Kisah Mahasiswa Berprestasi Pengidap HIV

“Semuanya harus cepat sadar, setop narkoba sekarang.”

Roman, begitu nama samarannya adalah sosok yang memesona. Sama sekali tidak terlihat bila Roman mengidap Human Immunodeficieny Virus (HIV) Yakni virus penyebab terjadinya AIDS.

Roman ketika ditemui oleh kami belum lama ini, terlihat lelah karena baru saja menjadi panitia sebuah acara internasional di Jakarta.

“HIV, tidak membatasi kegiatan saya,” ujarnya menbuka pembicaraan.

Ia berkisah, awalnya sempat ragu mengemukakan tentang bagaimana dirinya dapat menderita penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh kepada media.

Roman, saat ini tercatat sebagai seorang mahasiswa perguruan tinggi di Sumatera. Tidak lama lagi, Roman akan mendapatkan gelar sarjana Teknik Industri di tempatnya menimba ilmu.

Menempuh pendidikan tinggi, baginya merupakan hal yang penting, karena ia memiliki cita-cita yang mulia, yakni membuat pabrik yang memiliki karyawan ODHA.

“Biar saling menguatkan. Kalau ODHA juga bisa berkarya dan berprestasi. Tidak pandang usia, cantik atau tampan HIV/AIDS itu dimanapun bisa terinfeksi akan tetapi kembali lagi pada diri individu masing-masing. Bisakah mereka mencegah untuk tidak terkena akibat dari virus ini,” ujar Roman.

Roman rupanya tidak ingin terlalu banyak membicarakan tentang kenapa dirinya bisa terjangkit virus HIV. Baginya, hal tersebut adalah kenangan pahit yang akan selalu membekas dalam kehidupannya. Namun, dengan nada getir, Roman hanya sedikit membuka celah di masa lalunya yang sempat membuatnya merasa tersungkur dan jatuh.

“Semuanya harus cepat sadar, setop narkoba sekarang. Dulu saya bandel sekali. Kerjanya main dokter-dokteran saja (tukar menukar jarum suntik) Sampai suatu hari saya seperti dapat hidayah dan mulai meneruskan kuliah lagi. Ya, Tuhan memang baik, pada akhirnya saya bisa membawa nama harum Indonesia di konferensi yang saya ikuti. Meskipun kegiatan saya sering terganggu karena saya sering cepat lelah,” terangnya.

Roman tentunya ingin membuat teman-temannya tersadar dengan kenyataan yang juga menimpa mereka. Namun ia hanya bisa meneteskan airmata, tatkala nasihat dan ajakannya untuk segera sadar tak diindahkan.

“Waktu aku ajak kuliah mereka gelengkan kepala, kata mereka nanti mati-mati juga, percuma, habiskan dana. Padahal kan masih bisa diobati dengan ARV (Anti Retro Viral). Cuma mereka enggak peduli, jadi saya akhirnya memilih fokus kuliah dan berharap saat saya sukses saya bisa ajak mereka untuk optimis.”

Lalu bagaimana sikap teman-teman Roman dan keluarga yang mengetahui penyakit yang diidapnya?

“Masih banyak yang belum terima, Jadi saya memilih untuk menyembunyikan identitas saya dengan prestasi saya saja. Kalaupun ada yang tahu paling teman baik saya saja atau mantan pemain dokter-dokteran dulu,” ujarnya sambil tersenyum.

“Saya juga ingin menjelaskan kalau ODHA tidak ada bedanya dengan yang lain. ODHA juga mempunyai hak, keuntungan, dan kesempatan yang sama dengan orang yang menderita penyakit serius lainnya. Kalau saya berprestasi jangan dilihat hebat karena saya ODHA, tetapi karena saya seorang mahasiswa Indonesia yang berkarya mengharumkan bangsa,” tutupnya.

*Atas permintaan narasumber,identitas asli tidak disebutkan. Mohon maaf jika ada kesamaan dalam ilustrasi nama dengan pembaca, itu karena ketidaksengajaan.

Sumber : Beritasatu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: