Menyiapkan Budaya Untuk Menyambut Kemakmuran di Tahun 2030

Peter Diamandis penulis buku “Abundance” meramalkan pada tahun 2030 umat manusia akan menikmati era kemakmuran. Ramalannya berdasarkan perkembangan teknologi yang sifatnya eksponensial. Dia membandingkan 20 tahun yang lalu dan sekarang.

Mobile phone kita yang ada aplikasi android yang sederhana harganya sekitar 1,5 juta sebenarnya memuat alat telepon, mesin tik, televisi, radio, jam, kompas, kalkulator, video player, kamera, kamus , perpustakaan, GPS dan lain lain. GPS (Globat Positioning System) dulu biasanya digunakan oleh kapal laut untuk menentukan posisi dalam pelayaran, besar alatnya sekitar lemari kecil dengan berat 50 pound dan harganya sekitar 200 ribu dolar.

Sekarang hanya beberapa cm saja dan ada dalam chip di HP kita dengan harga sekitar 2 dolar. Jadi benda-benda yang memerlukan ruang besar untuk penyimpanannya dapat dikecilkan hanya sebesar HP dengan fungsi yang sama bahkan lebih cepat dan akurat. Harga benda-benda tersebut dulu sekitar 14 milyar dan sekarang hanya menjadi 1,5 juta rupiah berkat teknologi.

Kemajuan teknologi yang eksponensial ini juga mempengaruhi produksi pangan, penyediaan energi termasuk energi terbarukan, komunikasi yang cepat dan dapat dilakukan jarak jauh. Jika dulu kita menelpon jarak jauh dari Amerika ke Indonesia sekitar 30 menit biayanya dapat mencapai satu juta rupiah sekarang dengan WIFI biaya bisa cuma-cuma atau gratis. Teknologi tak hanya dapat dinikmati oleh kalangan terdidik atau kalangan kaya namun dapat dinikmati semua orang karena murah dan penggunaannya murah.

Jika ramalan Peter Diamandis terwujud maka kita manusia akan menikmati sumber daya alam yang cukup untuk semua. Pada tahun 2030 nanti ketersediaan pangan cukup untuk 9 milyar penduduk bumi ini. Masalahnya adalah apakah kita mau membagi sumber daya alam tersebut dengan adil atau maukah kita berbagi rezeki dengan saudara kita yang kekurangan. Peter menganjurkan agar nanti kita membangun budaya baru yaitu budaya yang sesuai dengan era abundance.

Ini berarti kita percaya Allah telah melimpahkan karuniaNya cukup untuk seluruh makhlukNya. Umat manusia perlu mempunyai budaya yang mau berbagi, saling tolong menolong. Merubah sikap dari sikap kompetensi menjadi kolaborasi. Generasi baru ingin kaya dan hidup tapi tak terlalu kaya. Ingin punya rumah tapi satu rumah sudah cukup. Sikap mau berbagi, baik pengalaman maupun rezeki. Berusaha untuk menolong dan mendorong saudaranya yang belum maju. Sikap hidup cukup dan tak serakah ini akan bermanfaat untuk penggunaan sumber daya alam yang tak berlebihan. Mungkinkah keadaan ini terwujud ?

Di Ciseeng, sebuah desa di kabupaten Bogor sekelompok remaja desa yang menamakan diri Pelita Desa, mencoba mempraktekkan kehidupan yang yang serba cukup tapi tak serakah ini (pelitadesa.com). Mereka ingin maju seperti juga remaja kota. Mereka ingin berbagi dengan teman-teman mereka sesama remaja desa seluruh nusantara bahkan dunia. Mereka ingin mengunjungi desa-desa di Nusantara namun juga ingin menyaksikan keindahan alam desa di luar negeri.

Sampai saat ini mereka telah berbagi dengan sekitar 30 desa di Indonesia mulai dari Tanjung Lesung Pandeglang, Pangandaran (Sukabumi), Cirebon, Temanggung, Wonosobo, Lombok, Sumbawa, Ende, desa di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan, Kendari, Minahasa dll. Pelita Desa berbagi pengalaman dan mendorong remaja di desa tersebut ikut dalam membangun desa mereka dengan memanfaatkan teknologi termasuk teknologi informasi.

Melalui teknologi, investasi tak hanya bergantung pada investor yang ada di desa tapi dapat dari luar desa, luar propinsi bahkan luar negeri. Produktivitas pertanian, peternakan dapat ditingkatkan dengan teknologi. Pemasaran tak hanya tergantung pada pembeli sekitar desa dapat ke luar kabupaten, luar propinsi bahkan juga luar negeri. Remaja Ciseeng telah berhasil mengekspor ikan hias dan udang hias ke sepuluh negara. Mereka ikut dalam berbagai kursus dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan. Mereka juga mampu berkunjung ke Malaysia, Thailand, Taiwan, Jepang dan berencana untuk melihat peternakan sapi di New Zealand serta belajar dari negera lain yang diperlukan. Apakah mereka mampu membiayai perjalanan dan biaya kursus ? Ternyata bisa.

Usaha remaja desa mencakup pertanian, peternakan, perikanan dan wisata desa. Mereka juga menghasilkan buah buah eksotik serta ikan hias yang dapat diekspor ke luar negeri. Remaja desa tak perlu kalah dari temannya di kota. Bahkan usaha di desa sekarang lebih menjanjikan karena belum terlalu banyak saingan, yang diperlukan adalah keinginan untuk maju dan penguasaan teknologi terutama teknologi informatika.

Usaha pemula (start up) igrow (igrow.com) didirikan oleh Iqbal dkk. Start up ini mencarikan modal untuk desa, menyewa tanah terlantar dan bekerja sama dengan petani yang sudah berpengalaman menggarap tanah. Igrow juga bekerjasama dengan peternak dan yang utama igrow juga memasarkan hasil tani dan ternak ke daerah mana saja yang memerlukan baik di Indonesia maupun di luar negeri. Mudah-mudahan sikap remaja desa juga mau berbagi dan menolong juga akan menjadi kebiasaan remaja kota. Dengan demikian akan terbangun sebuah generasi yang mempunyai budaya yang mendukung kemakmuran untuk semua di tahun 2030.

Samsuridjal Djauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: