Melawan Narkoba dengan Cinta…

Sebagian besar orang tua pasti pernah menasihati anaknya agar menjauhi teman-teman atau orang yang merokok, mabuk-mabukan atau menggunakan narkoba. Alasan yang diberikan biasanya mengerucut pada keinginan orang tua agar anaknya tidak “ikut-ikutan” atau terbawa pengaruh kegiatan mereka yang menyebabkan kecanduan.

Melihat dengan kacamata yang lebih besar, hampir di setiap negara melancarkan perang terhadap narkoba. Para penggunanya yang tertangkap pun digambarkan sebagai sosok yang mengalami “kecanduan”, sehingga harus diisolasi dari masyarakat baik dalam bentuk rehabilitasi maupun dikurung dalam penjara.

Apakah hal-hal tersebut merupakan cara yang terbaik untuk memberantas penyalahgunaan narkoba?

Menurut Johann Hari, seorang jurnalis yang selama 3 tahun sempat melakukan penelitian tentang upaya perang melawan penyalahgunaan narkoba, hal tersebut merupakan kesalahan besar.

Menurutnya, tidak ada kata “kecanduan” narkoba. Selain itu, upaya untuk mempermalukan serta mengisolasi para pengguna narkoba untuk memberikan efek jera merupakan upaya yang justru semakin menjerumuskan pengguna narkoba ke dalam dunia gelap tersebut. Hari mengutip pernyataan seorang profesor asal Belanda bernama Peter Cohen yang menyebut bahwa kata-kata kecanduan sebaiknya diganti dengan kata “terikat”.

Manusia memiliki kebutuhan alamiah untuk terikat dengan sesuatu. Saat bahagia dan sehat, kita akan mengikatkan diri dan berhubungan dengan satu sama lan. Namun ketika kita tidak dapat melakukan itu, baik karena adanya trauma, terisolasi atau sedang terpuruk, kita akan mengikatkan diri dengan sesuatu yang akan memberikan rasa lega.

Bisa jadi hal tersebut adalah perjudian, pornografi, sabu-sabu atau ganja. Keterikatan ini terjadi karena secara alamiah kita memang membutuhkannya.

Sebuah percobaan yang dilakukan Profesor Psikologi asal Vancouver, Bruce Alexander, menunjukkan bahwa seekor tikus yang ditaruh dalam sebuah kandang kosong, di mana kandang tersebut hanya diisi 1 wadah air mineral biasa dan 1 wadah air yang dicampuri narkoba, dalam beberapa percobaan tikus hampir selalu akan memilih air yang dicampur narkoba. Tikus tersebut kemudian mati karena overdosis.

Namun ketika seekor tikus ditempatkan dalam kandang yang berisikan sejumlah tikus lain, bola-bola warna-warni, terowongan mainan dan tumpukan keju, tikus itu hampir selalu memilih air mineral biasa. Bahkan dalam percobaan yang dilakukan Bruce Alexander, tikus yang mati akibat overdosis berjumlah nol.

Hal ini menggambarkan apabila kita memiliki kehidupan yang bahagia dan memiliki ikatan sosial yang kuat maka kita akan lebih cenderung menjauhi narkoba. Sebaliknya, jika kita merasa kesepian dan tertekan kita akan cenderung mengikatkan diri pada narkoba.

Di kehidupan nyata, Hari mencontohkan peristiwa perang Vietnam dimana 20 persen tentara Amerika menggunakan narkoba saat menjalakan tugasnya di sana. Namun ketika pulang ke AS dan kembali bertemu dengan keluarga masing-masing, 95 persen tentara yang menggunakan narkoba tersebut berhenti dan tidak lagi mendekati narkoba.

Portugal merupakan salah satu negara yang memiliki masalah penyalahgunaan narkoba dimana pada tahun 2000, satu persen dari populasinya merupakan pengguna aktif narkoba. Portugal menerapkan sistem yang mengisolasi dan mempermalukan para pengguna narkoba sebagai upaya pemberantasan, namun justru jumlah pengguna terus meningkat.

Hingga akhirnya pemerintah melakukan reformasi program pemberantasan narkoba dengan mengalihkan anggaran untuk memenjarakan dan mengisolasi para pengguna narkoba, kepada program yang justru menghubungkan dan mendekatkan mereka pada masyarakat. Pembukaan lapangan kerja besar-besaran, pinjaman usaha dan pemberian subsidi sebesar 50 persen untuk uang gaji yang dikeluarkan para pengusaha dalam menggaji para pengguna narkoba.

Hasilnya dalam 15 tahun semenjak program tersebut dijalankan, jumlah pengguna narkoba berkurang hingga 50 persen, begitu juga dengan jumlah kasus overdosis dan HIV dikalangan pengguna narkoba.

Menurutnya, pesan utama “kamu tidak sendirian, kami menyayangimu” harus selalu ada saat kita mencoba berhubungan dengan para pengguna narkoba.

Sumber : Kumparan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: