Belajar Ketrampilan Hidup

Pagi hari saya biasa menonton televisi, biasanya mengikuti berita pagi. Pagi itu saya menonton ruang agama Islam yang meliput kegiatan Ir.Buchari Nasution (kakak Ir. Muslimin Nasution) di suatu pesantren di Bekasi. Saya tertarik penjelasan beliau tentang ketrampilan hidup. Menurut beliau semua orang memerlukan ketrampilan hidup. Berlainan dengan pengertian selama ini, menurut beliau ketrampilan hidup bukanlah ketrampilan vokasional saja namun ketrampilan yang memungkinkan seseorang termotivasi untuk maju. Beliau membagi ketrampilan menjadi ketrampilan hidup dan ketrampilan teknikal. Ketrampilan hidup mencakup visi, ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan mengelola uang, waktu dan ruang, ketrampilan belajar, melihat peluang dan memanfaatkannya serta ketrampilan bekerja dalam tim.

Pesantren yang beliau dampingi di Bekasi telah melatih ketrampilan hidup dan santrinya memperlihatkan motivasi yang kuat untuk maju dan mencapai cita-cita mereka. Saya kemudian memperoleh nomer telpon Ir. Buchari Nasutian dan menelpon beliau untuk menyatakan minat belajar ketrampilan hidup. Waktu itu sekitar tahun 1982, saya tinggal di Jl. Cumi Cumi No. 25 Rawamangun. Ternyata Ir. Buchari Nasution tinggal tak jauh dari rumah saya dekat lapangan golf Rawamangun. Beliau menyambut saya dengan ramah dan nampak gembira saya berminat mendalami ketrampilan hidup. Saya waktu itu berumur 37 tahun namun beliau menyatakan kita dapat memulai melatih diri dalam ketrampilan hidup pada
umur berapa pun. Sudah tentu akan lebih bermanfaat jika ketrampilan hidup dilatih sejak dini, yaitu pada usia anak-anak. Saya dibekali buku-buku ketrampilan hidup yang beliau perolah ketika berkunjung ke Amerika Serikat dan ke Inggris. Di negara-negara tersebut ketrampilan
hidup sudah mulai dilatih sejak kecil di keluarga kemudian di sekolah dasar dan tetap dilatih pada jenjang yang berikutnya. Meski komponen ketrampilan hidup sama tetapi penerapannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan usia. Saya merasakan, lebih memahami
kemampuan diri saya, kelemahan dan kelebihan. Saya waktu itu masih merupakan orang yang pendiam meski sudah lebih banyak bergaul dibandingkan waktu kecil. Sewaktu kecil boleh dikatakan saya hanya menjawab jika ditanya selebihnya diam. Saya pemalu, jika bertemu
dengan seseorang, saya kalau dapat selalu menghindar. Jarang sekali saya mencari seseorang dan bercengkrama dengan orang tersebut. Silaturahiim saya terbatas. Saya baru membuka pergaulan sejak mahasiswa. Saya mulai mengikuti organisasi termasuk organisasi mahasiswa.

Saya menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam, saya mengikuti pelatihan yang diadakan organisasi HMI termasuk pelatihan berbicara di depan umum. Pada waktu mahahsiswa tingkat tiga saya terpilih menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam Sub Rayon Tanah Abang. Kenapa saya yang dipilih ? Karena saya ikut mendirikan sub rayon tersebut dan mungkin juga karena saya mahasiswa kedokteran. Saya dipilih bukan karena figur saya yang menonjol. Setiap harus berpidato badan saya rasanya dingin dan tangan menjadi gemetar. Isi pidato amat normatif mungkin yang mendengar tak menangkap apa yang saya maksudkan dalam pidato tersebut.

Menjadi pegurus HMI meski hanya pengurus ranting kecil di Tanah Abang ternyata tak mudah. Kami mendirikan papan nama yang mudah terlihat. Tak sampai seminggu, saat saya sedang membantu ayah berdagang di Tanah Abang didatangi petugas kepolisian diminta
menghadap ke kantor polisi setempat. Saya tak memberi tahu ayah saya mengenai panggilan tersebut karena takut beliau khawatir. Saya memberi tahu Sdr Marhainis, senior saya di HMI dan juga mahasiswa Fakultas Hukum UI. Saya didampingi Marhainis ke kantor polisi. Di sana
saya harus menjawab berbagai pertanyaan.Mulai dari pertanyaan menyangkut diri saya, keluarga saya, sampai alasan mendirikan HMI Tanah Abang. Juga ditanyakan dana yang diperoleh dari mana. Saya juga ditanya apakah punya hubungan dengan organisasi lain termasuk kedutaan asing. Tujuan kami mendirikan HMI Tanah Abang adalah untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Remaja perlu akrab dengan masyarakat dan memahami
kehidupan masyarakat. Sedapat-dapatnya juga membantu masyarakat yang patut ditolong.

Rupanya kehadiran HMI Tanah Abang lebih dikaitkan dengan politik dan pada waktu itu sekitar tahun 1965 Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang tumbuh pesat dan mempunyai pengaruh kuat di masyarakat. Kehadiran HMI mendapat pengawasan ketat dari fihak kepolisian. Setiap
rapat yang akan diadakan harus memberi tahu ke kepolisian dan biasanya fihak kepolisian akan hadir dalam rapat tersebut. Lucu juga mengingat ketika kami rapat persiapan hari raya Qurban, polisi hadir dan mencatat apa yang kami bicarakan.

Ketrampilan hidup tak hanya bermanfaat dalam pengembangan diri saya namun juga saya sebarkan kepada kelompok lain baik teman sebaya maupun remaja. Pada tahun 1989 berdiri Yayasan Pelita Ilmu, saya juga memperkenalkan ketrampilan hidup pada teman-teman YPI bahkan juga menyusun kurikulum pelatihan ketrampilan hidup untuk remaja. YPI pernah secara sungguh-sungguh melaksanakan dua angkatan pelatihan ketrampilan hidup, masingmasing pelatihan memakan waktu sekitar sebulan. Pelatihan ini lebih banyak dilakukan di masyarakat. Pagi peserta berkumpul sampai pukul sepuluh, membahas ketrampilanketrampilan yang mereka perlukan dan setelah itu terjun ke masyarakat. Mereka mengamati dan mewawancarai anggota masyarakat yang ditemuai kemudian membuat laporan. Banyak temuan yang mereka dapatkan misalnya supir taksi yang mereka temui sebagaian besar bukan dari Jakarta. Mereka pada umumnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kenapa orang yang
berasal dari luar Jakarta menjad supir taksi. Padahal untuk menjadi supir taksi perlu memahami liku-liku jalan di Jakarta. Kenapa orang Jakarta tak berminat jadi supir taksi?

 

Mereka juga menemukan penghasilan penjual minuman dan makanan kecil dekat pasar Tebet lebih besar dari gaji pegawai negeri. Temuan ini mereka diskusikan dari perspektif ke ketrampilan hidup. Saya tak dapat hadir setiap hari dalam melaksanakan pelatihan ini, banyak
teman-teman yang membantu. Di samping teman teman dari Yayasan Pelita Ilmu kami juga mengundang teman teman lain. Salah seorang yang saya ingat antusias membantu adalah teman kami Chris Green, beliau datang mengajar ketrampilan bahasa Inggris lisan. Sudah tentu waktu satu bulan tak mencukupi untuk menjadikan remaja fasih berbaasa Inggris namun mencukupi untuk menjadikan berani berkomunikasi dalam bahasa Inggris jika diperlukan.

Selain kedua pelatihan ini kami masih mengadakan berbagai pelatihan ketrampilan hidup tapi dengan waktu yang lebih pendek. Pada setiap pelatihan untuk remaja diperkenalkan konsep ketrampilan hidup. Diharapkan mereka dapat melatih diri untuk pengembangan diri
masing masing. Dua orang alumni ketrampilan hidup yang masih aktif di YPI adalah Adi dan Tika. Adi sekarang mengurus lahan YPI di Parung yang dijadikan kegiatan outbound. Sedangkan Tika masih aktif sebagai konselor HIV. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang alumni
lain. Saya biasanya tak mengenal mereka lagi. Mereka telah berubah dan berkembang. Alhamdulillah.

Pengenalan ketrampilan hidup juga dilakukan kepada guru SD, SMP dan SMU. Sebenarnya di sekolah ketrampilan hiudp sudah dilatihkan meski tak diberi label ketrampilan hidup. Barulah kemudian Kementerian Pendidikan mengenalkan konsep kecakapan hidup.
Nampaknya kecakapan hidup merupakan pelatihan ketrampilan hidup di sekolah meski kalau saya perhatikan kegiatannya lebih banyak ketrampilan vokasional. Penekanan pada pengembangan diri sebaiknya lebih dikemukakan lagi.

Pada hari ahad pagi kami punya kelompok yang membahas kehidupan nyata untuk
mahasiswa kedokteran dan dokter muda. Mereka lebih cepat dikenalkan dengan isu-isu nyata
di luar kampus seperti penempatan dokter, pendidikan spesialis, penghasilan dokter serta
berbagai pengembangan karier dokter seperti karier struktural di Kementerian Kesehatan.
Kami mengundang berbagai nara sumber untuk menceritakan pengalaman mereka seperti
mantan menteri kesehatan, peneliti senior, pengusaha, direktur rumah sakit sampai dokter
yang pernah bekerja di daerah terpencil. Semua ini untuk memperluas wasasan mahasiswa
dan dokter muda serta menyiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan nyata di
masyarakat. Pada diskusi-diskusi juga disisipkan mengenai ketrampilan hidup, nilai-nilai serta
pentingnya membangun jaringan.
Mimpi saya ke depan selain mimpi untuk diri sendiri saya punya agenda yang saya
harapkan dapat tercapai di masa depan. Sudah tentu tak mungkin bagi saya mencapainya
sendiri, saya membutuhkan kerjasama dan bantuan berbagai fihak. Mimpi saya tersebut
adalah kursus bahasa cuma cuma secara nasional. Setahu saya swedia menyediakan
pelatiahan bahasa asing gratis untuk warganya. Dengan demikian warga Swedia mampu
berbahasa asing selain bahasa nasionalnya. Kemampuan tersebut akan berpengaruh besar
dalam pengembangan SDM dan kesempatan kerja. Bayangkan jika semua supir taksi dan
penjaga toko kita mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Keadaan tersebut akan amat
mendorong kegiatan bisnis dan pariwisata. Saya bercita-cita mengajak mahasiswa untuk
melatih supir dan penjaga toko berkomunikasi dalam bahsa Inggris. Jika kegiatan ini menjadi
kegiatan nasional yang didukung pemerintah hasilnya tentu akan nyata. Selain itu saya juga
mengimpikan adanya peluang untuk pengusaha pemula. Selama ini jika orang ingin berusaha
dia harus mengusahakan semuanya sendiri. Statistik menunjukkan bahwa sekiatr 90% mereka
yang baru mulai berusaha akan gagal hanya sekitar 10% yang langsung berhasil. Ada bantuan
modal atau pelatihan dari pemerintah namun terbatas. Lagi pula salah satu yang diperlukan
mereka adalah peluang usaha di samping modal dan pelatihan. Jadi seharusnya ada satu
badan yang melayani mereka yangakan memulai usaha baru. Menunjukkan berbagai bidang
yang dapat dipilih sesuai keinginan. Jika berminat mengkaitkannya dengan mereka yang sudah
berhasil dengan pemagangan, dll barulah kemudian berusaha sendiri. Selain itu di sediakan
peluang misalnya tempat usaha, dll. Dengan demikian proses belajar dipercepat dan risiko
gagal dapat dikurangi. Cita-cita saya yang lain adalah meningkatkan kebersihan dan
kenyamanan kehidupan santri.
Ribuan pesantren di seluruh Indonesia merupakan penyemaian sumber daya manusia
yang amat penting. Mereka tidak saja memelihara kehidupan bergam di dalam masyarakat
tapi juga mendidik santri menjadi manusia yang mandiri dan mampu menolong orang lain.
Namun kesederahanaan kehidupan di pesantren tetap harus disertai dengan tingkat
kebersihan yang baik sehingga kesehatan santri dapat terjamin, program air bersih, jamban
yang bersih serta gizi yang sehat perlu dikembangkan. Tanpa mengurangi kegiatan beribadah,
waktu tidur santri juga perlu dipertimbangkan. Jika banyak pesantren yang telah berhasil
mengembangkan kemampuan santri dalam berbahasa Arab dan bahkan juga bahasa Inggris
saya percaya pesantren tersebut dengan dukungan berbagai fihak dapat menjadikan diri
mereka menjadi tempat yang bersih, sehat dan nyaman dengan tetap memelihara sifat
sederhana, sehat, bersih dan nyaman tak hanya ada dalam kemewahaan

Prof Samsuridjal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *