SOCIAL ENTERPRENEURSHIP Sebagai Upaya Pemberdayaan ODHA

Ibarat fenomena gunung es, begitulah kasus HIV-AIDS yang terjadi. Hanya tampak dari permukaan saja tetapi sebenarnya kasus yang terjadi lebih besar. Hal ini dapat dilihat dari penyebaran kasus HIV-AIDS yang terus mengalami peningkatan dengan jumlah penderitanya mencapai ribuan orang dan bahkan tidak sedikit yang meninggal setiap tahunnya.

Penyebaran HIV-AIDS sangat cepat di dunia, berdasarkan hasil laporan epidemi HIV-AIDS, didapatkan jumlah penderita mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2010 terdapat 34 juta penderita sedangkan angka kematian akibat HIV-AIDS mengalami penurunan di tahun 2010 yaitu sebanyak 1,8 juta. (UNAIDS, 2010). Berdasarkan laporan Ditjen PPM dan PL Departemen Kesehatan RI, sejak kasus AIDS pertama kali ditemukan yaitu pada tahun 1987 Sampai dengan bulan juni tahun 2012 jumlah komulatif penderita HIV-AIDS di Indonesia sangat tinggi, dengan angka mencapai 86.762 penderita HIV + dan 32.103 penderita AIDS dengan jumlah kematian mencapai 5.623 kasus. Jumlah penderita HIV-AIDS di Indonesia berdasarkan jenis kelamin, penderita HIV-AIDS meliputi laki-laki sebanyak 21,707 orang (70,06 %), perempuan sebanyak 8,970 orang (28,95 %), dan yang tidak diketahui sebanyak 304 orang (0,98 %). Sedangkan berdasarkan usia 0-15 tahun sebanyak 976 orang, remaja dari usia 15-19 tahun sebanyak 1134 orang, dan penduduk umur 20-29 tahun sebanyak 13,761 orang, usia 30-39 tahun 9,632 orang (Depkes RI, 2012).

Propinsi Jawa Tengah sendiri saat ini sesuai data secara komulatif dari tahun 1993 sampai dengan 31 desember tahun 2011 menempati urutan ke-6 tertinggi di Indonesia dengan angka kejadian mencapai 2.646 penderita HIV dan 1.992 penderita AIDS dan 568 kasus diantaranya sudah meninggal. Berdasarkan jenis kelamin 38,1 % merupakan wanita dan berdasar umur 0-14 sebanyak 93 orang, 15-19 tahun 18 orang, 20-29 tahun sebanyak 756 orang, usia 30-39 tahun 709 orang.

Di Wilayah kota Semarang jumlah komulatif HIV dari tahun 1996 sampai dengan Agustus 2012 ada 310 orang dengan persentase jenis kelamin laki-laki 70% dan perempuan 30%. Komulatif kasus AIDS tahun 2007 sampai dengan Agustus 2012 berdasar kelompok umur tertinggi pada umur 31-40 tahun yaitu mencapai 34,4 %, umur ≤ 10 tahun ada 2,3%. Berdasarkan jenis pekerjaan 3 peringkat besar adalah wiraswasta, karyawan dan ibu rumah tangga masing-masing 18 %. Berdasarkan factor resiko penularan tertinggi adalah heteroseksual 79%. Dari total kasus HIV dan AIDS yang semula didominasi laki-laki, saat ini telah berubah jumlah perempuan yang menderita HIV-AIDS meningkat. Fenomena feminisasi endemic HIV menempatkan ibu rumah tangga sebagai kelompok pengidap AIDS terbesar (,Ibu Rumah Tangga Peringkat Kedua Idap HIV-AIDS), kondisi ini akan meningkatkan jumlah bayi yang tertular HIV.

Berdasarkan survei Dampak Sosial Ekonomi pada Individu dan Rumah Tangga Dengan HIV di Tujuh Provinsi di Indonesia yang dilakukan oleh program kerjasama KPAN, BPS, JOTHI, UNDP, ILO, UNV, UNAIDS didapatkan hasil bahwa rerata hilangnya pendapatan akibat merawat anggota rumah tangga yang sakit, 55% lebih tinggi pada rumah tangga ODHA dibanding rumah tangga kontrol. 74% Menyatakan adanya tambahan pengeluaran akibat infeksi HIV. Rumah Tangga ODHA mengeluarkan biaya kesehatan 5 kali lebih tinggi dari Rumah Tangga Non-ODHA. Rerata biaya kesehatan ODHA sendiri 3 kali lebih tinggi dari Rumah Tangga Non-ODHA.

Munculnya stigma dan diskriminasi tentunya menjadikan hal yang sangat meresahkan ketika UNAIDS menjalankan kerjanya dalam mengurangi penyebaran virus HIV-AIDS di Indonesia. Dengan melihat dan mengusahakan dukungan untuk ODHA pada berbagai ruang lingkup kehidupan, contohnya UNAIDS bekerjasama dengan organisasi internasional lainnya, yakni Intenational Labour Organization (ILO) untuk membuat lapangan pekerjaan bagi para ODHA yang dapat stigma dan diskriminasi di tempat kerjanya.

Dari data di atas dapat diketahui bahwa ODHA dan keluarga ODHA akan menghadapi beban ganda, baik sosial maupun ekonomi, meskipun mereka masih mendapat obat ARV gratis dari bantuan pemerintah, namun masih banyak pengeluaran yang dibutuhkan oleh ODHA dan keluarganya. Kebijakan nasional penanggulangan HIV dan AIDS menggarisbawahi kebutuhan serangkaian program layanan yang komprehensif dan bermutu yang menjangkau luas masyarakat dengan tujuan mencegah dan mengurangi penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup ODHA dan mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat.

Social Entrepreneurship akhir-akhir ini menjadi makin populer terutama setelah salah satu tokohnya Dr. Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh mendapatkan hadiah Nobel untuk perdamaian tahun 2006. Namun di Indonesia sendiri kegiatan ini masih belum mendapatkan perhatian yang sungguh sungguh dari pemerintah dan para tokoh masyarakat karena memang belum ada keberhasilan yang menonjol secara nasional. Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare). Jika business entrepreneurs mengukur keberhasilan dari kinerja keuangannya (keuntungan ataupun pendapatan) maka social entrepreneur keberhasilannya diukur dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. (Muhammad Yunus, Banker to the Poor, 1999).

International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) ke-9 yang diadakan di Bali, mempunyai tema yaitu “Memberdayakan Manusia, Memperkuat Jejaring”. Sejalan dengan hal tersebut Ibu Negara Ani Yudhoyono yang juga menjadi Duta AIDS Indonesia memberikan dukungan serta masukan terhadap berbagai upaya penanggulangan penularan HIV termasuk program pemberdayaan ekonomi bagi orang yang terpapar HIV&AIDS dan keluarganya akan menjadi bagian dari program penanganan HIV-AIDS secara nasional.

Adanya beban pada ODHA yang tinggi baik beban sosial yaitu diskriminasi dan stigma dan beban ekonomi yaitu pengeluaran biaya kesehatan yang lebih banyak untuk ODHA, maka social entrepreneurship sangat relevan untuk diaplikasikan dalam ODHA dan keluarganya dengna metode dan pendekatan khusus. Social entrepreneurship membantu program UNAIDS degan ILO untuk membuat lapangan pekerjaan bagi ODHA dan intervensi ini sejalan dengan program pemberdayaan nasional di Indonesia. Oleh karena itu, pada kesempatan Residensi Mahasiswa Magister Promosi Kesehatan Minat Kesehatan Reproduksi dan HIV-AIDS Universitas Diponegoro angkatan 2011/2012 menyebar di beberapa LSM di Kota Semarang untuk membantu program pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS. Salah satunya di LSM Graha Mitra, mahasiswa membantu Program KDS ODHA (Kelompok Dukungan Sebaya Orang dengan HIV-AIDS) melalui pelatihan ketrampilan entrepreneurship. Tujuan pelatihan ini adalah membuat ODHA mandiri secara sosial dan ekonomi dengan pengembangan kultur enterpreneurship melalui pemberdayaan, produktifitas dalam diversifikasi usaha yang berkelanjutan sehingga dapat mandiri tanpa bergantung pada bantuan program dari pemerintah atau instansi yang terkait dan dapat memberikan kontribusi pada ODHA yang lain melalui instansi terkait.

Oleh : muthmainnahph88

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: