Pecandu Narkoba Jadi Petani Sukses Berkat Zakat Kita

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
(HR. Ahmad, Tabrani)

Hari itu, tepatnya April 2019, saya terkagum dengan seorang pria yang berada di panggung kecil, tepat di depan saya duduk. Satu kalimat yang membekas di ingatan saya, pria ini ingin dirinya bermanfaat untuk banyak orang demi menebus kesalahannya di masa lalu. Dirinya mengaku, pernah mengalami over dosis karena narkoba namun tetap hidup berkat rahmat Allah.

Seperti ada monster kecil di kepala saya

Namanya Ade Rukmana. Biasa dipanggil Ade. Dia adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Menurut penuturannya, dia anak yang paling “bengkok” dari ketiga kakak-kakaknya. Hingga pada usia 13 atau 14 tahun, Ade yang saat itu kelas 1 SMP mulai mengenal narkoba bersama teman-temannya. Alasannya cuma satu, demi sebuah eksistensi.

Ade yang saat itu masih bersekolah, mulai kecanduan dengan obat-obatan terlarang. Hampir semua jenis Narkoba, sudah pernah dia rasakan. Dari seorang pecandu, Ade menjadi penjual demi memenuhi hasratnya menikmati obat setan itu. Kurang lebih 11 tahun, Ade ‘berteman’ dengan Narkoba. “Saat itu, saya merasa ini bukan saya. Kayak ada monster kecil di kepala saya. Semua yang diberikan Tuhan, saya nggak bisa ngerasain.” Cerita Ade tentang apa yang ada dipikirannya saat itu.

Hingga pada suatu masa, Ade over dosis dan dilarikan ke rumah sakit. Ade merasa depresi. Ingin rasanya, Tuhan segera mencabut nyawanya. Ia melihat kedua orang tuanya merasa sakit akibat ulahnya. Inilah kiamat kecil bagi keluarganya. Mamanya menangis melihat kondisinya saat itu.

“Darah saya memanggil…”

“Setelah sembuh, dari rumah sakit, saya dibawa ke panti rehabilitasi, Rumah Cemara. Pikiran saya mulai terbuka tentang kehidupan. Saya mutusin buat balik ke kampung untuk usaha pertanian. Tapi masyarakat memandang saya sebelah mata. terus bisnis saya gagal. Saya memakai narkoba lagi.” Kenang Mas Ade di awal masa kesembuhannya yang pertama.

Mas Ade pun kembali ke Rumah Cemara. Kata pendampingnya, dia harus bekerja di sini sambil hijrah agar tidak kembali ke jalan yang salah. Hampir 8 tahun Mas Ade mengabdi di tempat itu. Dia benar-benar bersih dari Narkoba. Tapi ada yang mengganjal di hatinya. Dia ingin mengabdi untuk kampungnya lagi. Mas Ade pun keluar dari pekerjaannya dan kembali ke kampung halaman.

Masyarakat masih memandang Ade sebelah mata. Tapi hatinya lebih “siap” dari sebelumnya. Itu hak mereka untuk menganggap Ade adalah butiran debu. Fokusnya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan masyarakat kecil. Ade kembali membangun bisnis pertaniannya dari nol. Jatuh bangun di 3 tahun pertama bahkan sampai harus mengutang sana sini, Ade merasa kuat. Pandangan warga sekitar pada dirinya, sudah tidak digubrisnya lagi.

Bantuan dari Zakat masyarakat

Setelah dirinya berhasil melewati di 3 tahun pertama yang penuh dengan kesulitan, Ade mulai bangkit. Tidak mau maju sendirian, Ade mencoba mengajak masyarakat kecil di lingkungan sekitarnya untuk bertani dengan membentuk kelompok tani yang diberi nama Macakal yang artinya berdikari. Namun Ade sadar, dia tidak punya modal yang cukup untuk memfasilitasi Desa Tani-nya.

Tidak mau menyerah, Ade mengirim proposal kepada pihak Dompet Dhuafa untuk memberikan manfaat zakat kepada kelompok taninya. Dia tahu, kalau Dompet Dhuafa tidak hanya menyalurkan zakat dalam bentuk uang dan makanan, tapi juga membantu pemberian dana hibah untuk memutus lingkaran kemiskinan di Indonesia. Dompet Dhuafa merangkul masyarakat di seluruh daerah dengan berbagai program pemberdayaan, agar terciptanya entrepreneur dan lapangan kerja baru.

Keinginannya untuk memakmurkan buruh tani, petani kecil, dan petani yang merambah hutan mulai kelihatan hasilnya. Dana hibah yang diberikan oleh Dompet Dhuafa bisa merangkul 15 petani dengan luas tanah lebih dari 1 hektar. Usahanya melebihi target yang dicanangkan. Bahkan dari hasil pertanian tersebut, para petani bisa membantu petani lain dengan budaya gotong royong.

Saya membuat mama nangis lagi

“Sekarang, saya menjadi Pendamping Penerima Manfaat Zakat untuk pertanian di Jawa Barat untuk Dompet Dhuafa. Saya juga punya perusahaan sendiri di bidang pertanian. Tokoh masyarakat di kampung saya malahan sekarang sering meminta bantuan ke saya. Mama saya sampe nangis melihat saya saat ini. Nggak cuma angkat nama keluarga, saya juga angkat nama baik Cibodas.” Ujar Mas Ade bahagia.

“Saya berharap pertanian di Indonesia semakin baik. Saya yakin, Indonesia bakal maju dari hasil pertaniannya karena Indonesia adalah negara agraris. Asal ada generasi penerusnya yang mau bertani. Makanya saya ingin menghapus stigma negatif kalau petani itu kotor, bodoh, dan miskin. Saya juga berharap petani-petani yang dulunya dibantu dari zakat, untuk tidak lupa membayar zakat.” Harap Mas Ade sambil menutup obrolan ini.

Oleh : Aditya Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: