Juru parkir selamatkan anak-anak yang hidup dengan HIV/AIDS

‘Tidak sedikit dokter yang jijik dan tak mau menyentuh mereka; malah ada yang menolak mengobati mereka’

Putri baru saja terbangun dari tidur siangnya. Badannya masih lemas terduduk di lantai, tetapi wajahnya menyiratkan senyum menyaksikan kehebohan teman-temannya yang berebut mainan di ruang tengah.

Gadis kecil berusia 3 tahun itu sebelumnya hidup di sebuah hutan di wilayah Jepara, Jawa Tengah bersama neneknya. Kedua orang tuanya meninggal akibat AIDS. Warga desa kemudian mengusir Putri yang terinfeksi HIV sejak lahir karena dianggap sebagai pembawa petaka yang bisa menular ke penduduk lain.

Kini Putri tinggal di sebuah rumah dua lantai seluas 70 meter persegi yang terletak di sebuah gang kecil di Sondakan, Solo, Jawa Tengah. Kontrakan ini digunakan sebagai rumah singgah Lentera, sebuah shelter untuk menampung anak-anak yatim piatu yang terbuang karena mengidap HIV/AIDS.

Selain Putri, ada dua anak perempuan lain seusianya yang menetap di rumah singgah, Lisa dan Akila. Mereka dibuang karena tertular HIV sejak dari kandungan ibu mereka. Tidak ada saudara yang bersedia merawatnya.

Sejak kedua orang tuanya di Kudus meninggal akibat virus yang menggerogoti daya tahan tubuh itu, Lisa dibuang dan hidup di sebuah kandang ayam. Kondisi kesehatannya memburuk dan tak terurus.

Sedangkan Akila hingga kini masih trauma karena sering dicemooh dan dilempari batu oleh warga desa. Bocah ini harus menanggung lara dan mengalami kekerasan di usia dini hanya karena ia mengidap HIV sejak lahir.

Hidup serumah

Foto oleh Ari Susanto

Foto oleh Ari Susanto

Rumah singgah Lentera berdiri sejak 2012 atas inisiatif Puger Mulyono, 42 tahun, seorang juru parkir di Kota Solo yang terketuk hatinya sejak ia pertama kali bertemu Yosef, bocah berusia 2 tahun yang telantar tanpa orang tua dan dibuang keluarga karena terinfeksi HIV. Puger kemudian mengambil dan merawatnya.

“Alasannya sederhana, hanya rasa iba. Bocah sekecil itu kok dibuang, diusir, dan dikucilkan,” kata Puger.

Puger membawa anak-anak itu hidup satu rumah dengan keluarganya. Istrinya, Dewi Setiawati, tak keberatan mengasuh mereka seperti anaknya sendiri. Bahkan, keempat anak kandung Puger dan Dewi kini menganggap mereka seperti saudara kandung, bermain bersama, dan berbagi makanan.

Awalnya anak bungsu mereka, Athala (8 tahun), cemburu karena bapak dan ibunya sering menggendong dan mengurusi balita-balita itu. Mereka juga memanggil keduanya Pak’e dan Buk’e, seperti dia dan kakak-kakaknya memanggil orangtua mereka.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu, si bungsu tahu bahwa anak-anak itu bernasib kurang beruntung dan butuh kasih sayang. Ia pun akhirnya merasa iba.

Puger kemudian dikenal sebagai penampung anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang telantar di Kota Solo. Ia sering dihubungi rumah sakit yang ingin menitipkan ADHA yang sengaja tidak diambil keluarganya.

Anak-anak yang ditampung di rumah singgah rata-rata sudah positif mengidap AIDS dan membutuhkan pengobatan intensif untuk memperpanjang harapan hidup mereka. Bahkan ada yang divonis dokter umurnya tak akan bertahan lama.

Persoalannya, mencari dokter yang ramah ADHA di Solo tidaklah gampang. Banyak dokter yang belum siap menangani mereka.

“Tidak sedikit dokter yang jijik dan tak mau menyentuh mereka, malah ada yang menolak mengobati mereka,” ujar Puger.

Kondisi beberapa anak yang tinggal di rumah singgah sudah mulai membaik, namun mereka tetap terus mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) secara teratur untuk memperlambat perkembangan virus. Di ruang tengah, terpasang white board besar bertuliskan jadwal minum obat yang tak boleh terlewatkan.

Beberapa anak masih memiliki bintik kemerahan di sekujur tubuh mereka, tetapi yang lainnya sudah bersih yang menandakan peningkatan daya tahan tubuh, meskipun belum bebas dari HIV.

Malangnya, ada juga anak yang tidak tertolong. Dua orang anak meninggal karena kondisinya sudah terlampau parah saat ditemukan Puger.

Dari 17 anak yang diasuhnya, kini tinggal 9 anak yang masih menetap di rumah singgah. Sebagian sudah diambil keluarga (saudara) setelah kondisi kesehatan mereka membaik. Kebanyakan anak berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di luar rumah singgah, Puger juga merawat ADHA yang tinggal bersama keluarga mereka. Jumlahnya mencapai 101 anak dan remaja. Setiap bulan, ia rutin mengunjungi dan membawa mereka ke dokter untuk menjalani pengobatan.

Ia juga menikahkan empat orang anak asuhnya yang sudah beranjak dewasa.

“Rumah singgah ini tempatnya terbatas, hanya untuk anak-anak yang telantar. Yang masih punya keluarga lebih baik tinggal bersama mereka, namun tetap kami bantu untuk kontrol pengobatan,” kata Puger.

Terusir dari kampung

Niat Puger untuk menolong dan menampung ADHA telantar tak selalu dianggap baik oleh orang-orang di sekitarnya. Masyarakat kampung menolak keberadaan mereka karena takut tertular HIV. Puger dan keluarga terpaksa berpindah kontrakan dari satu rumah ke rumah lainnya.

Awalnya ia tinggal di Kartasura, Sukoharjo, kemudian pindah ke Laweyan, Solo. Akhir tahun lalu, pemilik kontrakan di Laweyan enggan memperpanjang sewa. Salah satu alasannya, warga kampung berkeberatan dengan keberadaan anak-anak pengidap HIV/AIDS di lingkungan mereka.

Puger kemudian berencana pindah rumah ke Pasar Kliwon, dekat dengan salah satu keluarga istrinya. Sesaat sebelum pindah, warga setempat berdemo di rumah kecil yang akan ditempatinya itu. Mereka menolak jika lokasi itu menjadi rumah singgah ADHA.

“Walikota turun tangan membantu mencarikan beberapa lokasi untuk rumah singgah, namun selalu berakhir dengan penolakan warga,” kata Puger.

Meskipun demikian, ia tidak marah dengan orang-orang yang menolaknya. Puger sadar bahwa pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini masih rendah.

Banyak yang menganggap HIV menular lewat udara, seperti virus flu, atau melalui kontak kulit. Banyak orang tua yang jijik dan melarang anaknya bermain dengan ADHA.

Puger akhirnya bertemu seorang ustadz yang sangat berpengaruh di sebuah kampung di Sondakan yang membantunya mencarikan kontrakan – yang saat ini ditempati untuk rumah singgah – dan memberikan perlindungan dari gangguan warga. Sampai sekarang, tak ada yang berani mengganggu dan mengusir Puger maupun anak-anak di rumah singgah itu.

Menyekolahkan anak-anak

Foto oleh Ari Susanto.

Puger membiayai kebutuhan ADHA dari uang pribadinya meskipun sehari-hari ia hanya bekerja sebagai juru parkir di kawasan Slamet Riyadi. Istrinya membuka toko kelontong kecil-kecilan di rumahnya.

Meskipun pendapatannya tak tentu, Puger dan istrinya selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk anak-anak asuhnya. Mereka juga memenuhi hak anak atas pendidikan dengan menyekolahkan anak-anak yang sudah berusia tujuh tahun ke atas di SD terdekat.

Setiap pukul 6:00, ia mengantarkan mereka satu per satu ke sekolah naik sepeda motor, kemudian menjemput mereka saat jam pulang sekolah.

Mencari sekolah bukan proses yang mudah. Mereka mengalami diskriminasi dalam hal memperoleh akses pendidikan formal, karena banyak guru dan sekolah yang keberatan mendidik dan mengajar anak pengidap HIV/AIDS tanpa memberikan alasan yang jelas.

Bahkan, ada anak yang terpaksa berpindah-pindah sekolah akibat penolakan guru dan wali murid. Meski demikian, Puger tak menyerah mencarikan mereka sekolah yang bersedia menerima anak-anak asuhnya.

“Bagi anak-anak seperti mereka ini yang paling utama adalah berjuang melawan penyakitnya agar bisa hidup lebih lama. Tetapi, sekolah juga tetap perlu,” ujar Puger.

Sementara untuk biaya pengobatan, Puger selalu memprioritaskannya meskipun terkadang sedang kekurangan uang.

Biaya ini merupakan porsi terbesar pengeluaran, karena Puger harus menyiapkan pengobatan lain di luar terapi HIV/AIDS mengingat anak-anak asuhnya gampang sakit. Karena kekebalan tubuh lemah, anak-anak itu sangat ringkih dan rentan tertular virus dan bakteri dari orang yang negatif HIV.

Saat ini, kebutuhan hidup per bulan tak pernah kurang dari Rp 10 juta. Tentu saja penghasilan Puger dan istrinya tak sebesar itu, namun kenyataannya selalu bisa menghidupi anak-anak asuh mereka. Mereka hanya percaya bahwa rezeki semua orang – termasuk anak-anak itu – sudah ada yang mengatur.

“Kami bersyukur, selalu saja ada rezeki untuk mereka. Ada donatur yang memberikan uang, barang, dan bantuan lainnya,” kata Puger.

Menghilangkan stigma negatif

Pada 2015, untuk melegalkan kegiatan sosial yang dilakukan Puger selama ini, rumah singgahnya diubah menjadi Yayasan Lentera melalui Surat Keputusan Kementerian Hukum dan HAM atas bantuan seorang teman. Selain mengelola bantuan, yayasan ini juga merekrut relawan yang bekerja untuk penanganan ADHA.

Dari seorang juru parkir, profesi yang kini masih ditekuninya, Puger kemudian menjadi aktivis kemanusiaan dan anak. Ia sering diundang dalam acara di berbagai daerah, seperti Jakarta dan Bali, terkait penanganan ADHA.

Selain berbagi pengalamannya, Puger juga selalu mengajak orang-orang untuk menghilangkan stigma negatif dan diskriminasi terhadap anak-anak pengidap HIV/AIDS. Sebab, anak-anak itu sudah berat berjuang melawan penyakitnya sendiri sejak lahir.

Ia juga mengajak orang-orang untuk tidak menjauhi ADHA dan tidak perlu takut terinfeksi karena HIV hanya menular melalui cairan darah dan hubungan seksual, tidak menular lewat sentuhan, makanan, dan udara.

 

Sumber : Rappler.com | Ari Susanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: