Bukit Duri , Sebuah Kenangan

Saya menikah 11 September 1970. Seminggu setelah menikah pindah ke rumah kontrakan di Gg. Meliwis, Bukit Duri Tanjakan. Rumah ini dicarikan oleh sobat Dr Sjarif yang sudah lebih dahulu mengontrak di daerah itu. Rumahnya cukup nyaman, ada sumur di belakang dan ibu yang mengontrakkan rumah masih tinggal bersama saya di sebuah kamar di samping kiri rumah. Dia beserta seorang anak perempuan kelas 3 SD.

 

Belakangan saya baru tahu dari tetangga bahwa suami ibu yang punya rumah sudah lama tak pulang, wartawan Harian Rakyat dan dikabarkan sudah melarikan diri ke Rusia. Hubungan saya dengan ibu yang punya rumah amat baik, dia menemani istri saya jika saya jaga malam, maklum waktu itu baru tahun pertama asisten penyakit dalam, jaga malamnya sering. Beberapa bulan tinggal di situ ibu yang punya rumah menghilang. Kata istri saya dia pamit siang hari sekitar jam dua sinag dan tak pulang. Kami melapor ke ketua RT namun pak ketua RT juga tak tahu. Anak perempuan yang tinggal bersama dia juga tak tahu ibunya kemana dan kami pengantin baru tiba-tiba harus mendidik anak berusia 10 tahun.

Lama saya mencari tahu kemana sang ibu namun tak berhasil. Saya bahkan pernah melapor ke Dr Supartondo, senior saya di RSCM, karena ibu tersebut tak pulang berbulan-bulan. Saya khawatir beliau mengalami kecelakaan. DR Supartondo berpendapat lain , beliau menduga ibu tersebut di tahan penguasa karena suaminya dicurigai terlibat G30S. Dr Supartondo menganjurkan saya menghubungi salah seorang kenalan beliau di Komkamtib. Dengan surat pengantar Dr Supartondo saya datangi pejabat tersebut, Saya diminta memberikan data-data sang ibu dan semuanya saya berikan. Barulah kemudian saya mendapat kabar ibu tersebut dalam keadaan baik dan tak perlu dicari. Saya lega namun hanya dapat menduga beliau memang ditahan. Tahun 1973 saya mendapat bea siswa ke Bangkok dan istri saya kembali ke rumah orang tuanya di Tanah Abang. Anak yang bersama saya kami kembalikan ke keluarga terdekat. Saya sedih juga melepasnya karena cukup lama bersama kami, sudah terasa anak sendiri. Lama kami tak pernah membicarakan lagi tentang ibu yang hilang dan anak yang ditinggalkannya.

*****

Suatu sore istri saya dikagetkan kedatangan ibu yang punya rumah setelah lima tahun menghilang. Dia datang ke rumah kami di Jatibunder Tanah Abang. Dia bercerita dia ditahan di Bandung. Sekarang sudah bebas dan kembali ke Gg. Meliwis hanya saja separuh rumahnya diserobot orang.
Saya dapat membayangkan kesulitan yang dihadapi ibu tadi dan meski kami tak punya uang banyak kami memberikan sekedar uang untuk dagang. Beliau kemudian berdagang furniture. Beliau membeli di Tanah Abang dan menjualnya secara mencicil ke waraga Bukit Duri. Beliau memang amat ramah dan dekat dengan warga ternyata dagangnya maju dan dia dapat membeli kembali separuh rumahnya yang diserobot orang. Anaknya kembali dan tetap melanjutkan sekolah sampai tamat sastra Perancis di UI. Bukan hanya dapat menebus separuh rumah belaiau juga mampu merenovasi rumahnya yang dapat mempunyai ruang tamu yang lapang. Ruangan tersebut kemudian digunakn untuk pengajian ibu-ibu warga.
Hidup terus berjalan namun kami masih memelihara silaturahim. Meski tak setiap tahun saya menyempatkan diri menengok sang ibu. Anak saya Mita yang sewaktu dokter umum praktek di Bukit Duri juga sering mampir ke rumah pertama kami. Terakhir bulan lalu saya sekeluarga ke Gg. Mliwis menengok ibu yang sekarang sudah berumur 92 tahun. Masih aktif. Masih sering ke pasar namun kegiatan rutin beliau adalah senam manula dan pengajian di rumah beliau. Alhamdulillah…

*****

Pada tanggal 28 September 2016 pemukiman warga Bukit Duri pingggir kali dibongkar, Gg. Meliwis jauh dari kali jadi tak kena gusuran. Namun kenangan saya tentang Bukit Duri masih jelas. Saya mengunjungi korban gusuran seminggu setelah tergusur. Di sana saya bertemu Romo Sandiawan beserta relawannya. Saya tersentuh. Romo yang beragama Katolik peduli pada korban gusuran padahal korban 90 % beragama Islam. Saya jadi ikut membantu korban gusuran berasama Prof. Zubairi, Prof. Siti Setiati dll. Saya bukan orang yang suka politik namun kenangan tentang Bukit Duri menjadikan ikatan batin saya dengan korban gusuran yang sekarang sebagian berdiam di dua rumah penampungan. Setiap rumah menampung sekitar 20 keluarga.

Bukit Duri mengajarkan kepada saya hubungan antar manusia yang berbeda ideologi. Saya HMI ibu yang punya rumah saya Gerwani. Bukit Duri mengajarkan kepada saya saling menolong meski beda agama. Bukit Duri menjadi kenangan manis saya karena disitulah pertama saya membina rumah tangga.

(Oleh : Prof. DR. Dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI)

Bersama Ir. Sari (Alumni ITB) master Urban Planning (jilbab merah) salah seorang relawan Ciliwung Merdeka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *