Pengorbanan Ibu Membuat Aku Bangkit…

Dalam keadaaan sakit, aku memaksakan diri untuk pergi ke rumah sakit Cilegon, Banten. Di sana aku melakukan tes ulang HIV dan hasilnya positif. Kondisi tubuhku lemah, untuk berdiri saja aku tidak mampu. Pada saat itulah aku melihat perjuangan ibu yang begitu besar, perhatian dan dukungannya membuat aku yakin bahwa aku mampu bangkit dan optimis menghadapi beratnya kehidupan.

******

Terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, dua kakakku adalah laki-laki. Ketika masih kecil kami sangat dekat, mungkin karena jarak umur yang tidak terlalu jauh. Semakin besar waktu kebersamaam kami semakin sedikit, dua kakakku sibuk dengan urusannya, hingga akhirnya mereka berumah tangga. Bersyukur aku termasuk anak yang aktif di sekolah, jadi aku mempunyai banyak taman dan tidak kesepian.

Setelah lulus SMP di Cilegon aku meneruskan sekolah ke Bandung, di sana aku hidup mandiri dan jauh dari keluarga. Tahun pertama di SMA aku telah berpacaran dengan Dicky, teman SMP ku, ia sekolah di Jakarta. Karena kami jarang sekali bertemu, ketika bertemu gaya pacaran kami kelewat batas, apalagi di Bandung tidak ada yang mengawasiku. Kelas dua SMA aku sudah tidak perawan lagi, bahkan mengkonsumsi alkohol dan ganja telah menjadi bagian hidupku.

Setelah lulus tahun 1996 aku meneruskan kuliah di Jakarta, lagi-lagi aku hidup sendiri. Walaupun aku dapat mempertahankan kuliah dengan baik, tetapi kebiasaan minum alkohol tidak bisa dihentikan dengan mudah, malah aku jadi sering keluar masuk diskotik. Awalnya memang cuma minum-minum dan merokok, lama kelamaan aku mencoba ekstasi, shabu-shabu dan akhirnya putaw. Setiap hari kebutuhan akan putaw semakin bertambah, aku tidak sanggup lagi untuk membelinya, di tengah kesulitan itu aku berkenalan dengan Ade, senior di kampus yang ternyata bandar dan pemakai putaw. Aku menjalin cinta dengannya, Dicky yang telah lama mengisi hatiku, dengan mudahnya ku tinggalkan.

 

Keluar masuk sel
Agar biaya hidupku tidak terlalu banyak, kuputuskan untuk tinggal bersama Ade. Hidup kami bagaikan suami istri saja, empat tahun aku menjalani hari-hariku bersamanya. Selama itu pula kami seringkali berurusan dengan polisi, bahkan kami sempat masuk sel, tetapi tidak pernah tertangkap bersamaan. Aku telah dua kali masuk sel, yang pertama hanya beberapa hari karena polisi tidak punya barang bukti. Sedangkan yang kedua karena ada barang bukti, aku sempat mendekam di Rutan Pondok Bambu selama lima bulan.

Setelah keluar dari sel, entah kenapa aku sepertinya tidak kapok untuk terus menggunakan narkoba, meskipun beberapa temanku sudah banyak yang meninggal. Kebiasaanku mengkonsumsi narkoba dan serumah dengan Ade telah diketahui oleh kakakku. Dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, karena kakakku juga pemakai.

Di tahun 2001 aku dan Ade lulus kuliah, aku kembali ke Cilegon dan bekerja di sana, sedangkan Ade bekerja di Batam. Meskipun tidak lagi satu atap, narkoba tetap menjadi gaya hidup kami. Hingga suatu hari di tahun 2002, Ade jatuh sakit dan harus dirawat di Jakarta. Selama perawatan Ade melakukan serangkaian test darah, salah satunya test HIV dan AIDS, dokter mendiagnosa bahwa Ade positif terinfeksi HIV. Mendengar kabar tersebut aku merasa bagai ditelan bumi, kosong !!!

Oleh dokter yang menangani Ade, aku disarankan untuk melakukan test darah pula, waktu itu hasilnya masih negatif. Pada tahun 2003 kondisi fisikku mulai melemah, aku cepat sekali merasa lelah dan gampang terserang penyakit seperti demam, batuk dan TBC. Aku sadar pasti virus itu telah menyerang tubuhku. Semakin aku yakin akan kebenarannya, semakin aku takut untuk melakukan tes ulang.

Kondisi kesehatanku terus menurun, akhir Desember 2004 aku benar-benar tidak mampu bangun dari tempat tidur, aku terbaring di sana selama dua minggu.

 

Dirawat ibu
Sebenarnya aku ingin sekali ke dokter, tetapi aku takut menerima kenyataan itu. Sejak aku sakit, ibuku lah yang merawat dan memberikan kasih sayang yang tulus kepadaku, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya aku alami. Tuhan, maafkan aku telah mengecewakannya.

Januari 2005, aku memaksakan diri ke rumah sakit Cilegon, Banten untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Tes ulang HIV aku lakukan dan hasilnya positif. Tahu bahwa aku adalah Odha, keluarga shock berat, demi melihat kondisiku yang sangat lemah keluarga tidak bisa berkata apa-apa. Saat dirawat baru aku melihat perjuangan ibu yang begitu besar terhadapku. Ia selalu memberikan perhatian serta dukungan agar aku tidak mudah menyerah. Menurutnya, segala permasalahan yang terjadi pasti ada hikmahnya, tinggal bagaimana kita menyingkapi ujian yang Allah berikan.

Dengan semangat dan perhatian yang diberikan ibu membuat aku mampu bertahan hidup, bahkan sembuh dari rasa sakitnya. Tidak dipungkiri masih ada diskriminasi yang aku terima dari keluarga, misalnya alat makan dan kamar mandi yang dipisahkan dengan yang lain. Namun hal tersebut tidak membuat aku kecewa, bahkan aku sangat bersyukur, ibu masih mengijinkan aku tinggal bersamanya.

Tiga bulan kemudian setelah aku rutin minum ARV, kondisiku mulai stabil. Bahkan aku dapat bertemu dengan Ade, kondisinya yang terus menerus sakit membuat ia harus dirawat. Selama dua minggu aku menemaninya di rumah sakit. Tanggal 20 Mei 2005, Ade menghembuskan nafas terakhir, saat itu ingin rasanya aku pergi bersamanya. Namun aku sadar, itu pikiran orang bodoh.

 

Aktif di KDS CS Plus
Aku tidak boleh larut dalam kesedihan, tidak ada gunanya. Aku kini semakin giat mencari informasi tentang HIV dan AIDS. Saat ini aku aktif di Kelompok Dampingan Sebaya Cilegon–Serang Plus (KDS CS Plus), tugasnya adalah membantu teman-teman yang membutuhkan dukungan dan semangat, aku termasuk pelopor terbentuknya KDS CS Plus. Dengan tenaga dan waktu yang aku miliki saat ini, aku mencari pengalaman dan pengetahuan tentang HIV dan AIDS dari berbagai LSM, baik di Jakarta maupun Tangerang. Harapanku sekarang dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, dengan begitu hidupku lebih bermakna.

(Seperti yang diceritakan Diana kepada Tim PMTCT, Fitri dan Mayanti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *