Merawat Pecandu

Pecandu narkoba dimasukkan ke dalam penderita penyakit otak. Oleh karena itu, tidak banyak yang dapat dilakukan orang awam untuk memulihkannya. Tetapi, banyak yang dapat dilakukan setelah pulih agar tidak kambuh.

Kecanduan narkoba dan alkohol bukan pilihan. Pengguna narkoba pada mulanya memiliki tujuan untuk sekadar mencoba-coba atau bersenang-senang dan dengan sendirinya mengira bahwa dia akan dapat keluar dari kebiasaan baru tersebut setiap kali diinginkannya. Awalnya seseorang akan merasa nikmat, lama kelamaan, rasa nikmat yang sama saja susah dicapai, hal tersebut boleh jadi karena tubuh kita sudah menyesuaikan diri atau zat kimiawi dalam otak seseorang butuh lebih banyak stimulasi untuk dapat memproduksi reaksi ‘nikmat’ tersebut.

Namun demikian, setelah berulang-ulang menggunakannya maka tubuhnya, khususnya otaknya, akan mengambil alih kendali. Narkoba bekerja di dalam otak seseorang dengan cara mengubah susunan kimiawinya atau memberi stimulasi yang berlebihan kepada otak dan memberi sinyal palsu kepada reseptor otak untuk memproduksi zat kimiawi yang dibutuhkan. Dengan demikian, maka sekarang pecandu narkoba sudah tidak dapat lagi memiliki cara berpikir seperti ketika dia masih ‘waras’, sebelum menggunakan ramuan tersebut. Itulah sebabnya untuk mengendalikannya atau memulihkan pecandu tidak dapat dilakukan sendiri. Kemauan yang betapa pun kerasnya tidak akan menyembuhkan, justru mungkin akan memperparahnya dan makin terjerumus lebih dalam.

Karena kimiawi dan (dalam beberapa kasus) sel otak yang mengambil alih komando atas tubuhnya telah berubah atau rusak, maka seluruh keinginannya, bahkan wataknya, cara mengambil keputusan, penilaian, maupun kebiasaannya telah berubah sama sekali, dia bukan si ‘anu’ yang pernah Anda kenal lagi. Omongan atau nasihat atau wejangan betapa efektifnya tidak akan menolongnya. Sekalipun dia dikurung dalam ‘taman eden’, seorang pecandu tidak akan dapat menikmatinya, justru kemungkinan akan mengakhiri nyawanya atau membahayakan keselamatannya sendiri. Bagi seorang pecandu, tingkat stress yang dideritanya sudah yang paling tinggi. Membunuh diri adalah seperti bersin baginya.

Di zaman sekarang, pecandu sudah dimasukkan ke dalam penyakit otak (drugabuse.gov), sehingga harus diperlakukan seperti penyakit. Hanya tenaga ahli yang sudah berpengalaman yang berhak dan memiliki kemampuan untuk merawatnya. Orang awam, pendeta, atau imam tidak memiliki kemampuan tersebut, betapa pun mereka mengiklankan diri.

Sama seperti penyakit jantung misalnya, masakan kita bawa penderita jantung kepada seorang imam? Mungkin di zaman perunggu dulu seseorang yang menderita penyakit kusta dibawa kepada seorang imam, tetapi di zaman sekarang, penderita kusta dibawa kepada dokter spesialis penyakit kulit! Sama seperti seorang yang menderita penyakit jantung asalnya adalah kebiasaan hidup dan makan yang salah yang menunjang faktor lain seperti gen pembawaan lahir. Demikian pula dengan kecanduan, dimulai dengan kebiasaan yang salah, tetapi setelah berkembang menjadi penyakit, maka tidak lagi dapat disembuhkan hanya dengan sekadar mengubah kebiasaan yang salah tersebut.

 

Perawatan yang dilakukan oleh pusat rehabilitasi antara lain adalah sebagai berikut:

Perawatan akan dirancang khusus untuk setiap pasien secara unik sesuai dengan kecanduan narkoba atau obat-obatan yang diresepkan dokter dan masalah psikologis dan sosial yang menyertainya;

Beberapa pusat rehabilitasi mengizinkan perawatan jalan untuk kasus tertentu, sehingga untuk remaja masih tetap dapat bersekolah, meskipun mungkin dibatasi oleh dokternya; tetapi, ada yang harus tinggal di rumah sakit;

Kalau seseorang itu masih sedang menggunakan narkoba waktu masuk ke dalam pusat rehabilitasi, maka dokter akan mengeluarkan ‘racun’ dari dalam tubuh seseorang itu lebih dahulu atau istilahnya adalah detoksifikasi, yang terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut:

Evaluasi: Dokter akan memeriksa jenis ‘kontaminasi’ yang ada dalam darah pasien, kemudian menentukan obat-obatan apa yang perlu untuk menetralisasi ‘racun’ tersebut;

Stabilisasi: Dokter akan memasukan obat-obatan bila perlu ke dalam pembuluh darahnya. Proses tersebut dapat menyakitkan, oleh karena itu pasien ditidurkan.

Kedua proses tersebut di atas hanya untuk kecanduan fisik atas narkoba, seperti ‘withdrawal’ yang sering dialami pecandu yang asupan narkobanya dihentikan dan mempersiapkan untuk perawatan lebih lanjut. Sebagian besar adalah mengatasi ketergantungannya secara psikologis.
Semoga penjelasan singkat tersebut menolong kita memahami bahwa menyembuhkan seseorang dari kecanduan narkoba tidak dapat dilakukan sendiri. Namun demikian, untuk menjaga seseorang yang kita kasihi tersebut yang sudah sembuh agar tidak kambuh dari kecanduannya, maka banyak yang dapat kita lakukan:

Mengubah lingkungan yang akan mengingatkannya kepada kecanduannya tersebut, seperti misalnya, mengubah warna cat tembok kamarnya, menurunkan poster-poster dan gambar-gambar yang akan mengingatkannya pada kenangan lama;

Jangan pernah mengungkit-ungkit atau menyalahkannya atas kecanduannya bila berada dalam perbedaan pendapat atau perselisihan;
Berikan dukungan untuk perbuatan yang menjauhkan diri dari kemungkinan kambuh kembali;

Doronglah selalu untuk memiliki kelompok pendukung (supporting group) sesama pecandu yang sudah sembuh, untuk meningkatkan kemampuannya mengatasi keinginan kambuh;

Ciptakan komunikasi terbuka dalam keluarga, sehingga dia tidak segan-segan mengutarakan perasaan kesepian, marah, malu, bersalah dan stres lainnya.

Menghubungi seseorang (bekas pecandu yang sudah sembuh), atau pusat rehabilitasi bila keinginan kuat untuk kambuh timbul. Mungkin orang itu memiliki ide untuk mengatasinya, atau sekadar ngerumpi dapat mengalihkan ketagihannya atas keinginan yang kuat menggunakan narkoba kembali;

Yang perlu diingat adalah segala sesuatu di luar tubuh seseorang adalah di luar kendali kita. Kegagalan mungkin terjadi. Seseorang yang kita kasihi mungkin kambuh kembali. Jangan salahkan diri. Evaluasi kembali langkah-langkah yang sudah dikerjakan, perbaikilah langkah-langkah itu. Terimalah kenyataan akan ‘kegagalan’ Anda kemudian rancanglah langkah-langkah baru. Dengan pendekatan baru, kemungkinan Anda akan berhasil.

(Effian Kadarusman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *