ODHA Itu adalah Sahabatku…

Berteman dengan penderita HIV sama sekali tidak bermasalah untukku. Seorang teman lama, sebut saja Lala. Dia seumur denganku. Anaknya hanya 1 orang, sudah kuliah. Dan dia luar biasa baik kepadaku, sejak sebelum aku sakt, bahkan sampai sekarang, selalu mendukungku. Kami berteman bahkan bersahabat sejak sekitar tahun 2004. Sudah cukup lama.

Sebenarnya dulu dia baik2 saja. Sehat. Semangat. Dan bahagia. Tetapi ketika permasalahan melanda bisnisnya, dan mitra bisnis membuat Lala harus berkutat dengan pengadilan, hidup Lala menjadi berantakan. Walau sekarang Lala sudah bekerja lagi, tetapi trauma itu menjadikan dia belum mampu berdiri dengan tegap dalam menatap masa depan …..

Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Bahkan ber-bbm-an saja, jarang karena masing2 kesibukan. Aku dengan pekerjaanku, hobiku dan aktifitas sosialku. Dan Lala dengan kegiatannya sendiri. Tetapi ketika suatu saat sempat bertemu dengannya di sebuah mall, kenangan manis dengan persahabatan kami langsung menyeruak. Sampai siang kami ngobrol dengan Lala di sebuah cafe, dan setelah itu kami sering ber-bbm-an, sampai sekarang. Itu sekitar 2 tahun lalu.

Cerita Lala tidak atau belum berubah dengan permasalahannya. Padahal kehidupan dan kegiatanku terus berubah. Dari sebelum sakit, lalu lumpuh, bangkit dan terus bekerja serta melakukan apapun yang aku inginkan. Semuanya terus berubah. Sehingga, sungguh, aku sangat mengerti bahwa sejak kami sama2 sibuk, atau paling tidak 2 tahun ini, kehidupan Lala sepertinya ’stuck’ disini, hanya diam ditempat. Bahkan, beberapa waktu yang lalu, aku dikejutkan bahwa Lala mengidap penyakit HIV Aids. Ya, Lala sekarang adalah seorang ODHA ( orang dengan HIV dan Aids ).

Aku benar2 tersentak! Bukan karena aku takut, tapi aku sangat prihatin dengan keadaannya. Ya, ketika aku bertemu lagi dengan Lala di sebuah Gereja untuk aku bersaksi disana, aku melihat Lala semakin kurus dan wajahnya tidak bersinar. Lala yang sebelumnya cantik, selalu berdandan ala sosialita, ceria dan sangat percaya diri, berubah menjadi Lala yang pendiam, wajahnya tidak bersinar dan menutup diri dan dandanannya berubah menjadi seorang perempuan setengah baya yang bersahaja …..

Lala menutup mulutnya rapat2, kepada orang lain, lebih2 kepada anaknya. Katanya, hanya dengan akulah dia bisa terbuka.

Catatan :

Aku sudah meminta ijin untuk menulis artikel ini, tetapi semua nama disamarkan.

Dia benar2 menarik diri dari lingkungannya. Pekerjaannya sepertinya ditinggalkannya. Aku tidak tahu persis nya apa pekerjaannya, dan tidak pernah bertanya2 kepadanya. Bebannya sudah cukup berat tanpa aku mengusiknya dengan pertanyaan2. Sehingga perjalanan persahabatanku dengan Lala sekarang ini lebih kepada saling mendukung dan saling mengerti untuk bisa memahami tentang pribadi lepas pribadi.

Selama 2 tahun ini, aku sempat mengamati tentang Lala. Dari pertama Lala bercerita tentang ODHA, dia pun masih tetap ‘terkucil’. Bukan! Bukan karena teman2nya ( atau aku ) mengucilkan dia, tetapi justru Lala nya yang ‘mengucilkan’ dirinya sendiri. Kebetulan dia bekerja di sebuah perusahaan yang kerjanya tidak harus di kantor, sehingga dia justru bergembira ketika dia ternyata bisa bekerja di rumah, lewat internet atau telepon. Sehingga, makin terkucilan dia. Seharusnya, justru dia tetap ceria dan percaya diri, bukan malah mengurung diri ……

Sering Lala melepaskan uneg2nya. Dia beercerita bahwa dia takut karena katanya HIV tidak ada ( atau belum ada? ) obatnya, sehingga dia ketakutan karena ’sebentar lagi aku akan mati’. Untuk yang ini aku bisa mengatakan bahwa,

‘Aku adalah insan pasca stroke. Bawa aku akan ’sembuh’ itu berdasarkan kepada semangatku. Bahwa ’sembuh’ itu bukan berarti tanpa cacat, tetapi ’sembuh itu berasal dari hati yang bahagia ……’

Berikutnya adalah tentang ( katanya ) dia hidup dalam kesia-siaan. Bahwa sisa hidupnya merupakan kesia-siaan, sehingga terlihat dia semakin lama semakin terpuruk. Apalagi, dia memutuskan untuk tidak mau berbagi dengan teman2nya. Dia mengatakan, bahwa kemungkinan besar teman2nya takut untuk berteman dengan nya lagi. Karena memang masih banyak yang tidak tahu bahwa HIV tidak ditularkan HANYA sekedar memegang tangan saja.

Sosialisasi tentang penyakit HIV Aids memang harus terus dikumandangkan. Seperti aku selalu menulis tentang insan pasca stroke. Bahwa benar, masih banyak yang tidak tahu tentang stroke dan masih banyak yang tidak peduli dengan ‘hati seorang pasca stroke’. Apalagi insan pasca stroke itu seorang yang lumpuh separuh tubuh, seperti aku. Dan dengan bersosialisasi dan mensosialisasikan tentang stroke, justru aku ’sembuh’ dan ‘hidup’ kembali. Bahwa sembuh ku itu bukan sembuh dari cacat, tetapi hati yang berbahagia membuat aku senang dan terus ceria sepanjang aku tetap tegar dan berserah ……

Dan itulah yang aku inginkan dengan Lala, seorang ODHA, sahabat yang tersayang, yang seharusnya mampu untuk berbut lebih dari aku, yang cacat secara fisik. Ya, ODHA tidak akan terlihat secara kasat mata, berbeda dengan insan pasca stroke. Fisiknya benar2 nyata sebagai manusia disabled. Tetapi tidak dengan ODHA. Sehingga, tidak salah yang aku katakan bahwa Lala seharusnya akan mampu berbuat lebih dari aku, yang secara fisik adalah cacat …..

***

Bersahabat dengan ODHA bukan berarti tidak akan tertular secara negatif. Justru kitalah yang harus ‘menularkan’ sebuah semangat untuk penderita. Supaya mereka tetap mampu menapaki masa depannya sebagai seorang ODHA. Seperti aku sebagai insan pasca stroke, teman2 dan sahabat2ku sangat mendukungku sewaku aku selalu membuka diri dan hatiku untuk sebuah kasih dan semamgat bagi hidup yang lebih baik.

Manusia sama sekali tidak mungkin tahu rahasi Tuhan, kapan kita akan dipanggil menghadap NYA. Jangan2 yang sehatlah yang lebih dulu dipanggil dibanding dengan kita. Tetapi berpasrahlah serta terus berdoa untuk sebuah upaya penyembuhan diri sebagai manusia yang ( salah satunya ) mempunyai penyakit2 yang ( katanya ) tidak tersembuhkan …..

Lala,
Doaku untukmu. Tetap semangat dan tetap berdoa serta bersyukur untuk sebuah pengharapan dalam Kasih Tuhan ……

(christiesuharto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: