Terobosan Besar, Terapi Baru Mampu Bunuh Virus HIV yang Tersembunyi

HIV merupakan penyakit yang hingga saat ini belum dapat disembuhkan. Obat antiretroviral therapy (ART) sekalipun hanya dapat mengontrol infeksinya agar virus ini tidak terdeteksi dalam darah dan tidak menular, sementara virusnya bersembunyi di dalam sel imunitas pasien. Bila ART dihentikan, virus bisa kembali menjadi AIDS, sehingga pasien pun harus mengonsumsi obat seumur hidupnya.

Namun, keadaan tampaknya akan segera berubah. Para peneliti dari University of Pittsburgh University of Pittsburgh Graduate School of Public Health melaporkan dalam EBioMedicine bahwa mereka telah berhasil mengembangkan sebuah imunoterapi baru yang tidak hanya mengeluarkan HIV dari persembunyiannya, tetapi juga membunuhnya secara permanen.

Dijelaskan dalam siaran pers yang dirilis Rabu (3/4/2019); virus HIV dalam fase laten (ketika pasien meminum ART) dengan memasukkan dirinya ke dalam DNA sel imun yang disebut sel T pembantu. Hal ini membuat virus HIV menjadi tersembunyi. Namun untuk mengetahui sel T pembantu mana yang menyimpan HIV dan cara mengeluarkannya, para peneliti pun memutar otak. Mereka memutuskan untuk mencari petunjuk dari virus lain yang juga masuk ke fase laten dan menginfeksi 95 persen pasien HIV, yaitu Cytomegalovirus (CMV) yang menyebabkan infeksi mata dan penyakit serius lainnya.

Pada orang yang tidak memiliki HIV, CMV sebetulnya dikontrol oleh sistem imunitas tubuh. Bahkan pada sebagian orang, tubuh mendedikasikan satu di antara lima sel T pembantu untuk menangani virus tersebut. Penulis studi Charles Rinaldo, PhD, professor and chair of Pitt Public Health’s Department of Infectious Diseases and Microbiology, mengatakan, hal itu membuat kita berpikir – mungkin sel-sel yang spesifik melawan CMV juga menjadi bagian besar dari kolam HIV laten. “Jadi kami mendesain imunoterapi untuk tidak hanya menarget HIV, tetapi juga mengaktifkan sel pembantu T yang spesifik-CMV,” ujarnya.

Untuk menemukan sel T yang terinfeksi oleh HIV laten, para peneliti mengumpulkan banyak darah dari hampir dua lusin pasien HIV yang mengonsumsi ART. “(Sel T yang terinfeksi HIV laten) bisa sesedikit satu di antara 10 juta sel, jadi pria-pria ini harus duduk selama empat jam dan terhubung pada mesin yang memproses darah mereka. Pasien-pasien ini juga harus kembali berulang-ulang kali untuk memberi lebih banyak sampel,” ujar penulis pertama studi, Jan Kristoff.

Namun, upaya itu tidak sia-sia. Selain sel T pembantu, tim peneliti juga berhasil mengisolasikan sel imun yang disebut sel dendritik. Sel yang juga merupakan kunci dari imunoterapi kanker ini berfungsi untuk mengarahkan sel imunitas lainnya dalam melawan penyakit. Namun, sel ini belum pernah digunakan untuk menarik virus keluar dari persembunyiannya.

Para peneliti pun merancang “antigen-presenting type 1-polarized, monocyte-derived dendritic cells” yang dapat mencari dan mengaktifkan sel spesifik CMV yang mungkin mengandung HIV laten. Dalam eksperimen menggunakan sel partisipan, MDC1 yang ditambahkan ke sel T pembantu dengan HIV laten mampu membalikkan fase tersebut dan mengeluarkan virus dari persembunyiannya. Setelah itu, MDC1 juga mampu mengarahkan sel T pembunuh untuk mengeliminasi sel yang terinfeksi.

“Hanya dengan MDC1, kami mencapai kick and kill (menarik keluar dan membunuh virus) – ini seperti pisau Swiss Army di dunia imunoterapi. Sepengetahuan kami, ini adalah studi pertama yang memprogram sel dendritik yang menggunakan CMV untuk mengeluarkan dan membunuh (virus),” kata penulis senior Robbie Mailliard, Ph.D. Sejauh ini, MDC1 memang baru diuji di laboratorium menggunakan sel dari pasien dengan HIV dan belum diuji secara klinis. Namun, para peneliti meyakini bahwa temuan ini bisa dikembangkan menjadi vaksin agar orang-orang yang positif HIV tidak perlu meminum obat seumur hidup.

Sumber : Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: