Pria Negatif, Rela Nikahi Wanita Positif HIV

Minggu, 13 November 2011, menjadi hari penting bagi lelaki berusia empat puluh tahun ini. Dia memilih langkah berani, menikahi seorang wanita yang positif terjangkit HIV. Saat ditemui, dia pun bercerita tentang pilihannya itu.

Ketika ditemui pekan lalu di rumahnya yang berada di Tanjungmorawa, lelaki ini meminta agar namanya tidak dikorankan. Bukan karena merasa tidak siap, namun agar apa yang dia sampaikan lebih menjadi perhatian dibanding profilnya.

“Pertemuan kami terjadi pada awal 2010. Saat itu aku gak pernah tau, kalau wanita yang kukenal dan kusayangi selama ini ternyata mengidap HIV. Pengakuan itu sendiri aku dapat dari dia (istrinya, Red). Mendengar pengakuan itu, jujur aku sempat galau dan bingung untuk memutuskan langkah selanjutnya, hingga aku meminta waktu kepadanya selama seminggu untuk meyakinkanku dalam mengambil keputusan,” kenang lelaki berinisial TM itu.

Untuk mencari tahu perihal risiko dan dampak yang akan timbul dengan menikahi seorang pengidap HIV, TM mengaku sering berkonsultasi dengan Dewi Sundari, Direktur Program Sumatera Peduli Kesehatan (SPKS). Dewi adalah konselor dan pendamping para ODHA, khususnya isteri TM.

Konsultasi dilakukan TM untuk mendapatkan informasi tingkat risiko yang akan diterima, juga bagaimana menyiasati agar penularan HIV berhenti pada isterinya saja.

Bahkan, untuk menguatkan iktikad baiknya itu, TM juga sering mengikuti kisah almarhum Syifa, kisah bayi yang telah meninggal akibat HIV yang didapat dari kedua orangtua kandungnya pada 2010 lalu.

“Aku sering juga ngikuti kisah Syifa di beberapa media untuk referensi hidupku. Bisa dilihat dan kunilai, bahwa HIV yang didapat Syifa, bukanlah akibat dari perbuatan yang dilakukannya, melainkan hanya sebagai korban dari kedua orangtua kandungnya. Hal ini jugalah yang menguatkan aku untuk menerima dia menjadi isteriku. Karena yang aku ketahui, dia juga mengidap HIV bukan dari kelakuannya melainkan ditularkan dari almarhum suaminya terdahulu,” ungkap TM.

TM memiliki latar belakang pria bertatus duda setelah ditinggal mati isteri tercinta pada 2005 lalu. Ketika merajut kasih dengan almarhum isterinya selama lebih kurang lima tahun, TM belum memiliki seorang momongan. Akhirnya, dia memutuskan untuk menikah lagi setelah lima tahun menjalani hidup dengan status duda.

Tak terbersit sebelumnya, jika perkenalan TM dengan LH (istri TM), menjadi sebuah hubungan serius dibalik penyakit HIV yang membayanginya. Sempat menjalani hubungan hampir setahun, tepatnya pada 2011, TM memutuskan untuk merajut rumah tangga dengan segala resiko terburuk yang bakal menimpanya.

Setelah menikahi LH, TM berkeinginan untuk bisa mendapatkan keturunan meskipun harus menjalani program Preventing Mother to Child Transmission (PMTCT). Yakni pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi.

Lalu, seperti apa sikap LH ketika masa awal hubungan mereka? LH, yang siang itu berada di samping TM, langsung berbagi kisah. “Perkenalan empat bulan pertama dengan dia (TM, Red), saya sudah memberanikan diri menyatakan status karena melihat latar belakangnya. Apalagi dia ramah, baik, serta tulus mencintaiku. Dia juga pria berstatus duda setelah ditinggal mati isterinya terdahulu tanpa anak. Hal inilah yang semakin menguatkan niatku untuk mengungkapkan perihal penyakitku,” ungkapnya.

Memang, menurut LH, ketika menyampaikan status HIV-nya, ada sebuah perasaan ketakutan akan ditolak dan dijauhi. “Alhamdulillah dia bisa menerimanya juga walaupun harus menunggu seminggu untuk memutuskannya,” terangnya.

Akhirnya meraka berkomitmen untuk merajut rumah tangga dengan segala risiko. “Kami menikah di kampung suamiku di Perbaungan. Hingga kini aku cukup berbangga hati, suamiku mampu menutup rapat status HIV-ku. Dan, hingga kini tak ada keluarga yang mengetahui statusku itu,” ungkap wanita yang memiliki badan sedikit sintal itu.

Mengenai kehidupan dengan almarhum suami pertamanya SN, LH menuturkan jika dirinya menikah dengan suami pertamanya pada bulan Juni, 2001 silam. Delapan tahun menikah LH dan almarhum SN dikaruniai dua orang anak. Hanya saja di awal 2009 sang suami rentan menderita sakit hingga harus berulang kali menjalani perawatan di Puskesmas ataupun rumah sakit yang tak jauh dari kediamannya.

Hingga akhirnya, Dewi Sundari yang melihat ada sesuatu yang ganjil pada diri SN, mengajaknya untuk memeriksakan darah di Volentary Conselling Testing (VCT).

“Saat itulah baru diketahui jika suamiku ternyata mengidap HIV. Ada sebuah ketakutan dan kegalauan mendalam dari diriku karena harus menanggung sebuah beban yang tak mungkin mampu aku jalani,”ucapnya sedih.

Sementara HIV yang didapat suami LH sesuai pengakuannya adalah buah dari kebebasan dan kenakalan di masa remaja. Melihat kondisi itu, LH selanjutnya memberanikan diri memeriksakan darah untuk mengetahui statusnya. Hasilnya sesuai dengan apa yang telah dibayangkan di benaknya. LH juga divonis HIV. “Alhamdulillah kedua anakku ternyata tidak tertular HIV dan mereka bisa hidup bahagia. Inilah yang menjadikan aku tetap kuat untuk menapaki hidup berikutnya,” kenang LH.

Kini dengan pernikahan keduanya dengan TM, ada sebuah harapan dan tujuan hidup untuk bisa membesarkan kedua anaknya. Mungkin saja, kedepannya mereka akan berencana memiliki anak. “Suamiku anak tertua dari keluarganya. Ada harapan jika dia bisa memberikan cucu buat kedua orangtuanya yang tak didapatnya dari isteri pertama,” ungkap LH.

Sementara Dewi selaku konselor yang membidangi masalah HIV mengaku pernikahan pasangan negatif dan positif dengan landasan kejujuran jarang ditemuinya. Namun pernikahan ini menurutnya memberikan pelajaran kepada masyarakat bahwa penderita HIV tidak untuk dijauhi. “Melihat hal ini bisa membuktikan bahwa penderita HIV bukan untuk ditakuti. Apalagi jika wanita yang menderita HIV positif memiliki risiko yang kecil untuk menularkan ke pasangannya,” ucapnya.

Namun Dewi tidak menyangkal jika masih banyak pederita HIV yang belum berani membuka statusnya. Selain karena takut dijauhi juga takut mendapatkan intimidasi dari masyarakat sekitar. “Masih banyak masyarakat yang menganggap tabu dengan HIV sehingga tidak bisa menerima keberadaan para ODHA. Hal ini juga menjadi alasan LH tetap menutup diri di masyarakat,” ujar Dewi. (*)

Sumber : SumutPos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: