Puasa sebagai Antiadiksi

PUASA adalah ajaran umat pada semua agama. Kendati ada perbedaan dalam ritus, filosofi yang melingkupi sama, yaitu mengontrol hawa nafsu dan ego, serta mempertebal kepedulian terhadap orang lain. Dalam Islam, sejak Nabi Muhammad saw, konsep puasa hingga kini tidak banyak berubah.

Konsep itu adalah berpantang makan dan minum, termasuk berperilaku yang dianggap perlu untuk dijauhi pada saat tertentu. Konsep ini sebenarnya menjadi pelajaran mudah untuk menghadapi kesulitan hidup. Banyak orang merasa tidak bisa hidup tanpa rokok, misalnya. Banyak orang merasa tak bisa hidup tanpa makan dan minum yang terkontrol.

Banyak orang tak dapat menguasai nafsu inderawi mereka. Dengan berpuasa, terutama pada bulan Ramadan, kita bisa mengatasi semua keberatan di bawah alam sadar itu. Dalam kondisi tertentu, orang berpuasa mengeluarkan asam lambung, dan dengan tidak adanya makanan, bisa menyebabkan sakit maag.

Tetapi dengan sugesti pribadi atau autosugesti, dengan mudah otak bisa diperintah mengubah ritme harian sehingga yang seharusnya menyuruh lambung mengeluarkan asam pada jam tertentu, bisa tidak jadi ke luar. Faktor Adiksi Realitas itu mengajarkan bahwa tubuh punya mekanisme sangat sempurna untuk mengatasi problem sehari-hari. Susunan kimia dan darah dalam tubuh bisa berubah, menyesuaikan diri, sehingga tak ada gangguan patologi ketika orang itu berpuasa.

Adiksi atau kecanduan, terutama terhadap narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (napza) dan rokok merupakan tantangan berat bagi pecandu. Bila rasa ketagihan itu datang, dalam istilah kecanduan disebut giting, tubuh seperti memaksa untuk memenuhi akan zat itu. Bila tidak dipenuhi, tubuh mengeluarkan hormon nyeri seperti prostaglandin dan serotonin yang membuat semua saraf merespons dengan rasa nyeri luar biasa. Orang yang kecanduan narkoba berat, seperti heroin (putaw) atau morfin akan mengeluarkan banyak kormon sehingga ia akan merasakan nyeri luar biasa.

Sedemikian sakitnya, ia bisa menangis, berteriak, mengeluarkan peluh, mata merah, kejang dan lain-lain. Beberapa orang yang tidak kuat akan menyakiti diri, bahkan bunuh diri. Dalam rumah perawatan korban narkoba, pasien dibiarkan menderita kesakitan, hanya dihindarkan dari upaya menyakiti diri dengan cara diikat atau diawasi secara ketat. Pada panti rehab berbasis Islam, keadaan sakaw itu kerap diatasi dengan terapi mandi diguyur air dingin. Konsep pengobatan itu disebut Cold Turkey. Adapun rumah sakit sering menggunakan model substitusi atau tapering off, yakni pecandu diberi obat dengan dosis menurun sehingga secara alami hormon sakit dan nyaman (endorfin) menjadi seimbang.

Menghilangkan sakaw tidaklah sulit, yang sulit adalah bagaimana mempertahankan abstinen (tidak memakai drug) selama mungkin. Beberapa dokter patologi anatomi menemukan jejak di dalam otak ketika seseorang menggunakan narkoba dalam jangka lama. ’’Cacat’’ itu sering dianggap bahwa proses kecanduan akan terjadi pada seseorang seumur hidup. Niat Kuat Puasa terbukti membuat konsep diri, baik pada alam sadar maupun bawah sadar, berubah sesuai keinginan dan niat.

Begitu juga dalam kasus adiksi. Seseorang yang punya motivasi kuat menghentikan kecanduan narkoba, dengan niat teguh, ia bisa menghentikan proses kimia dalam tubuh yang membuatnya ketagihan. Niat untuk sembuh akan menekan hormon prostaglandin yang dilepas oleh kelenjar neurotransmitter. Penelitian yang dilakukan para ahli tentang kecanduan menunjukkan bahwa niat untuk berhenti dan puasa narkoba, membuat produksi hormon sakit berkurang dan sebaliknya hormon nyaman meningkat.

Dari dasar itulah maka pengobatan pecandu narkoba jenis berat seperti putaw dengan metoda therapeutic community ataupun napza anonymous, mengedepankan konsep niat tersebut. Tiap pagi, siang, dan malam, pasien disuruh membaca atau menghafal kalimat yang isinya perasaan ketidakberdayaan menghadapi kecanduan dan memohon pertolongan Tuhan melalui doa untuk dikuatkan menghadapinya dan supaya tidak muncul kecanduan. Realitasnya dengan konsep niat dan berpuasa, kecanduan itu bisa hilang.

Proses selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan tidak kecanduan selama mungkin. Konsep niat dan puasa bila dilakukan terus menerus, mampu menekan rasa kecanduan hingga hilang sendiri. Ibarat berpuasa Senin Kamis atau puasa ala Nabi Daud as, maka pecandu yang menerapkan konsep puasa disertai penguatan diri dan lingkungan, akan terhindar dari kecanduan. Sehari-hari kita sering melihat efek puasa pada kecanduan rokok. Banyak orang mengatakan tak bisa meninggalkan rokok. Bila ia menghentikan maka ia akan sakaw, yang ditandai dengan rasa tak nyaman, bingung, sulit berpikir dan sebagainya.

Acap mereka konsultasi ke dokter tapi gagal menghentikan kecanduannya walau mendapat terapi. Faktanya, ketika Ramadan tiba, dengan sepenggal niat puasa maka mekanisme kimia yang selama ini membuatnya kecanduan rokok langsung hilang. Kini kita senyatanya bisa melihat bahwa puasa sebenarnya merupakan obat bagi kecanduan apa pun, termasuk narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (napza), rokok, dan sebagainya. ’’Obat’’ itu terbukti sangat manjur dan murah.

(Budi Laksono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: