Pengobatan ARV kendalikan penyebaran HIV/AIDS

Dirjen Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama. (ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) – Berdasarkan penelitian, pengidap HIV positif yang mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) memiliki kemungkinan sangat kecil menularkan HIV dibanding mereka yang tidak diobati.

ARV tidak hanya menguntungkan bagi orang yang sudah diobati tapi juga menurunkan beban epidemi pada masyarakat dengan memutus penularan HIV secara tepat, kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama. SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE pada acara Pertemuan Monitoring dan Evaluasi RS Rujukan Antiretroviral (ARV) Regional Barat belum lama ini di Jakarta.

Pada kesempatan itu pula Dirjen P2PL meminta agar strategi implementasi lebih ditingkatkan untuk cakupan tes HIV dan inisiasi ARV sedini mungkin dan cara melakukan normalisasi tes HIV pada masyarakat, agar tes HIV sejajar dengan tes laboratorium lainnya dan dapat mengurangi stigma dan diskriminasi.

Dalam upaya perluasan tes HIV telah ditawarkan dan dilakukan pada semua orang dengan penyakit IMS, Ibu hamil, pasangan dari HIV positif, penderita koinfeksi TB-HIV, penderita hepatitis B dan C. Diharapkan pada tahun 2014 bisa mencapai 4 juta orang yang melakukan tes HIV.

Untuk meningkatkan cakupan terapi ARV dan retensi, penyediaan ARV memberikan kemudahan dan kenyamanan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Menurut Tjandra, mulai tahun 2013 akan tersedia bentuk kombinasi tetap yaitu Triple Fixed Dose Combination (FDC) yang terdiri atas kombinasi Tenofovir, Emtricitabine, dan Evafirens. Penggunaan Triple FDC memiliki 3 keunggulan yaitu kenyamanan penggunaan, rendahnya efek samping dan pencegahan terjadinya resistensi.

Kementerian Kesehatan mendukung adanya ARV melalui pengelolaan logistik yang baik. Saat ini masih ada laporan bahwa ARV jenis tertentu mengalami stock out, oleh karena itu, Dirjen P2PL mengimbau petugas agar dapat saling memonitor ketersediaan ARV memperhatikan secara cermat sisa obat yang tersedia termasuk memperhitungkan siklus pengiriman, ketersediaan tenaga, dan pembiayaan penyediaan berbagai sumber daya.

Hal ini akan menjadi sangat penting terlebih pada saat ARV akan didesentralisasikan ke pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota sesuai kebijakan Kemkes terkait one gate policy untuk pengelolaan obat. Hal itu membuktikan bahwa Indonesia dapat mewujudkan Getting to Three Zeros, jelas Prof Thandra.

HIV/AIDS merupakan tantangan terbesar dalam mencapai target MDGs (Millenium Development Goals). Penularan infeksi baru HIV masih terjadi dan pengidap AIDS masih ditemukan, dalam hal ini upaya pencegahan dan deteksi dini HIV harus terus digalakkan.

Sampai Desember 2012 secara kumulatif penderita pengidap HIV berjumlah 98.390 orang dan AIDS tercatat berjumlah 42.887 orang.

Data penularan HIV sampai Desember 2012 menunjukkan penularan melalui hubungan heterosex yang berisiko sebesar 58,7%, penggunaan napza suntik 17,5% dan penularan masa perinatal 2,7%.

Dari hasil modeling tahun 2012 diketahui tren peningkatan infeksi baru HIV kedepan terjadi pada 3 kelompok utama yaitu lelaki seks dengan lelaki (LSL), kalangan ibu rumah tangga dan lelaki beresiko tinggi (lelaki pembeli seks), sedangkan peningkatan infeksi baru pada populasi kunci seperti (Wanita Pekerja Seksual, Penasun, dan trans gender) tidak terjadi peningkatan yang terlalu signifikan.

Tantangan tersebut menuntut respon cepat untuk dapat segera melakukan upaya agar dapat dilakukan dari hulu sampai hilir agar epidemi ini tidak berkembang kearah yang tidak baik.

Upaya di hulu dapat dilakukan dengan memberi pembekalan yang cukup kepada bangsa mengenai pendidikan moral, pendidikan agama, pendidikan mengenai kesehatan reproduksi serta pengetahuan bahaya penggunaan Napza, karena hal-hal inilah yang menjadi pintu masuk dari pertumbuhan epidemi HIV/AIDS serta pencegahan pada populasi yang masih melakukan perilaku berisiko.

Upaya lainnya antara lain dengan memperhatikan jalur transmisi seperti transmisi seksual, transmisi melalui jarum suntik pada pengguna napza, dan transmisi melalui penularan dari Ibu ke anak yang dikandung.

Pencegahan Melalui Transmisi Seksual (PMTS) dilakukan dengan penggunaan kondom secara konsisten serta pengobatan penyakit infeksi menular seksual (IMS). Guna mengurangi risiko transmisi penularan melalui jarum suntik dilakukan dengan program LASS (Layanan Alat Suntik Steril) dan terapi rumatan metadon.

Tahun 2012 diluncurkan kegiatan Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) yaitu layanan pada semua fasilitas layanan kesehatan, sampai pada fasilitas layanan kesehatan primer, memberikan layanan HIV-AIDS sesuai dengan mekanisme rujukan, sehingga dapat terjangkau masyarakat dengan mudah.

Keterlibatan komunitas, kelompok penggagas, dan Kelompok Dukungan Sebaya (KBS) didalam layanan kesehatan merupakan suatu elemen yang sangat penting. Selain itu, peran Komisi Penanggulangan AIDS merupakan motor utama penggerak dalam hubungan antara layanan dan komunitas serta sektor lain yang terkait yang diharapkan dapat semakin meningkatkan cakupan LKB.

( Suryanto | ANTARA )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *