral telah dapat dimanfaatkan lebih dari 20.000 orang yang memerlukannya di Indonesia. Karena itu, kita juga harus mendorong agar masyarakat juga mampu mengakses vaksin hepatitis dan terapi hepatitis. Agar obat hepatitis dapat terjangkau, pemerintah dapat memberi subsidi (seperti obat antiretroviral) atau harga obat dapat diturunkan agar lebih terjangkau.

Obat mahal

Kita bersyukur sekarang produsen obat paten juga sudah mulai menyadari bahwa obat mereka sulit dijangkau oleh masyarakat luas di Indonesia karena harganya amat mahal. Mereka juga berupaya untuk menurunkan harga. Harga lamivudin, obat hepatitis B yang semula sekitar Rp 900.000 telah turun hampir separuhnya. Namun, harga obat tersebut masih dirasakan mahal oleh masyarakat. Harapan masyarakat tentu harganya semurah mungkin. Jika harganya di bawah Rp 100.000, tentu cukup banyak yang dapat menggunakan mengingat obat ini perlu digunakan dalam jangka lama.

Obat interferon suntikan memang amat mahal. Apalagi bentuk baru obat ini dapat digunakan sekali seminggu. Namun, harganya mencapai seratus juta lebih untuk satu tahun. Padahal, obat ini perlu digunakan 6 bulan sampai setahun. Harga obat mungkin akan lebih murah jika obat tersebut dapat diproduksi di Indonesia. Namun, biaya investasinya mahal dan penggunaannya mungkin juga belum banyak.

Masalah hepatitis tak hanya di Indonesia, tetapi juga merupakan masalah di kawasan ASEAN. Mungkin ada baiknya dijajaki kemungkinan mendirikan pabrik interferon di ASEAN yang dapat digunakan bersama untuk terapi hepatitis di kawasan ini.

Dalam rangka Hari Hepatitis Sedunia, perlu diperhatikan agar penularan hepatitis dapat ditekan. Selain itu, diagnosis dan terapi hepatitis dapat dijangkau masyarakat. Kita berharap Kementerian Kesehatan, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), serta industri farmasi di Indonesia dapat menjalin jaringan untuk menyediakan obat hepatitis yang lebih murah dan terjangkau.

Ibu hamil juga perlu tes hepatitis B karena penyakit ini dapat menular ke bayi. Bayi yang tertular hepatitis B dari ibunya risiko untuk menjadi kronik lebih besar. Karena itu, sejak tahun 1997 pemerintah telah memasukkan vaksin hepatitis B pada anak sebagai vaksin yang dibiayai oleh pemerintah.

Kompas | Samsuridjal Djauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: